Dari Redaksi

Ketika di Ujung 2016

Ilustrasi

GULIRAN waktu terus menjalari kalender tahun 2016. Dalam satu jam ke depan, kita segera berada di ujung tahun 2016 dan memasuki warna baru 2017. Apa saja celupan warna selama 2016, selayaknya saat ini menjadi momentum yang tepat untuk merefleksikannya. Setiap detik yang berdetak amatlah berharga. Lalu apa makna yang seharusnya ditadaburi ketika kita berada pada suatu tahapan perjalanan waktu? Apa hakikat waktu bagi manusia dan sejauhmana keutuhan pemahaman kita terhadapnya? Pertanyaan ini semestinya hadir menyergap kesadaran kolektif untuk memaknainya.

Bagi masyarakat Bima dan Dompu atau Indonesia umumnya, malam tahun baru merupakan waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri terhadap apa yang telah dilakukan selama setahun terakhir. Saatnya kita menengok dan menginventarisasi apa saja yang telah dilakukan. Apakah kita sudah bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Melalui refleksi diri ini kita bisa menyusun rencana ke depan. Momentum yang harus dijadikan titik berangkat baru menuju lintasan perjalanan berikutnya.  Harus diakui saat malam tahun baru banyak digunakan untuk kegiatan hura-hura.

Sejatinya harus lebih memberikan makna dan digunakan sebagai ajang refleksi diri. Ya, itulah  semangat pesan Al-Quran surah Al-Hasyr ayat 18. Isinya setiap Muslim diperintahkan selalu berinstropeksi diri apa yang telah dilakukan dan apa yang akan dilakukan ke depan. Bagi masyarakat Kota Bima, penghujung 2016 merupakan durasi perjalanan berat. Menguras tenaga, pikkiran, dan bahkan emosi. Banjir bandang dalam ‘dua ronde’ telah meluluhlantakan permukiman penduduk, fasilitas penting, dan membatasi akses. Tentu introspeksi diri menjadi keniscayaan (given), karena peristiwa dahsyat itu membawa simbolitas pesan mendalam.

Di dalam Islam, introspeksi diri itu ukuran evaluasinya adalah ketakwaan. Apakah guliran pertambahan waktu berseiringan dengan peningkatan kualitas religiusitas. Islam mengajarkan hari ini harus lebih baik dari kemarin. Esok harus jauh lebih baik dari hari ini. Maka, mari menjadikannya media pergantian waktu ini sebagai starting point untuk meloncat menjemput masa depan. Mari menjadikannya sebagai acuan untuk memuhasabahi dalam konteks organisasi dan pribadi.

Ada kalimat bijak yang perlu disimak. “Waktu seperti aliran sungai. Kita tidak bisa menyentuh air yang sama untuk keduakalinya, karena air yang mengalir akan terus berlalu dan tidak akan pernah kembali”. Maka ketika kita dalam lintasan hidup saat ini, sepantasnya kita syukuri. Mari memaksimalkan potensi kebajikan untuk bekal bagi perjalanan masa depan.

Akhirnya mari menyambut fajar baru 2017 dalam pemaknaan yang lebih utuh. Tanpa hura-hura dan ekspresi kebablasan. Semoga nanti berkah waktu sepanjang 2017 memayungi lintasan hari-hari ke depan. Kita juga mengharapkan dijauhkan dari marabahaya dan bencana alam. Seperti sergapan banjit bandang yang baru saja menerpa. (*)

 

Like
LikeLoveHahaWowSadAngry

Komentar

To Top