Jalan-jalan

Pantai Bente, Pesona dan ‘Keperawanannya’ Menggoda…

Bima, Bimakini.- Potensi wisata pantai di Kabupaten Bima belum sepenuhnya dieksplorasi dan dikenali masyarakat umum. Padahal, keindahan panoramanya tidak kalah dengan sejumlah pantai yang selama ini akrab di kuping publik. Anda mau buktinya kan? Seperti pesona keindahan Pantai Bente, di Dusun Tamandaka Desa Wadu Ruka Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Tidak banyak masyarakat dan wisatawan lokal yang mengetahuinya. Bahkan, oleh masyarakat sekitarnya sekalipun. Kawasan wisata potensial ini terisolir. Ada tantangan tersendiri  menuju ppesona ini.

Keberadaan Pantai Bente, sekilas terdengar cerita dari remaja Desa Wadu Ruka yang  menjadi mahasiswa di Kota Bima. Bimakini mencoba menelusuri keberadaan pantai tersebut. Rasa penasaran membuncah hebat. Biasa, rasa keingintahuan terhadap hal-hal baru. Bagi yang pecinta alam dan hobi traveling, menyusuri wilayah baru adalah tantangan.

Supaya rasa penasaran terpuaskan, beberapa pemerhati lingkungan dan pecinta alam bebas diajak ikut serta. Yakni  Saifullah, MPd, Mahrun, MPd, dan Anhar dari organisasi Mahasiswa Pecinta Alam Londa Sekolah Tinggi  Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bima.
Sabtu (15/04/2017) perjalanan dan perburuan potensi wisata itu pun disepakati. Sebelum beranjak dari Kota Bima, Bimakini mencoba menggali informasi lebih dalam kepada Syaifullah, pemuda kelahiran Desa Soro Afu Kecamatan Langgudu. Banyak hal dan sisi yang diceritakannya. Terutama soal infrastruktur jalan, bagaimana aspek keamanan. Demikian juga karakteristi pantai yang katanya indah dan menawan itu.

Rasa penasaran muncul, seperti apa gerangan pantai itu. Bersama tiga rekan berangkat menggunakan dua sepeda motor, masing-masing berboncengan. Karena perjalanan jauh, melengkapi diri dengan logistik, ransel, jaket gunung dan kelengakapan lain seperti helm karena melewati jalan raya.

Saat itu, matahari sudah miring ke arah Barat atau tepatnya pukul 14.00 WITA. Beranjak dari Sekretariat Mapala Londa STKIP Bima dan mengambil jalur Kecamatan Monta Kabupaten Bima. Jarak tempuh yang jauh tidak menyurutkan semangat untuk mengetahui dimana sebenarnya pantai Bente itu.

Tepat di pertigaan Desa Wilamaci  atau biasa dikenal  persimpangan  Desa Sondo,  sejenak berhenti untuk membelikan air mineral. Sekaligus pelepas dahaga, terutama menuju kawasan pantai. Lantas kembali mesin sepeda motor berjalan menuju Desa Tangga Baru, kemudian  mengambil jalur kiri. Kondisi jalan masih diaspal di pertigaan Nanga Pria.

Krikk…. rem sepeda motor rombongan berbunyi. Eh, ternyata jalan yang di-hotmix hanya berakhir di perbatasan wilayah Desa Nanga Paria Kecamatan Monta Kabupaten Bima. Perlahan sepeda motor  melaju di atas jalan raya yang masih berbatuan dan berdebu tersebut. Jarak antara Nanga Paria dengan Dusun Sara Naee Desa Laju relatif jauh. Dalam perjalanan di tengah hutan itu, rombongan  bercanda ria untuk membuat suasana cair.
Rupanya di sana masih ada namanya Desa Mekar Jaya. Hanya ada beberapa rumah warga, di pertigaan desa itu, rombongan mengambil jalur kiri untuk menuju Dusun Tamandaka Desa Wadu Ruka. Perjalanan masih jauh, Brother… Rombongan masih masih melewati pertigaan ke pantai Rontu dan Desa Wadu Ruka.
Mengambil jalur kiri di pertigaan tersebut, tampak jalan baru dibuka.

Jalannya cukup melelahkan. Rombongan melewati tantangan dan rintangan luar biasa. Naik-turun bukit menggunakan jalan setapak supaya menuju Pantai Bente.  Meski Syaiful anak pribumi di sana, dia hanya mengetahui Dusun Tamandaka Desa Waduruka. Namun, keberadaan pantainya belum pernah diketahuinya.

Di perjalanan, rombongan bertemu Faisal, Warga Desa Soro Afu. Dia  barusan pulang bekerja sebagai pengepul gose atau sergasu di Pantai Bente. Lalu  suara sepeda motor kembali dalam suara khasnya karena persneling rendah. Rombongan kembali naik- turun gunung melewati jalan yang baru beberapa tahun  dibuka. Hawa dan aroma sungai terasa melekat di hidung dan wajah. Terdengar suara gelombang, seakan percikan air laut menempel di wajah  yang kekeringan setelah sepanjang perjalanan disengat mentari.

Rasa capek hilang pun dalam sekejap, begitu Faisal menunjuk Pantai Bente.  Turun dari kendaraan, rombongan  langsung berlari menuju pantai itu. Wow… wow… pantai yang bagus memiliki pasir putih bersih, dilihat dari dekat jenis pasirnya warna-warni.

Benarlah apa yang dikatakan orang, tidak ada wisatawan yang mengetahui, apalagi berkunjung. Saat rombongan berjalan di atas pasir bersinar itu, hanya ada beberapa warga  yang mengambil gose.

Di tengah laut ada pulau (Nisa) yang  berdiri kokoh meski diterpa gelombang. Ada mataair tawar yang keluar di bibir pantai menambah hasrat  menikmatinya. Wow keren! Rasa dahaga sepenuhnya terobati.

Apakah ini Pantai Bente? Oh, rupanya masih pinggirannya.  Faisal menyebut  ini baru bagiannya.  Di sebelah lain ada yang lebih bagus lagi. Rombongan langsung beranjak, sekitar 10 menit perjalanan di atas jalan berbatuan dan berdebu itu pun sampai.

Ciptaan Allah ini mahaindah. Tidak tertandingi. Luar biasa indah! Inilah surga dunia diciptakan Allah. Buktinya, sepanjang pantai bersih, tanpa sampah dan jejak kaki pengunjung. Hanya tertinggal jejak kaki nelayan dan masyarakat setempat di atas pasir putih yang warna-warni. Pantai Bente masihlah ‘perawan’. Menggoda mata. Sayang, jika Anda tidak menikmatinya pada kesempatan pertama.

Mengapa  setempat menamakannya Pantai Bente? Alasannya  karena di bibir pantai tersebut ada benteng peninggalan Belanda saat menjajah Indonesia.  Berawal di situlah pantai ini dinamakan Pantai Bente.

Setelah itu, rombongan  bermain di atas pasir yang indah itu. Sesuka hati. Sepuas yang diinginkan. Tanpa ada wisatawan lain yang  menggangu. Hanya terdengar suara gelombang yang pecah karena  bertabrakan dalam laut lepas yang bersebelahan dengan kawasan perairan Australia itu.

Sunyi pun menyergap. Rombongan terpukau ndahnya Pantai Bente. Bagaimana dibandingkan dengan lokasi lainnya? Menurut rekan-rekan,  Pantai Bente jauh lebih indah dibandingkan pantai  di Bima,  bahkan  luar Bima.

Tentu saja  ke depan ini akan menjadi potensi wisata, apabila dipoles dalam kelengkapan sarana dan prasarana pendukung. Pantai Bente yang masih ‘perawan’ ini akan menjadi magnet bagi lautan manusia, karena kondisinya diyakini mampu memuaskan hati pecinta  destinasi wisata dan traveling. Apalagi, menggunakan sepeda motor hanya sekitar 2 jam saja.

Setelah puas menikmati surga dunia itu,  rombongan meninggalkan pantai  dan bermalam di Desa Soro Afu Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima. Pantai Bente menawarkan pesona. Memanjakan mata Anda sampai terbuai dalam suasana keindahan, kenyamanan, dan kesejukan.

Sayang jika masyarakat Bima sendiri asing terhadap potensi wisata pantainya sendiri. Anda penasaran melihatnya? Agendakan waktu bersama rekan dan keluarga. Nikmati sensasi ‘keperawanannya’ dan panorama indah memesona. (BK34)

 

Share
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

To Top