Dari Redaksi

Menggairahkan Amal

 

ilustrasi

SAAT ini umat Islam dunia sudah memasuki fase pertengahan Ramadan 1438 Hijriyah. Di Kota Bima, dinamika dan mobilitas masyarakat pada sore hari terlihat jelas. Ada ledakan pergerakan yang umumnya mencari dan membeli kebutuhan berbuka puasa dan sahur. Di tengah hiruk-pikuk itu, selayaknya tetap ada refleksi untuk membangun kesadaran makna berpuasa atau kehadiran Ramadan. Bagaimana pertengahan Ramadan ini kita maknai?

Saat bersama Ramadan, umat Islam akrab bercengkerama dengan Al-Quran. Ketika Ramadan berlalu, kita diharapkan mengalami peningkatan sisi ketaqwaan, ada perubahan rasa takut kepada Allah, ada perubahan ketaatan kepada sunnah Rasulullah, ada perubahan rasa dekat terhadap  Al-Quran. Seorang ulama Al-Hafidz Ibnu Rajab, berkata siapa saja melakukan dan menyelesaikan suatu ketaatan, maka di antara tanda diterimanya amalan tersebut adalah  dimudahkan baginya untuk melakukan amalan ketaatan lainnya. Di antara tanda tertolaknya suatu amalan, adalah melakukan kemaksiatan setelah amalan kebaikan. Jika seseorang melakukan kebaikan setelah sebelumnya melakukan keburukan, maka kebaikannya ini akan menghapuskan keburukan  tersebut. Hal yang sangat bagus adalah mengikutkan ketaatan setelah ketaatan sebelumnya.

Al-Hafidz Ibnu Rajab pun menyebut hal yang paling jelek, adalah melakukan keburukan setelah sebelumnya melakukan amalan kebaikan. Ingatlah bahwa satu dosa yang dilakukan setelah bertaubat, lebih buruk dari 70 dosa yang dilakukan sebelum bertaubat.  Maka mintalah kepada Allah agar diteguhkan dalam ketaatan hingga kematian menjemput. Mintalah perlindungan kepada Allah, dari hati yang terombang-ambing.

Sungguh sangat sangat disayangkan apabila nilai-nilai positif ini berakhir bersamaan berakhirnya musim ketaatan ini. Adalah hal yang aneh, jika seorang Muslim yang begitu khusyu’ dan bergairah melaksanakan amalan-amalan mulia pada bulan Ramadhan, lantas setelah Ramadhan kembali melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai ketakwaan.

Oleh karena itu, mari kita menggairahkan amaliyah Ramadan dalam segala jenisnya. Berlomba dalam kebajikan dan menguatkan barisan untuk melawan kemungkaran. Ramadan adalah bulan tarbiyah bagi kekaratan hati kita setelah mencebur diri dalam hiruk-pikuk kehidupan dunia. Ramadan adalah media strategis untuk memaksimalkan kesesluruhan potensi amal hingga puncak tertinggi. Ramadan adalah saat tepat mengoperasionalisasikan nilai-nilai kebajikan dalam dimensi pribadi dan sosial. Semoga kita diberi kekuatan untuk menjalaninya. (*)

Share
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

To Top