Dari Redaksi

Taubat Dana Mbojo

 

Ilustrasi

PASCABANJIR yang mengubrak-abrik Kota Bima, Rabu dan Jumat,  beragam status di media jejaring sosial Facebook terlihat lebih kontemplatif. Sisi religiusitasnya menguat tajam. Manusia Bima menjadi lebih rendah diri memahami peristiwa. Syukurlah, semoga menjadi bagian dari kesadaran. Inti beragam pernyataan itu adalah bahwa musibah masal itu ujian Allah agar segera menyadari hakikat kefanaan, kenisbian dunia, dan segala pernak-perniknya. Ketika Allah berkehendak, maka segala sesuatu pasti terjadi. Bahkan, pada hal yang dalam pikiran atau asumsi manusia tidak mungkin sekalipun. Allah-lah Sang Mahapengatur skenario kehidupan ini.

Nah, seorang Facebooker asal Bima pun ada yang mengajak  untuk menyatukan barisan, komitmen, dan konsistensi  untuk apa yang dinamakannya kampanye Gerakan Taubat Dana Mbojo. Katanya, harus ada keberanian tegas menghukum dan  pecat aparatur pemerintah  yang terlibat maksiat, berzina, berselingkuh, mengonsumsi alkohol, berjudi, dan Narkoba. Ya, apa yang disampaikannya sebenarnya adalah semangat yang selama  ini disuarakan oleh masyarakat dan ulama. Harus diakui, berdasarkan catatan, beragam kejahatan yang bahkan sifatnya metropolis, telah merebak di wilayah ini. Pembunuhan, pembacokan, penjambretan, pembuangan orok, pelacuran terselubung, penjudian dan aneka kemaksiatan lainnya telah ‘melumuri’ wajah Mbojo.

Memang apa yang disampaikan oleh sejumlah pihak bahwa banjir bandang ‘dua ronde’ itu dipicu hutan dan gunung yang gundul, lalu dam jebol dan tanggul loyo. Itu  adalah hitungan teknis duniawi. Hal-hal seperti memang sedang memayungi wilayah kita. Bisa disimak, sumber air berasal dari wilayah Utara dan Timur. Dari arah pegunungan. Hingga kini, dua arah itu yang menjadi semacam ukuran bagi masyarakat untuk menakar kekuatan banjir ketika hujan lebat.  Namun, sisi religiusitas kadang terlupakan. Kemaksiatan yang tidak dilawan habis atau dibiarkan merajalela, imbasnya tidak hanya menyasar para pelaku, tetapi juga masyarakat sekitar. Apakah banjir dalam dua  terjangan maut itu adalah fakta hukuman sosial karena kemaksiatan di sekitar kita? Mari merenunginya.

Gerakan Taubat Dana Mbojo, bisa jadi mungkin dianggap tendensius. Terlalu pagi memvonisnya demikian. Terlalu dini menggiringnya pada pengakuan dosa. Tetapi, semangatnya adalah bagaimana makna kehadiran kita di bumi Allah ini direnungi ulang. Diintrospeksi kembali sejauhmana perjalanan dalam konteks pribadi dan kolektif. Apakah dinamika kehidupan kita selama ini semakin mendekat pada orbit Ilahiah ataukah semakin jauh dari pandangan. Jika kian berjarak dekat, maka mari semakin tegar menjalaninya. Namun, jika telah jauh dari lingkaran agama, mari berbalik arah, mengambil nafas baru, lalu berlari kencang kembali ke garis awal. Dalam kesucian diri… (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3
Share

Komentar

To Top