Dari Redaksi

Mari Bertabayyun

ilustrasi thaiyyiba

KASUS kekerasan muncul di Kota Bima pertengahan pekan lalu. Keluarga siswa mendatangi SMPN 11 Kota Bima dan  terlibat ketegangan dengan guru setempat. Kejadian itu dipicu perkelahian pelajar setempat yang dibantu keluarganya dari sekolah lain. Masing-masing memiliki versi sendiri bagaimana pemicunya hingga berubah menjadi penyerangan terhadap guru dan perusakan fasilitas sekolah.  Kemunculan kasus ini di tengah kenyamanan beribadah puasa, tentu saja disesalkan. Dunia maya pun heboh. Apalagi, lalulintas komentar  yang di luar konteks.

Insiden itu tidak saja merupakan bukti ketidakmampuan menahan diri, tetapi locus delicti-nya di sekolah sangat disesalkan. Protes dari kalangan guru bermunculan, bahkan mengadukannya secara hukum. Bagaimana kelanjutan prosesnya? Biarlah aparat hukum yang menanganinya untuk menemukan siapa yang layak dimintai pertanggungjawaban.

Satu di antara sisi yang perlu digarisbawahi dari kejadian itu adalah perlunya menahan diri dan mengelarifikasi sesuatu masalah dalam semangat perdamaian. Bertabayyun, sesuai semangat ajaran Islam. Dalam banyak kasus, keterlibatan pihak keluarga terhadap kasus yang menimpa pelajar, seringkali karena kegagalan bertabayyun terhadap inti persoalannya. Laporan sepihak dan diterima secara parsial, bisa berubah anarkis jika tanpa kemampuan menahan diri. Langsung melabrak dan tanpa kompromi.

Kaum Muslimin diingatkan agar berhati-hati dalam menerima berita dan informasi. Sebab informasi sangat menentukan mekanisme pengambilan keputusan dan bahkan entitas keputusan itu sendiri. Keputusan yang salah akan menyebabkan semua pihak merasa menyesal. Pihak pembuat keputusan merasa menyesal, karena keputusannya itu menyebabkan dirinya menzhalimi orang lain. Pihak yang menjadi korban pun tidak kalah sengsaranya mendapatkan perlakuan zalim. Maka jika ada informasi yang diterima, selayaknya diperiksa terlebih dahulu.

Kita berharap kejadian  di SMPN 11 Kota Bima menjadi media bermuhasabah oleh kalangan pendidik dan keluarga siswa agar bisa mendudukan persoalan pada posisinya yang tepat. Apalagi, saat ini dalam semangat ber-Ramadan, sejatinya kemampuan menahan diri dan “mengelola konflik” bisa  diandalkan. Bertabayyun dan bertindak tanpa kekerasan. Mari bermuhasabah dari peristiwa ini…(*)

Share
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

To Top