Dari Redaksi

Pascabanjir Bandang

TNI yang terlibat membersihkan sejumlah sekolah.

BANJIR bandang yang melanda Kota Bima pada Rabu (21/12/2016) dan Jumat (23/12/2017) menyergap permukiman penduduk. Balutan duka masih terasa hingga kini. Bantuan mengalir dari berbagai komponen masyarakar yang peduli. Banjir kali ini memang luar biasa, tidak biasanya terjadi secara masal dan menggenangi wilayah dalam cakupan yang lebih luas. Kita memang sedang dalam musibah yang tidak akan pernah terlupakan sepanjang sejarah daearh ini.

Ada dua sisi yang lebih penting untuk difokuskan bersama penanganannya pascabanjir. Yakni penanganan terhadap korban (manusia) dan pembersihan lingkungan. Hingga kini bantuan dari sejumlah pihak terus berdatangan, dari daerah tetangga hingga luar daerah. Mensos, Kapolri, Menkes, dan pejabat lainnya berdatangan mengintip dari dekat kondisi bencana. Kita mengharapkan warga yang belum tersentuh bantuan terus diinventarisasi untuk memastikan bahwa mereka juga mendapatkan perlakuan sama. Dengan kata lain, mereka yang telah mendapatkan bantuan tidak dijejali lagi, selagi masih ada yang belum tersentuh. Oleh karena itu dibutuhkan koordinasi lintas sektoral untuk menuntaskannya.

Sisi lingkungan juga mendesak diatasi. Pada sejumlah wilayah, hingga Senin (02/01) masih banyak tumpukan sampah dan lumpur yang tercecer. Seperti dalam kamus kesehatan, dalam lingkungan yang buruk dan kumuh, ragam penyakit rawan muncul. Apalagi, terhadap mereka yang ketahanan tubuhnya rendah. Anak dan Balita apalagi. Mereka kelompok rawan terpapar penyakit. Saat ini saja sejumlah anak dan Balita sudah terjangkit dan dirawat. Itu berarti percepatan respons terhadap pembersihan lingkungan akan berseiringan dengan agresi bibit penyakit yang menyergap masyarakat.

Nah, seiring guliran waktu, mari kita terus waspada dan meningkatkan semangat kegotongroyongan membersihkan lingkungan masing-masing. Wajah Kota Bima yang “bopeng” hari ini harus segera disembuhkan, karena tidak nyaman dan elok dipandang. Lingkungan kumuh dan buruk tidak kondusif untuk ditinggali, tentu saja jauh dari semangat Kota Sehat. Kota Bima ini mesti segera diubah nyaman bagi masyarakat dan para pendatang.

Sekali lagi, banjir dalam ‘dua ronde menegangkan’ ini banyak hal yang menjadi pelajaran berharga. Bagi semuanya. Ada sisi kewaspadaan terhadap pengelolaan alam yang harus seimbang. Ada semangat kekeluargaan yang mengental dalam hal membantu mengurangi penderitaan sesama. Bahkan, tidak lagi mengenal batas geografi dan agama. (*)

 

Like
LikeLoveHahaWowSadAngry

Komentar

To Top