Jalan-jalan

Gowes Seru bersama KBC, Dikejar Anjing hingga Kram Paha

Oleh: Khairudin M. Ali

 

Anggota KBC saat melintasi Risa-Pandai

Anggota KBC saat melintasi Risa-Pandai

MINGGU pagi  11 Oktober 2015 saya bersama kawan-kawan KBC (Konstanta Bima Club) gowes dari Kota Bima menuju Woha. Jalur yang ditempuh, ternyata sudah pernah dilalui oleh Ketua KBC, dokter Irfan. Mantan Ketua PKS Kabupaten Bima ini ternyata sudah menjajal banyak rute panjang, hanya sendirian. Kali ini, kami diajaknya serta.

Sekitar pukul 06.05 Wita, 10 orang sudah berkumpul di Paruga Na’e Convention Hall. Selain Ketua KBC, dr Irfan, ikut hadir di antaranya Pak Khairul F. Nawawi Kacab BNI ’46 Bima, drg Ihsan Direktur RSUD Bima, H Rasyid Harman, M. Syaiful Bahri, Tulis Tyanto, Muhammad Jafar, Pak Fauzi, juga beberapa kawan lain. Jalur yang dipilih kali ini, Kota Bima-Tente-Waduwani-Pucuke-Keli-Risa-Pandai-Talabiu-Kota Bima. Jaraknya yang ditempuh sekitar 66 kilometer. Sebagian besar adalah aspal hotmix, kecuali sekitar 3 kilometer di barat Risa menuju dusun Kumbe dan dusun Mbaju hingga Desa Pandai. Bagi saya, ini kali pertama bisa ikut gowes bareng dengan kawan-kawan KBC keluar kota.

Sebelumnya saya hanya ikut jalur ke Tolower di Nungga dan balik kota. Jalur ini sih tidak seberapa, karena memang budah dijangkau. Tidak sarapan pun tidak terlalu menjadi masalah. Tetapi jalur kedua menuju Woha ini memiliki tingkat tantangan yang tidak ringan, apalagi buat pemula. Adalah dr Irfan yang mengusulkan rete ini. Rupanya Ketua KBC ini sudah menjajakinya sendirian. Luar biasa menurut saya, karena jarak tempunya lumayan jauh. Kalau jalan ke Dompu, itu setara dengan Kota Bima hingga Doro Tangga. Artinya kurang 4 kilometer lagi, sudah sama dengan gowes Kota Bima-Kota Dompu. ‘’Ini kita anggap sebagai sesei latihan, karena kita rencakan akan gowes ke pantai Lakey di Dompu,’’ kata dr Irfan.

Irfan banyak bercerita tentang jalur ini. Termasuk adanya anjing galak di sebuah kebun dekat pertigaan so Mbaju dan Pandai. Kami tidak berpikir terlalu ekstrim soal ini, karena biasanya anjing kalau sudah dilempari batu-batu kecil akan lari. Tetapi Irfan mengatakan anjingnya sangat galak. Ini menjadi salah satu topik selama kami gowes pada pagi Minggu itu.

Saya sendiri baru kali ini pula bersepeda di jalur ini, walau ini menuju kampung halaman nenek saya di Keli dan Risa. Semasa kecil, saya sering kali diajak almarhum ayah untuk berlibur di desa yang asri ini. Dahulu masih lumayan hijau, ada air kali tempa saya biasanya berendam dan berenang di ujung selata Desa Risa. Pagi-pagi saya sudah diajak oleh paman-paman di sini untuk ikutan ke sawah memetik buah tomat dan timun untuk dijual. Malamnya kami begadang menjaga tanaman sambil rebus ubi. Desa Risa dan Keli merupakan penghasil sayuran selain Samili dan Kalampa di Kecamatan Woha. Bagi buta usai shalat subuh, masyarakat sudah sibuk hendak ke pasar untuk menjual hasil panen mereka. Ada pula pengumpul yang datang membeli langsung di sawah untuk mereka jual lagi. Kehidupan masyarakat Risa dan Keli yang umumnya bertani, hingga kini masih berlangsung. Bahkan lahan kosong yang dahulu hanya ditumbuhi semak di bagian Barat kampung kini sudah jadi kebin jagung, hingga ke So Mbaju dekat Pandai. Warga Risa dan Keli cukup ulet. Hasil pertanian mereka selain untuk menyekolahkan anak-anaknya, juga ditabung untuk menuanikan ibadah haji. Jadi tidak heran, rata-rata masyarakatnya sudah bergelar haji. Kembali ke gowes bersama KBC, kami memilih jalur Tente-Waduwani.

Bagi saya, di Waduwani pun memiliki banyak kerabat. Saya hanya mendatangi kampung itu puluhan tahun lalu untuk makan biji rumput Karebe. Rumput ini hanya ada di tempat semacam rawa di selatan Desa Waduwani. Rasanya enak dan khas. Saya sudah tidak menemukannya lagi saat ini. Saya juga baru tahu kalau ada jalur yang sudah beraspal mulus menuju ke Desa Keli. Tanah datar yang sudah dijadikan kebun oleh masyarakat. Terlihat subur, bahkan di antaranya ditanami dengan bawang oleh petani yang mampu membeli mesin pompa air untuk musim kemarau separti sekarang ini. Jalan ini mulus hingga ke Desa Keli. Sampai di Desa Keli, kami memilih belok kanan ke arah utara menuju Desa Risa. Saya tadinya sangat berharap bisa bertemu dengan air yang dahulu sering saya pakai berenang dan berendam di selatan desa. Ternyata saya kecewa karena sudah kering kerontang. ‘’Ini desa nenek saya. Saya punya keluarga besar di sini,’’ kata saya pada kawan-kawan.

Di pertigaan, kami memilih belok kiri menuju ke arah barat. Hanya sekitar 1 kilometer jalan yang sudah diaspal. Selebihnya kami akan melewati jalan berbatu menuju dusun Kumbe dan dusun Mbaju di sebelah selatan Desa Pandai. Baru beberapa puluh meter melewati jalan berbatu, saya memutuskan untuk mengurangi tekanan ban, karena rasanya terlalu keras guncangannya. Saya sedikit tertinggal karena butuh waktu dalam proses mengurangi tekanan dua ban sepeda saya. Setelah berupaya keras menyusul, saya kaget karena Pak Jafar terlihat tidur di tanah. ‘’Pak Jafar jatuh. Ban depan menabrak batu dan sepeda fidak bisa dikendalikan,’’ kata Pak Syaiful.

Untung kondisinya tidak parah. Pada saat insiden ini terjadi, Pak Irfan, Pak Khaerul Nawawi, dan drg Ihsan sudah jauh di depan. Pak Syaiful menghubungi untuk mengabarkan kejadian tersebut. Kami ditunggu di ujung jalan berkelok. Untungnya Pak Jafar tidak parah dalam kecelakaan tunggal itu. Dia hanya terkaget karena tidak bisa menguasai keadaan. Setelah istirahan beberapa waktu, Pak Jafar sudah siap melanjutkan perjalanan. ‘’Ini sudah setengah jalan,’’ kata Pak Irfan sambil mengingatkan untuk siap-siap menghadapi anjing galak. Pak Jafar terjatuh sekitar seratus meter sebelum masuk ke dusun Kumbe Desa Risa.

Memasuki dusun ini, banyak kami temui masyarakat yang berprofesi sebagai pandai besi. Di sini yang saya lihat sudah tidak lagi memompa angin untuk meniup api yang memanaskan besi. Sudah ada alat khusus yang menggunakan dinamo kipas. Tentu sudah modern dan serba praktis. Tidak seperti dahulu ketika saya masih kanak-kanak. Pandai besi harus dibantu seorang tenaga yang memompa angin untuk meniup api supaya tetap membara agar besi bisa diolah menjadi berbagai barang keperluan sehari-hari. Saat itu waktu sudah menunjukkan angka sepuluh lewat. Kami mulai masuk daerah panas meranggas antara dusun Kumbe dengan dusun Mbajo. Sebenarnya kalau kami gowes pada musim hujan, pemandangannya pasti akan berbeda. Hijau oleh tanaman jagung dan aneka sayuran. Rupanya sengat matahari yang sudah semakin panas ini, mempengaruhi fisik saya. ‘’Awas-awas. Siapa yang paling depan tuh, siapkan batu-batu kecil untuk lempar anjing galak di kebun depan itu,’’ kata Pak Irfan.

Perjalanan baru saja lewati dusun Mbaju dan mulai menemukan kebun mangga di sisi bukit sebelum Pandai. Di sini gonggongan anjing galak sudah mulai terdengar. Kami memilih untuk mengayuh sepeda secepat mungkin. Bahkan drg Ihsan sempat sprint untuk menghindari kejaran anjng sudah mulai berhamburan keluar dari kebun warga. ‘’Lariiiii…,’’ teriak Pak Khairul dengan memutar sepedanya lebih cepat. Seru. Melewati anjing galak, kami sudah mulai santai lagi hingga menuju jalan negara di Desa Pandai. ‘’Owh kita keluar di sini ya? Itu PLN kan?,’’ tanya Pak Khairul.

Sengatan matahari tidak bisa dihindari. Saya yang belum sempat sarapat mulai merasakan ada yang kurang beres. Perut berbunyi minta segera diisi. Di cabang Godo, saya memilih untuk mencari sekadar pengganjal perut. Di sebuah kios pinggir jalan saya beli roti isi pisang yang baru saja dibawa oleh penjual roti. Saya pikir ini pastilah masih baru, jadi cukup aman untuk dikonsumsi. Bersama sebotol air saya habiskan dua biji roti. Aman, pikir saya. Tinggal kayuh sepeda melanjutkan perjalanan ke Kota Bima. Hanya beberapa saat mengayuh sepeda, saya lihat kawan-kawan lain sedang duduk menunggu di depan kantor Bupati Bima yang sedang dibangun. Senang juga rasanya, jadi tidak perlu gowes sendiri. Di sini ternyata ada penjual air tebu perasan. Saya pun istirahat sebentar sambil menikmati dua gelas air perasan tebu segar itu. Rasanya luar biasa, tenaga pun pulih kembali. Saya sampaikan kepada dr Irfan kalau saya sempat mampir beli roti karena sudah gemetaran. Yang namanya seorang dokter, istilah kedokterannya keluar juga.

Menurut dr Irfan kasus seperti itu diderita oleh orang yang kekiurangan gula atau istilah kedokterannya Hypoglycemia. Kalau kelebihan gula dalam darah namanya Hyperglycemia. Menurut dr Irfan, kekurangan gula dalam darah sama bahayanya dengan kelebihan gula dalam darah. Harusnya kondisi gula dalam darah kita tetap normal untuk menjaga keseimbangan dalam proses metabolisme tubuh. Kalau dr Irfan dan drg Ihsan nyerempet soal kesehatan, lain lagi dengan Kacab BNI Bima, Khairul Nawawi yang banyak bicara soal peluang bisnis. Mulai bisnis online hingga membuka kedai mie. Bertemu dan berinteraksi dengan mereka memang luar biasa. Banyak sekali motivasi yang bisa kita dapatkan. Usai minum dua gelas air perasan tebu, rasanya segar sekali. Ibu penjual air perasan tebu ini berseloroh saat menyajikan kepada kami. ‘’Kalau esnya kurang bisa ditambah ya mas,’’ katanya.Saya malah kembali menggodanya sambil mengatakan, ‘’Lha kalau air tebunya yang kurang gimana dong?’’ hehehe.

Sudah puas istirahat, kami kembali gowes ke Kota Bima. Di cabang Talabiu saya mulai merasakan tidak enak pada otot paha saya. Itu gejalanya persis sama dengan kejadian wakti saya gowes ke Wera beberapa bulan lalu. Ini pasti tanda-tanda otot paha saya akan tertarik dan kram. Saya kemudian memilih untuk mencari es batu atau air dingin dijual di sekitar cabang Talabiu. Hanya air dingin dalam kulkas yang saya dapat dan saya gunakan untuk kompres. Rasa tegang hilang. Saya hanya berharap tidak terjadi kram, karena sudah ketinggalan dari kawan-kawan. Saya memilih jalur jalan potong Palibelo-Panda supaya lebih cepat. Kawan-kawan lain pun sepertinya melewati jalur itu.

Baru saja saya mulai naik, tiba-tiba saja otot saya tertarik. Kram! Saya sendirian meringis di pinggir jalan. Sepeda pun saya simpan begitu saja karena saya menahan serangan rasa sakit di kedua paha saya. Kejadian yang sama dengan di Wera terulang. Sambil berusaha mengatasi kram yang saya alami dengan menekuk lutut, sepeda saya geser ke pinggir supaya tidak ditabrak kendaraan yang lalu lalang. Sekitar sepuluh menit saya sendirian di situ sebelum akhirnya muncul mobil pick up. Saya berinisiatif untuk angkat tangan dan meminta bantuannya. Sopir mobil kap terbuka itu hanya membawa dua orang wanita setengah baya di depan. Di bak belakang hanya saya dengan sepeda. Saya masih mampu menaikkan sepeda dan saya sendiri berusaha dengan susah payah. Saya tidak berani duduk di atas bak terbuka itu.

Di puncak tanjakan, saya temukan kawan-kawan lagi sitirahat. Saya teriak dan memberikan isyarat kalau saya kena serangan kram pada otot paha. Mereka hanya melambai. Sementara dr Irfan, Pak Khairul Nawawi, dan Pak Tulis Tyanto sudah jauh melewati Panda. Hebat, jempol untuk ketigaanya. Saya melambaikan tangan pada mereka sambil menunjuk paha. ‘’Saya kram,’’ teriak saya. Saya meminta bantuan pada sopir mobil bak terbuka itu untuk mengantar saya sampai ke rumah.

Saya mengucapkan terima kasih pada Pak Zaidun, warga Jati Baru yang menikah dan tinggal di Wera. Dalam perjalanan ketika saya pindah duduk di depan, dia cerita penuh antusias soal Pilkada Kabupaten Bima. ‘’Saya juga memilih Pak,’’ katanya. Zaidun ternyata pandai juga bicara politik. Saya hanya iya-iya saja sambil memancing untuk mengetahui peta politik di Wera dari masyarakat seperti pak Zaidun. Dia mengeluarkan penilaian atas masing-masing pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Bima tahun 2015-2020.Kesimpulan saya, mereka cukup cerdas tapi masih kurang referensi.

Saya minta maaf pada kawan-kawan KBC atas masalah kram yang saya alami sehingga kita tidak bisa gowes bareng hingga kembali ke Kota Bima. Saya akan terus meningkatkan daya tahan di masa yang akan datang. Sebab selama saya gowes sendirian selama ini, baik durasi maupun jaraknya saya pilih yang pendek saja. Jalur menanjak yang penting berkeringat. Saya lupa melatih daya tahan untuk jarak yang jauh dengan durasi yang lama. Paling jauh saya hanya ke Wawo. Itu pun kembalinya hanya tinggal dorong karena jalanan menurun. Salam gowes, salam sehat, salam santai, dan tetap bugar! (*)

Tulisan ini pernah dimuat di Kompasiana.com

Like
LikeLoveHahaWowSadAngry

Komentar

To Top