Dari Redaksi

Fenomena Konsumsi

Dok wwwcirebonradio.com

RAMADAN 1438 Hijriyah sudah merambat ke pertengahan hitungan. Hampir setengah jalan. Pertanyaan mendasar yang selayaknya diajukan adalah apa saja yang kita warnai dalam bingkai lintasan suci nan syahdu itu dalam skala pribadi dan sosial? Kita selayaknya bertanya pada diri sendiri. Saat ini dan sekarang ini. Hal itu karena berpuasa tidaklah sekadar menahan rasa lapar dan dahaga. Tetapi, harus punya mekanisme dan kemampuan menahan hawa nafsu.

Seperti ‘lazimnya’ Ramadan-Ramadan yang telah bergulir di Bima dan Dompu atau belahan wilayah lainnya di Indonesia, edisi 1438 Hijriyah/2017 ini kita disuguhi kecenderungan yang hampir mirip. Bahkan, bisa disebut pengulangan sempurna. Sebagian besar dari kita justru banyak yang berlomba-lomba mengumbar makanan dan tergoda beragam diskon di pusat perbelanjaan. Konsumsi kebutuhan pokok justru naik nyaris 100 persen. Sampah meningkat, penggunaan listrik pun melejit. Selain itu, pembelian sandang atau pakaian menjelang Idul Fitri. Lagi-lagi, sebagian besar dari kita berpikir tidak lengkap rasanya ber-Lebaran tanpa baju baru.

Siang hari perut memang off. Namun, malam hari saat berbuka puasa malah over. Berlebihan mengonsumsi makanan. Nyaris semua makanan terlahap habis. Sesuatu yang mungkin pada hari biasa tidak mampu dilakukan. Ini mengindikasikan setan memang dibelenggu. Tetapi, nafsu manusia tidak. Tetap dalam posisinya, yang jika tidak lihai mengendalikannya akan mengubah semua warna.

Ada yang menyebut peningkatan perilaku konsumerisme tinggi ini bertolak belakang dengan semangat Al-Quran surat Al-Araf ayat 31. “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. Sindiran penuh makna.

Seyampang masih dalam pertengahan Ramadan, mari merefleksi hari-hari yang berlalu. Mari berusaha menahan diri. Berempati pada kondisi masyarakat tidak mampu. Bukan suatu hasil yang menggembirakan jika saat bulan suci ini justru kita terperangkap godaan konsumerisme. Berpuasa itu esensinya menahan nafsu kan?
Akhirnya, mari kembali berbisik pelan pada nurani. Dalam kebeningan hati dan kedalaman substantif. Selanjutnya mari kita lugas bertanya, pada posisi manakah kecenderungan arah berpuasa kita? Apakah mengekspresikan “fenomena kekhusyuan” ataukah masih setia berkutat pada “fenomena konsumsi”? Tentunya kita bisa memilah manakah bekal yang penting dan mendukung perolehan hasil akhir untuk menjadi pribadi yang muttaqun. Sebagaimana pesan Al-Quran surah Al-Baqarah 183.

Selamat beribadah puasa. (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share

Komentar

To Top