Olahraga & Kesehatan

Ini Arahan Menkes untuk Penanganan Kesehatan Korban Banjir

Menkes, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM, disampingi Wakil Wali Kota Bima, H A Rahman.

Kota Bima, Bimakini.- Penanganan banjir di Kota Bima khususnya pelayanan kesehatan menjadi perhatian serius Kementerian Kesehatan RI. Hal ini disampaikan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM, Jumat (30/12/2016) saat kunjungan ke Kota Bima didampingi Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan dr. Untung Suseno Sutarjo.

Menkes juga menyampaikan penanganan penyakit pasca banjir harus maksimal, terutama diare,leptosiroris atau karena kotoran tikus, dan tetanus. Kebutuhan obat harus tetap tersedia, dibantu oleh Dinas Kesehatan Provinsi NTB atau mengambil dari gudang obat daerah lain yang terdekat.

“Pembersihan lingkungan dengan air saja tidak cukup, harus disertai penggunaan desinfektan,” terangnya.

Penilaian kerusakan dan kerugian pascabencana, kata dia, harus dilakukan dengan teliti dan valid. Kementerian Kesehatan membutuhkan data assesment yang valid agar bisa memberikan bantuan pada tahap rehab rekon.

“Penanganan bencana memang memerlukan tindakan cepat, namun tetap harus mematuhi prosedur yang berlaku,” ujarnya saat pertemuan dengan Kantor Wali Kota Bima.

Selain kunjungan ke kantor Walikota, Menkes juga meninjau rencana pembangunan Rumah Sakit Tipe D yang berlokasi di kantor Puskesmas Asakota.

Pada kesempatan itu, Wali Kota Bima, HM Qurais melaporkan, pelayanan kesehatan tertangani dengan baik. Untuk menambah pos layanan kesehatan, telah dibuka Rumah Sakit Lapangan Mabes TNI di Paruga Nae Convention Hall dengan kekuatan 80 tenaga medis.

Hingga Kamis malam (29/12/2016), katanya, warga yang menerima pelayanan kesehatan sudah mencapai 17.000 jiwa di 10 pos statis dan 51 pos mobil yang dilayani oleh 23 tim medis/relawan. 4.579 warga menjalani rawat jalan dan 33 warga menjalani rawat inap.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima Drs. Azhari, menjelaskan jenis penyakit yang diderita warga umumnya adalah gatal-gatal dan luka-luka karena kena pecahan kaca atau seng. Pihak medis juga mengantisipasi penyakit ISPA, diare, leptosiroris dan tetanus.

Fasilitas kesehatan yang terdampak banjir adalah 2 Rumah Sakit swasta, 4 Puskesmas, 1 Labkesda, 29 Pustu dan 29 Polindes dengan perkiraan nilai kerugian mencapai Rp. 66 milyar. Walikota menjelaskan, tim telahmelakukan pembersihan di Puskesmas/fasilitas kesehatanterdampak. Dua unit Rumah Sakit juga sudah dibersihkan, yaitu PKU Muhammadiyah dan Stikes.

“Di Kota Bima ada sebuah Rumah Sakit Umum Daerah milik Pemerintah Kabupaten. RS tersebut tidak terdampak, namun rumah pegawainya sebagian besar terdampak banjir. Namun demikian, kegiatan pelayanan di RSUD tersebut tetap berjalan” jelas Azhari. (BK25)

Like
LikeLoveHahaWowSadAngry

Komentar

To Top