Opini

Bencana Alam dalam Perspektif Teologis dan Ekologis

Oleh: Wahyu A Bakar

Akhir-akhir ini berbagai bencana ekologis banyak terjadi di Indonesia, banjir di Padang, tanah longsor di Jawa Tengah, banjir rob di pantai Jawa dan Bali, Banjir di Bandung, Banjir Bandang Garut, yang terbaru terjadi dipenghujung tahun 2016 “Banjir Bandang” Bima, Nusa Tenggara Barat.

Bencana dan Masalah lingkungan hidup telah menjadi persoalan yang sangat krusial dewasa ini. Menurut Prof. Emil Salim dalam 30 tahun ke depan kita akan menghadapi berbagai masalah, termasuk ancaman panen yang gagaldan terjadinyabahayakelaparan akibat terjadinya kerusakan lingkungan hidup. Lebih mengerikan lagi pendapat Al Gore, ia menyoroti ancaman-ancaman bagi masa depan umat manusia akibat kerusakan lingkungan hidup, seperti berbagai jenis polusi, kerusakan hutan, bencana alam, dan pemanasan global. Ia sudah sampai kepada kesimpulan bahwa tinggal 10 tahun lagi kesempatan untuk memperbaiki lingkungan hidup sebelum semuanya terlambat. Ada juga ahli tidak sependapat dengannya, namun hampir semua orang sependapat tentang perlunya perbaikan lingkungan hidup secara nyata dan segera.

Sejarah Bencana Alam; Banjir& Gempa Bumidalam Al Quran;

Secara historis Bencana alam, Banjir dan gempa sudah sering terjadi sejak dunia ini ada, diantaranya sebagaimana diabadikan dalam Al-quran melalui beberapa Ayat sebagai berikut;

KisahKaum Nabi Nuh, Allah tenggelamkan dengan banjir yang sangat dahsyat, yang tinggi gelombangnya sebesar gunung (Hud: 42). Hingga, tak ada makhluk pun yang tersisa melainkan yang berada di atas kapal bersama Nabi Nuh (Asyu’ara’: 118).

KisahKaum nabi Syu’aib, Allah hancurkan dengan gempa bumi yang dahsyat. Sampai-sampai Alquran menggambarkan seolah-olah mereka belum pernah mendiami kota tempat yang mereka tinggali. Lantaran begitu hancurnya kota mereka pasca gempa (Al-A’raf: 92).

KisahKaum Nabi Luth, Allah hancurkan dengan hujan batu. Alquran menggambarkan, bangunan-bangunan tinggi hasil peradaban kaum Nabi Luth menjadi rata dengan tanah (Hud: 82).

Kisah Kaum Tsamud (kaumnya Nabi Shaleh), juga Allah hancurkan dengan gempa. Mereka mati bergelimpangan di dalam rumah mereka sendiri (Hud: 67).

Kisah Fir’aun dan pengikutnya dihancurkan oleh Allah dengan ditenggelamkan ke dalam lautan hingga tidak satu pun yang tersisa (Al-A’raf: 136).

KisahKarun beserta pengikutnya, Allah benamkan mereka ke dalam bumi sehingga kekayaannya sedikitpun tidak tersisa. Ini lantaran ia sombong kepada Allah swt. (Al-Qashash: 81).
Alquran juga mengabarkan bahwa bencana atau musibah yang tidak terkait dengan kaum tertentu, penyebabnya juga sama: karena kemaksiatan, kufur, ingkar, dan mendustakan ayat-ayat Allah. Penyebab yang paling ringan adalah karena perbuatan tangan manusia sendiri yang merusak alamnya (Ar-Rum:  41-42).
Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.(Q.S. Al-Ankabut: 40)
Penyebab terjadi azab atau musibah adalah lantaran mendustakan ayat-ayat Allah. Padahal jika kita beriman, Allah akan membukakan pintu-pintu keberkahan baik dari langit maupun dari bumi. (Al-A’raf: 96)

Bencana Alam dalam Perspektif Teologis dan Ekologis;

Secara teologis, awal timbulnya banjir tersebut karena pembangkangan umat manusia pada ajaran Tuhan yang disampaikan oleh para Nabi. Namun, secara ekologis, bencana tersebut diakibatkan ketidakseimbangan dan disorientasi manusia ketika memperlakukan alam sekitar.

Dalam konsep neo teologi, banjir bukanlah sekedar musibah kemurkaan Allah SWT kepada umat manusia. Akan tetapi banjir juga bisa merupakan fenomena ekologis yang disebabkan oleh perilaku manusia dalam mengelola lingkungan, menentang sunnah lingkungan.

Dengan adanya beberapa bencana di permukaan bumi, manusia mulai merasa perlu untuk besikap ramah terhadap lingkungan. Sikap tersebut diantaranya ditunjukkan dengan adanya usaha terencana dalam mengelola lingkungan, lingkungan memiliki keterbatasan dalam pengelolaannya. Sumber daya hutan, sumber daya lahan, sumber daya manusia dan sumber daya air, merupakan satu kesatuan ekosistem yang memiliki sumber daya  yang semestinya dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Karena dalam pandangan Ilahi, alam memiliki hak yang sama dengan manusia (Q.S. Al-Hijr: 86). Sekali hak alam di perlakukan dengan kebuasan yang tak terkendali demi memanjakan hasrat menundukkan dan menguasai alam, sudah menjadi sunatullah, alam pun akan melakukan “perlawanan”.

Perlawanan yang terartikulasikan dalam wujud “kemarahan” itu bisa mengambil rupa tanah longsor, amukan badai, banjir yang senantiasa mengepung, cuaca tak menentu, dan krisis ekologi yang mengerikan lainnya yang justru dampak destruktifnya akan kembali menimpa jagat manusia.

Banjir menunjukkan krisis ekologi, dan krisis ekologi pada dasarnya adalah krisis spiritual. Bencana alam tidak bisa dialamatkan pada fenemona alam semata. Eksploitasi eksesif, perusakan habitat, konsumsi eksesif, dan penyalahgunaan sumber-sumber daya alam hanya dilakukan manusia yang mengalami kekeringan spiritual.

Banjir dan kerusakan alam juga merupakan dampak individualisme dan egoisme, selain materialisme yang membuat manusia kering dari kesadaran ekologis. Begitu pula, kepentingan sesaat dan sempit menjadikan manusia tidak peduli dengan integritas dan kesehatan ekosistem Bumi.
Dari sudut pandang teologis, musibah banjir adalah azab Tuhan bagi manusia yang belum jera berbuat kezaliman. Dampak banjir sama sekali melampaui status sosial, suku, atau agama. Banjir adalah tanda manusia tidak bersyukur atas karunia hujan. Jika kamu bersyukur pasti Kutambah nikmat-Ku dan bila kamu kufur maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih (Al-Quran: Ibrahim,7).
Ini juga akibat manusia tidak pandai mengambil pelajaran dari sejarah. Padahal, banjir masif pernah memusnahkan kaum Nabi Nuh akibat ulah mereka sendiri. (Al Quran:7,64).
Tuhan menciptakan alam berikut hukum-hukum kausalnya (law of nature). Dengan hujan, Tuhan membuat tanah yang gersang dan tandus menjadi subur, sehingga tumbuh berbagai tanaman. Namun, Tuhan mengingatkan, bila terjadi kerusakan di muka Bumi, maka itu akibat ulah manusia sendiri.

Fritjof Capra dalam The Turning Point: Science, Society and The Rising Culture pernah menekankan, musibah Bumi terjadi akibat pengembangan iptek minus wawasan spiritual. Wakil Presiden Amerika yang lalu, Al Gore, dalam Earth in the Balance: Ecology and the Human Spirit, menyatakan, semakin dalam saya menggali akar krisis lingkungan yang melanda dunia, semakin mantap keyakinan saya bahwa krisis ini tidak lain adalah manifestasi nyata dari krisis spiritual kita.

Demi kelestarian lingkungan, agar terhindar dari penyalahgunaan dan eksploitasi berlebihan,
Islam juga menekankan, hubungan manusia dan tanah bukan bersifat penguasaan dan dominasi, tetapi pemanfaatan yang terkendali (guided utilisation). Pengembangan tanah (land development) harus sesuai dengan tatanan yang lebih luas dan dalam kerangka kepentingan publik (maslahah). Kepemilikan tanah dan tempat tinggal rakyat juga bukan merupakan exclusive privilege yang tanpa reserve (Muhamad Ali, Kompas 22/02/2002).

Demikian beberapa pandangan pakar terhadap Bencana, Dalam konsepsi Islam, ada prinsip “jangan merusak” (la darara wa la dirara), prinsip taskhir (wewenang menggunakan alam guna mencapai tujuan penciptaan) dan prinsip istikhlaf (wakil Tuhan di bumi yang bertanggung jawab. Zainuddin Sardar lebih jauh menggabungkan prinsip-prinsip tauhid, khilafah, amanah, halal, dan haram, dengan keadilan, moderasi, keseimbangan, harmoni, istihsan (preference for the better) dan istislah (public welfare).

Sementara Parvez merangkum teologi ekologinya menjadi tauhid, khilafah, amanah, syariat, keadilan, dan moderasi. Sementara Sayyed Hossein Nasr menekankan prinsip keseimbangan (equilibrium). Pemikiran teologis ini bermuara pada satu pesan, living in harmony with nature.

Konsep hubungan manusia dan lingkungan dilihat sebagai bagian dari hubungan interaktif antara semua ciptaan Tuhan, yang dibentuk berdasarkan prinsip berserah diri kepada Tuhan yang sama. Berserah diri tidak semata-mata praktik ritual, karena kebaktian bersifat simbolik. Kesadaran manusia akan kehadiran Tuhan harus dibuktikan melalui perbuatan nyata dalam hubungannya dengan sesama manusia dan alam sekitar.

Dipenghujung tahun 2016 kita disuguhkan dengan bencana Alam banjir bandang& Gempa Bumi yang melanda daerah Bima, bencana alam dan degradasi lingkungan disebabkan ketidaktahuan dan kelalaian terhadap tuntunan agama. Semoga tumbuhkesadaran bahwa “konservasi lingkungan” adalah kewajiban agama,Semoga tumbuh kesholehan Personal dan sosial dalam menata Kehidupan.

Filosofi hidup berdampingan dengan alam dari berbagai masyarakat lokal perlu dilestarikan dan ditumbuh kembangkan dalam kerangka kehidupan berbangsa dan bernegara yang berpegang pada prinsip Keadilan. (*)

 

Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor Sosiologi Pedesaan IPB, Ketua Umum Forum Mahasiswa Pascasarana IPB 2013-2014

 

 

 

Like
LikeLoveHahaWowSadAngry
8

Komentar

To Top