Ekonomi

Hasil Kopi di Kawasan Hutan di Wawo Mulai Ditagih Pajaknya

Inilah kopi yang ditanam di kawasan hutan tutupan di Wawo.

Bima, Bimakini.- Hasil hutan bukan kayu (HBK) seperti hasil tanaman kopi yang dikelola warga  pada hutan tutupan Negara di Dusun Kawae Desa Maria Utara Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, mulai ditagih pajak penghasilannya. Tagihan itu merupakan perintah dari Kementerian Kehutanan.

Pantauan Bimakini.com di Dusun Kawae Desa Maria Utara, Rabu (13/9/2017), luas areal kawasan hutan yang dikelola Kelompok Tani Oi Rida sebanyak 510 hektare (Ha). Namun, yang baru menghasilkan sekitar 150-200 Ha, selebihnya belum ada hasil, tetapi sudah ditanam berbagai tanaman produktif, seperti durian, sawo, rambutan, apokat, kemiri, dan lainnya.

Ketua Kelompok Tani Oi Rida, Arahman Ama Rina, mengaku, jumlah anggotan kelompoknya sebanyak 283 orang dengan 10 sub kelompok dengan anggota masing-masing 20 hingga 30 orang dengan perjanjian pengelolaan selama 35 tahun. Tanaman produktif yang sudah menghasilkan adalah tanaman kopi dan kemiri.

Jika hutan itu tidak dikelola dengan baik, katanya, seperti diingatkan oleh Bupati Bima, Hj Indah Damayanti Putri beberapa waktu lalu izinnya akan ditarik, sedangkan saat ini hasil yang diperoleh masyarakat dapat menyejahterakan petani. “Wajar kita ditarik pajaknya karena yang disetorkan itu untuk bangsa dan Negara,” ujarnya di Wawo, Rabu.

Sesuai informasi dari Kementerian Kehutanan, katanya, perhitungan hasil yang disetorkan adalah sebanyak Rp600/kilogram, sedangkan harga jual saat ini bisa mencapai Rp25.000/kg. Harga saat ini diakui memang turun dibandingkan tahun lalu tembus Rp30 ribu/kg. “Saya bersama anggota dengan senang hati menyetorkan sebagian hasil untuk Negara. Apalagi, hasil keringat petani bermanfaat buat kemaslahatan umum,” katanya.

Tanaman kopi, katanya, kini masing-masing sudah menghasilkan paling sedikit 100 kilogram, belasan hingga puluhan ton setahun. Tidak hanya itu, bukan hanya warga Kawae yang menikmati panen kopi, tetapi warga desa lain juga bisa mendapatkan hasil dengan ikut memanen bersama warga yang punya tanaman.

Hal senada dikemukakan petani lain, M. Yasin Said. Tahun lalu, katanya khusus untuk tanaman kemiri, sudah menghasilkan 200 ton lebih, sedangkan kawasan hutan itu saat ini ditumbuhi ribuan bibit kopi dan kemiri.

“Jika ada warga lain yang ingin mengambil bibit itu dibolehkan asal melaporkan terlebih dahulu kepada petani setempat dan bibit tanaman itu diberikan secara gratis,” katanya di Maria Utara, Rabu. (BK23)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share

Komentar

To Top