Opini

Pemerintah, Utang dan Cinta

Oleh: Syafruddin, S.S.*

Saat ini pemerintah Indonesia mengalami berbagai dinamika. Baik itu berkaitan dengan birokrasi pemerintahan maupun urusan sosial kemasyarakatan. Urusan birokrasipun tidak lepas dari kebijakan politik untuk menentukan siapa dan karena apa seseorang tersebut didelegasikan memegang tampuk jabatan. Sehingga, tidak heran berbagai dinamika pencopotan dan pemasangan pejabat selalu menghiasi ruang publik yang luas. Ini berlaku untuk semua level pemerintahan. Walaupun sebenarnya, tidak sedikit pemilihan figur yang tepat untuk menduduki jabatan tertentu sering dilakukan pimpinan tertinggi, dengan harapan pejabat tersebut memahami betul apa yang akan dilakukan ketika memegang jabatan itu. Dan sedikit banyak, kebijakan itu telah ditelorkan oleh pemerintah saat ini walaupun masih banyak masyarakat yang merasa tidak puasa dan itu sah-sah saja. Karena, pikiran pemerintah tidak selamanya sama dengan pemikiran kebanyakan masyarakat.

ilustrasi

Sebagai contoh, akhir-akhir ini pemerintah dan masyarakat Indonesia disibukkan dengan jumlah pengeluaram negara yang melebihi pemasukan. Hal ini tergambar dalam postur APBN Perubahan 2017, yang mana ditargetkan penerimaan perpajakan sebesar 1.732,9 triliun dan belanja negara sebesar 2.133,3 triliun. Artinya ada selisih397,2 triliun. Selisih tersebut tentu harus dibiayai oleh utang. Menteri Keuangan, Sri Mulyani pun angkat bicara. Dia menyampaikan APBN itu bisa saja tanpa utang, asal belanja negara yang jumlahnya kira-kira Rp. 397,2 triliun dipotong. Sehingga terjadi keseimbangan (balance) antara pengeluaran dan pemasukan. Salah satu konsekuensinya menurut Sri Mulyani adalah pemotongan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) di seluruh Indonesia. Sehingga, ruang publik pun kembali ramai dengan isu ini, walaupun tidak sebesar isu-isu lain seperti pertemuan antara SBY-Prabowo yang membahas isu-isu nasional.

Saat ini juga, ruang informasi baik itu cetak, elektronik maupun media sosial kembali ramai dengan rencana usulan Presiden Jokowi untuk menginvestasikan dana haji ke berbagai sektor, terutama sektor infrastruktur. Sehingga, pro dan kontra pun muncul di tengah masyarakat, terutama jama’ah sebagai pemilik dana tersebut. yang kontra mengatakan bahwa dana tersebut tidak boleh digunakan untuk investasi, mengingat kekhawatiran masyarakat atas sukses dan tidaknya investasi tersebut. Apabila, dana tersebut digunakan untuk investasi namun suatu saat investasi tersebut tidak sukses, maka jutaan jama’ah akan terancam gagal untuk menunaikan ibadah haji. Ini sebuah kekhawatiran besar yang dialami masyarakat, dengan melihat fenomena yang ada saat ini, termasuk membengkaknya jumlah utang luar negeri.

Namun, pemerintah Indonesia melalui Manteri Agama meyakinkan bahwa penempatan investasi dana haji  tetap menggunakan acuan kehati-hatian, aspek manfaat, keamanan dan keseuaian dengan prinsip syari’ah. Dan dalam penggunaan itupun tidak perlu mendapat persetujuan jama’ah sebagai pemilik dana. Mengingat dalam UU 34/2014 tentang pengelolaan keuangan haji, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) merupakan wakil yang menerima mandat dari jama’ah untuk mengelola setoran awal biayan penyelenggaraan ibadah haji (BPIH). Sehingga BPKH memiliki kewenangan untuk mengelola dana tersebut dalam bentuk investasi di bidang perbankan, seperti surat berharga, emas, investasi langsung, serta investasi lainnya.

Kebijakan untuk menginvestasikan dana haji ini tentunya sudah melalui perhitungan yang matang, termasuk menyusun pedoman jika terjadi resiko-resiko yang tidak diinginkan. Namun yang paling besar dari tujuan investasi ini adalah terhindarnya pemerintah dari peminjaman dana luar untuk membangun infrastruktur dan masyarakat Indonesia, alias utang. Penggunaan dana haji, sedikit banyak akan mengurangi ketergantungan pemerintah kepada utang luar negeri.

Namun, ada modal besar yang dimiliki Indonesia untuk menghindari bahkan untuk membayar utang luar negeri itu, yaitu cinta. Sebagai ilustrasi saja, beberapa hari lalu digelar sebuah konser kemanusiaan untuk mengumpulkan dana bagi rakyat palestina. Konser yang dikemas dengan apik anak muda Indonesia itu bertajuk We Stand Together With Al-Aqsa dengan menghadirkan Opick Tombo Ati sebagai penyanyi tunggal. Di ruangan salah satu hotel di Kota Mataram, yang menampung kira-kira seribu orang tersebut, orang tua dan anak-anak mengibarkan bendera Indonesia dan Palestina. Ini adalah simbol kecintaan orang Indonesia terhadap Palestina akibat ditutupnya Masjid Al-Aqsa. Malam itu bergetar seluruh jiwa kemanusiaan dari anak-anak dan orang tua itu untuk palestina. Cinta dan kasih sayang tercurah, melihat anak-anak palestina yang tidak bisa belajar dan beribadah akibat krisis yang panjang. Air matapun tumpah dari masyarakat yang juga mencintai Indonesia. Sehingga, dalam waktu satu jam, sekitar dua miliar lebih dana bisa terkumpul untuk rakyat palestina. Bahkan satu orang rela menyumbang seratus juta untuk Palestina. Inilah cinta. Mereka mencintai saudaranya di Palestina. Mereka mencintai rasa kemanusiaan yang di seluruh duniapun membutuhkannya.

Lalu, bagaimana dengan cinta kita kepada tanah air, Indonesia? Masyarakat Indonesia dikaruniai kasih sayang yang luar biasa. Siapa yang tidak kenal adat ketimuran yang penuh cinta dan keramahan. Cinta inilah yang membantu pemerintah membayar utang. Dengan cinta, dalam waktu satu jam, dana dua miliar lebih dapat terkumpul. Kalau ditransformasikan cinta itu kepada Indonesia, maka utang yang triliunan itu dapat terkumpul dari masyarakat dengan penuh kecintaan. Tidak ada lagi utang yang melilit Indonesia. Tidak ada lagi kekhawatiran jama’ah ketika dana haji mereka diinvestasikan. Tidak ada lagi ASN yang ribut akibat isu pemotongan gaji. Yang ada adalah kerjasama pemerintah dengan masyarakat untuk menyelasaikan masalah bangsa, salah satunya menyelesaikan utang luar negeri. Namun satu syaratnya, pemerintah harus mencintai rakyatnya. (*)

*Penerjemah pada Biro Humas dan Protokol Provinsi NTB

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share

Komentar

To Top