Pendidikan

SGI Bima Menolak Penerapan Full Day School

Eka Ilhma, M.Si

Bima, Bimakini.- Rencana Kemendikbud memberlakukan lima hari belajar pada sekolah mulai jenjang SD, SMP, SMA/SMK mendapat sorotan dari Serikat Guru Indonesia (SGI) Bima. Ketua Umum SGI Bima, Eka Ilham, MSi, pemberlakuan delapan jam per hari pada sekolah mulai dari pukul 07.00 hingga 16.00 WITA telah melanggar hak-hak anak dalam proses pendidikannya.

Eka mengatakan, durasi waktu yang cukup lama menimbulkan banyak persoalan di lapangan. Kalau dianalisis delapan jam per hari itu berarti ada 40 jam per pekan dalam lima hari tersebut.
“Kami menilai banyak kerugian yang bisa terjadi apabila penerapan proses belajar-mengajar lima hari ini terus dipaksakan,” ujar Eka.

Dalam penilaiannya, sisi lemah pertama berkaitan dengan kemampuan dan daya serap belajar yang akan menguras pikiran siswa. Dapat dilihat fakta lapangan pada jam keenam hingga kedelapan pada hari biasa, siswa sangat sulit berinteraksi lagi dengan gurunya. Apalagi, kalaupun gurunya tidak kreatif dan berinovasi dalam mengajar, kelas serasa membosankan bagi siswa.

“Ini artinya jika kegiatan belajar- mengajar ditambah sampai pukul 16.00, maka keterserapan pendidikan pada anak usia dini tidak akan maksimal,” katanya.

Kedua, terkait aspek mental- spiritual. Pendidikan Full Day School ini akan mematikan peran dari madrasah dan jika sekolah diberlakukan sampai sore hari, maka praktis mereka tidak bisa mengikuti kegiatan TPA dan ekstrakurikuler lainnya.

Ketiga, terkait aspek akademik. Aturan belajar-mengajar lima hari tentu pemberlakuan kurikulum seperti Kurikulum 2013 harus mengalami perubahan, karena ini menyangkut daya serap siswa terhadap materi yang diajarkan oleh para gurunya.
Disampaikannya, kalaupun hari ini proses pembelajaran seperti hari biasa maka itu tidak akan efektif bagi para siswa itu sendiri. Kurikulum lagi harus mengalami perubahan sesuai pemberlakuan Full Day School tersebut.

Keempat, terkait aspek kompetensi non-akademik. Konsep lima hari sekolah akan mengakibatkan ekstrakurikuler anak tidak tersalurkan secara baik, karena sekolah bukan hanya sekadar menerima pelajaran dari gurunya yang sifatnya akademik. Contohnya, siswa memiliki keahlian bidang olah raga, seni teater, musik, tari, dan ekstrakurikuler lainnya. Tidak akan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tersebut karena kegiatannya habis pada lima hari sekolahnya dari pagi sampai sore.

Kelima, penambahan jam belajar anak sampai 16.00 WITA akan mengakibatkan interaksi sosial anak dengan lingkungannya terbatas. Anak-anak usia dini tidak akan bermain bebas sesuai dengan usianya. Ini mengakibatkan anak-anak akan mengalami tekanan dan stres terhadap pemberlakuan jam dari pagi sore ini. “Anak-anak tidak bisa lagi mengenal lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Keenam, penambahan jam belajar sekolah akan mengakibatkan penambahan uang saku bagi anak dan guru. Karena kalaupun tidak membawa bekal dari rumah, siswa ini harus menambah uang saku dari orang tuanya untuk biaya makan mereka sampai sore yang mereka belanjakan di kantin sekolahnya.

Begitu pun gurunya akan menambah biaya lagi untuk pribadinya maupun biaya yang dikeluarkan oleh sekolah untuk makan dan minum para guru sampai sore.

Bahkan, kata dia, pembelajaran ini diterapkan bisa saja para guru ini akan pulang sejenak kerumahnya masing-masing atau membeli makanan di luar pada saat proses jam belajar maupun jam istrahat.
Ketujuh, terkait ekonomi. kebanyakan para siswa di daerah terutama di pelosok terpencil, mata pencaharian kedua orang tuanya adalah petani, nelayan, dan buruh. Tentunya anak-anak ini pada hari biasa sebelum pemberlakuan Full Day School atau lima hari sekolah, kebiasannya mereka membantu orang tuanya di sawah, laut, ladang dan kegiatan yang mendatangkan nilai ekonomi bagi keluarga.

“Pembelakuan ini, mereka sudah tidak bisa lagi membantu kedua orang tuanya,” katanya.

Kedelapan, program ini harus dibarengi kesiapan sarana dan prasarana sekolah. Untuk di daerah-daerah yang memiliki sarana dan prasarana yang tidak memadai mengakibatkan proses belajar tidak efektif.

Kesembilan, pihak orang tua belum terbiasa dengan aktivitas anak-anaknya sekolah sampai sore. Begitu pun gurunya memiliki batasan dalam mengajarkan siswa- siswinya, apabila tidak dibarengi metode mengajar dan mendidik yang menarik maka suasana kelas menjadi membosankan.

Kesebelas, seberapa efektif pembelakuan Full Day School ini pada pembinaan karakter anak. Karena pembinaan karakter anak bukan hanya pada aspek akademik namun aspek nonakademik harus diperhatikan. Keduabelas, seberapa siapkah tenaga pendidik terbiasa dengan aktivitas mengajar sampai sore dan efektifitas dari proses belajar-mengajar ini.

Berangkat dari pertimbangan di atas, SGI Bima bersama induk organisasi di FSGI Pusat mendesak Mendiknas memertimbangkan kembali Full Day School atau delapan jam lima hari sekolah sampai sore agar tidak diseragamkan seperti di kota-kota besar. (BK34)

Share
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Komentar

To Top