Ekonomi

Selamat Datang Nam Air!

Pesawat Boeing 737-500 Winglet Nam Air. (sumber: https://wn.com/Nam_Air_Boeing_737_500)

Oleh:

Khairudin M. Ali

 

ADA kabar baru yang datang dari dunia penerbangan kita di Bima. Kabar itu disampaikan oleh Kepala Bandara Muhammad Salahudin Bima, Taslim Badaruddin, SH, MM. Menurut Taslim, maskapai Nam Air akan terbang perdana di Bandara Bima, pada 16 Juni 2017 mendatang.

Bagi saya, ini baukanlah hal luar biasa, walau kehadiran Nam Air tentu memberikan banyak manfaat bagi masyarakat yang menuju dan berangkat dari Bandara Bima. Tetapi yang menarik perhatian saya, adalah jenis pesawat yang akan digunakan anak perusahaan Sriwijaya Air itu, adalah Boeing 737 seri 500 Winglet. Baca: Pesawat Nam Air Segera Flight Perdana.

Ini akan menjawab mimpi banyak kita bahwa bandara mungil ini bisa didarati pesawat bermesin jet (lagi) setelah ditinggalkan oleh Fokker F-28 milik ‘almarhum’ Merpati Nusantara. Pesawat Fokker milik BUMN yang sudah dinyatakan pailit itu, pernah wira-wiri Bandara Bima. Bahkan pesawat itu, pernah kerjasama bisnis  dengan Pemkab Bima sehingga logo Kabupaten Bima serta beberapa foto produk Bima, dipromosikan di kabin pesawat itu. Itu sudah cukup lama berlalu.

Kini, dengan hadirnya Boeing 737- 500 winglet milik Nam Air, mempercepat mimpi masyarakat Bima menikmati pesawat bermesin jet, sebelum landasan pacu bandara ini diperpanjang dan bisa dipergunakan pada 2019. Baca: Runway Bandara Sultan Salahuddin Bima Siap Diperpanjang.

Mimpi perpanjangan landasan pacu (runway) dan hadirnya pesawat bermesin jet di Bandara Bima, bukanlah sekadar untuk memenuhi keinginan merasakan kenyamanan. Tetapi lebih dari itu, akan memberi peluang bagi operator penerbangan lain untuk juga ikut berkompeteisi melayani penumpang dari dan ke Bandara Bima yang selama ini masih dilayani oleh pesawat kecil propeller (baling-baling). Dengan landasan pacu hanya 1.6 kilometer, memang tidak memungkinkan pesawat berbadan lebar seperti Boeing 737 seri 800 atau 900 untuk mendaratinya. Demikian pula dengan pesawat Airbus yang sama-sama memiliki badan  jumbo. Bahkan Garuda pun mengaku sudah menyiapkan Bombardier CRJ 1000 untuk ‘main’ ke Bima karena cukup prospek.

Tetapi mimpi itu telah lebih dahulu dipenuhi Nam Air dengan menggunakan Boeing 737-500 Winglet. Pesawat yang dibeli pada sekitar 2012 lalu itu, menggunakan lekukan kecil di ujung sayap. Peasawat ini mengekor generasi Boeing sebelumnya yaitu 737-800 dan 900 yang banyak dipakai oleh Lion Air. Untuk seri 500 Wnglet, dibeli Nam Air untuk melayani rute-rute domestik rintisan sebagai feeder (pengumpan) Sriwijaya Air. Skenario ini sama dengan Wings Air bersama Lion Air yang sudah lama kita kenal.

Lekukan ke atas (Winglet) pada  ujung pesawat Boeing ini, bukan sekadar hiasan, tetapi mampu meningkatkan efisiensi kerja mesin (engine) dan menghemat bahan bakar hingga tujuh persen. Dalam dunia penerbangan, angka tujuh persen sagatlah berarti mengingat harga bahan bakar untuk pesawat yang sangat tinggi. Total maksimum peumpang yang bisa diangkut sebanyak 144 orang, dengan panjang badan pesawat 31.1 meter dan rentang sayap hamir 30 meter. Untuk rute Bima, menurut Taslim hanya akan dimuati 120 penumpang dengan konfigurasi 112 penumpang ekonomi dan 8 untuk kursi bisnis.

Nam Air, mungkin bagi kita masih terasa asing, jika diandingkan dengan operator penerbangan lainnya di Indonesia. Nam Air adalah maskapai penerbangan Indonesia yang didirikan pada tahun 2013, merupakan anak perusahaan Sriwijaya Air. Dikutip dari Wikipedia, pPada awal mulanya, Nam Air diproyeksikan sebagai Full Service Carrier dari Sriwijaya Air yang ditujukan untuk menyaingi Garuda Indonesia dan Batik Air. Dalam perkembangan selanjutnya, Nam Air akhirnya menjadi  feeder bagi Sriwijaya Air yang melayani rute utama.

Pada 26 September 2013, NAM Air resmi diperkenalkan ke publik dan direncanakan penerbangan perdananya dilakukan pada  Oktober 2013. Karena terhanmbat dengan perizinan dari Kementrian Perhubungan baru melaksanakan penerbangan perdananya dari Jakarta menuju Pangkalpinang pada 11 Desember 2013. Penerbangan perdana ini kemudian disusul oleh Penerbangan Komersial Berjadwal Pertama pada 19 Desember 2013 dengan rute Jakarta menuju Pontianak dan Pontianak menuju Yogyakarta.. (Baca: Nam Air)

Nama Nam Air menurut CEO Sriwijaya Air Chandra Lie berasal dari nama ayahnya, Lo Kui Nam. Sebelumnya penggunaan kata “NAM” sebagai singkatan juga telah digunakan di group Sriwijaya Air lainnya, yaitu National Aviation Management (Sekolah penerbangan), National Aircrew Management (Pusat pelatihan awak kabin), National Aircraft Maintenance (Perawatan Pesawat Terbang) dan Nusantara Aksara Mandiri (In-flight Magazine).

Seperti yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu di akun Facebook, Nam Air mengumumkan dan telah menandatangani nota kesepahaman dengan mantan Presiden RI, B.J. Habibie untuk membeli 100 unit pesawat Regio Prop R 80 yang diproduksi anak negeri itu.  Pesawat ini diproduksi oleh PT Regio, yang merupakan perusahaan patungan dari PT Ilthabie Rekatama yang dikomandani Ilham Habibie (putra B.J. Habibie) dan PT Eagle Capital milik Erry Firmansyah, mantan Dirut Bursa Efek Indonesia.

Selamat datang Nam Air! Semoga dengan hadirnya pesawat mesin jet Boeing-500 Winglet milik Nam Air ini, akan mengangkat citra Bima, karena selama ini masih banyak penumpang dari daerah lain yang enggan menggunakan pesawat baling-baling, walau operatornya Garuda sekali pun. Mari kita songsong era baru ini dengan ramah, semoga kunjungan masyarakat luar Bima ke daerah kita semakin tinggi. Semoga juga ini dapat membantu upaya pemerintah yang sedang ingin membangun pariwisata di daerah ini. Mari ramah-ramah, berhentilah marah-marah! (*)

Penulis, mantan wartawan Harian Bimeks.

Share
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

To Top