Dari Redaksi

“Mungkin Alam Mulai Bosan…”

Mensos, Khofifah Indar P, saat menerima ajakan selfie oleh anak-anak pengungsi banjir di Masjid Baitul Hamid.

MENTERI Sosial RI, Khofifah Indar Parawansa, mengunjungi korban banjir bandang di Kota Bima awal pekan ini. Saat itu mengunjungi dapur umum, ikut nimbrung memasak dan membungkus nasi untuk kebutuhan para korban banjir. Air mata Khofifah tumpah di Masjid Baitul Hamid Kelurahan Penaraga. Perempuan dan anak dalam kondisi trauma, menguncang hatinya. Ada motivasi yang disampaikannya, demikian juga tausiah singkat. Intinya agar tegar menghadapi musibah, karena merupakan ‘ujian kenaikan kelas’.

Ya, guratan duka yang terekspresi pada Mensos adalah duka kita. Tetesan air mata yang menggambarkan ‘luka dalam menganga lebar’ setelah banjir menerjang permukiman penduduk. Sapuan dalam duakali kesempatan pekan lalu telah mengubrak-abrik kehidupan masyarakat. Musibah yang tanpa diduga meluluhlantakan yang dilaluinya. Karena ini banjir tidak biasanya, maka tentu saja diperlukan penanganan yang  luar biasa. Koordinasi intensif yang kian memudahkannya. Harapan besar kepada Pemerintah Daerah dan pihak terkait agar maksimal dan gesit menangani, memastikan para korban mendapatkan porsi perhatian. Namun, tentu saja semua pihak harus memahaminya ‘dalam situasi bencana’. Sekali lagi, ‘dalam situasi bencana’. Artinya, tidak ada kesempurnaan dalam hal kedaruratan, apalagi jika merujuk kondisi aktual Kota Bima hari ini. Pada titik itu, mari kita bijak saling memahami.

Namun, ada yang perlu terus diingatkan. Dalam logika korban atau mereka yang menjadi korban, sensivitas terhadap sesuatu sangat tinggi. Oleh karena itu, menghadapinya pun harus dalam kesabaran tingkat tinggi. Dalam bahasa komunikasi yang persuasif ‘bercitarasa bencana’. Pemerintah dan seluruh elemennya mesti memahaminya. Maka menjadi kurang elok jika ada aparatur atau oknum di lingkaran elit pemerintah yang koar-koar di Media Sosial dalam lemparan bahasa yang tidak elegan. Tidak ramah susunan kata-kata. Insiden seperti itu jangan sampai terjadi lagi, karena kontraproduktif terhadap upaya bersama membantu kebutuhan para korban secara cepat dan tepat.

Kita berharap air mata Mensos jangan sampai mengalir lagi. Ke depan, pemerintah dan masyarakat Kota Bima harus meningkatkan segala sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan. Meningkatkan kesadaran kolektif dalam mengelola alam dan lingkungan dalam porsi yang tepat. Apa yang terjadi dalam dua kesempatan menakutkan pekan lalu, diakui atau tidak,  adalah bahasa isyarat ‘kemarahan alam’.

Seperti sergapan kata Ebiet G Ade, mungkin alam mulai bosan melihat  tingkah kita…(*)

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share

Komentar

To Top