Opini

Membumikan Program GSMS Tahun 2017

Oleh: Eka Ilham.M.Si

Pendidikan karakter lewat berkesenian salah satu instrumen untuk mengatasi problem peserta didik di lingkungan sekolah. Persoalan anak didik kita pada saat ini mengalami kondisi akut atau darurat karakter, dimana pola prilaku anak-anak semakin kebablasan di luar norma-norma yang berlaku di lingkungan masyarakat.

Eka Ilham (tengah)

Prilaku anak semakin agresif dan membahayakan diri pribadinya, orang lain dan lingkungannya. Hasil analisis kami Serikat Guru Indonesia(SGI) Bima dua tahun terakhir ini tahun 2016-2017. Tingkat konflik dan penggunaan tramadol di dominasi oleh anak usia sekolah dan generasi muda mulai dari konflik antar desa yang dimulai dari konflik personal atau pribadi siswa di lingkungan sekolahnya sehingga merembet pada keterlibatan masyarakat di desa masing-masing sehingga terjadilah konflik antar desa.

Penusukan dengan menggunakan senjata sajam yang terjadi antar siswa mengakibatkan hilangnya nyawa teman sekolahnya yang terjadi di kota bima, pemukulan terhadap guru oleh orang tua siswa, penusukan siswa terhadap orang tuanya, penggunaan obat tramadol memicu prilaku siswa ke hal-hal yang negatif, dan tindakan main hakim sendiri serta konflik diberbagai kawasan kota maupun kabupaten bima merupakan sederet peristiwa yang dimana tingkat konfliknya didominasi oleh usia-usia remaja.

Pertanyaannya ada apa dengan generasi kita? ada sesuatu hal yang perlu kita lakukan pencegahan untuk mengatasi problem generasi kita ini. Hematnya penulis banyak hal yang menjadi penyebab dan akibat dari persoalan ini. Prilaku agresif yang nampak di jiwa raga generasi ini tidak semua kita menghakimi generasi kita ini bahwa mereka yang bersalah dalam persoalan ini.

Sebagai pendidik dari generasi muda dan siswa-siswa disekolah, yang menyebabkan terjadinya penyimpangan prilaku ini adalah Pertama salah satu penyumbang terbesar pembunuhan karakter adalah media tontonan televisi yang negatif, jam tayang yang berada pada jam belajar antara jam 06.00 -08.00 Pm/malam sangat mempengaruhi anak didik kita dalam aktivitas belajarnya dan kegiatan religuisnya seperti mengaji di guru mengajinya, dengan adanya tontonan favorit di atas siswa-siswi kita sebagai besar lebih mementingkan tontonan tersebut dari pada aktivitas belajarnya.

Kedua peserta didik kita ini dilingkungan sekolah maupun lingkungan kelurganya, masyarakat tidak diberi ruang kreativitas untuk bisa menuangkan kemampuannya baik itu seni, olah raga, kognitif dan psikomotoriknya, ruang-ruang itu tidak tersalurkan pada tempat yang sebaiknya.

Ketiga peranan dari pemerintah dan semua elemen dalam pendidikan karakter siswa didik tidak terlihat dalam politik kebijakan anggaran seperti pembangunan fasilitas ruang kreativitas generasi yaitug gelanggang olah raga, taman budaya dan pemanfaatan atau pembangunan fasilitas-fasilitas publik sesuai dengan perkembangan zaman dan fungsinya tidak terlihat sehingga generasi ini tidak tahu dimana mereka harus menuangkan ide-ide kreatif dan inovasi.

Keempat berbicara pendidikan karakter bukan hanya perubahan pada siswa-siswinya akan tetapi gurunya juga harus berubah sebagai role model dari pendidikan karakter itu sendiri.

Dari urian diatas, penulis melihat harus ada sesuatu gerakan kolektif yang harus dilakukan untuk mencegah dan menanamkan sikap-sikap yang lemah lembut, cinta kasih, saling menghargai dan menghormati, dan jiwa-jiwa yang selalu menebar energi-energi kebaikan pada setiap diri pribadi manusia.

Kemendikbud RI dalam hal ini Dirjen Kebudayaan RI melakukan sebuah terobosan baru dalam pendidikan karakter ini yaitu melalui program gerakan seniman masuk sekolah (GSMS) sebuah program penghargaan kepada para seniman dan guru disekolah untuk memberikan pendidikan karakter lewat berkesenian.

Sasarannya adalah guru dan siswa. Program ini bertujuan untuk mengajak siswa untuk mencintai seni dan budayanya. Program ini diharapkan nantinya ada sebuah perubahan prilaku bahkan mengarah kepada sebuah ide-ide kreatif dan inovatif dalam mendukung penanaman pendidikan karakter tersebut. Program yang dilaksanakan selama empat bulan ini yaitu september-desember akan di adakan pelatihan meliputi seni tari, seni teater, seni musik, seni rupa, dan seni media disetiap sekolah mulai dari SD, SMP, SMA, SMK selama dua puluh tujuh pertemuan. Para seniman ini akan memasuki sekolah-sekolah di kota bima, kabupaten bima dan kabupaten bima yang sudah di tunjuk sebagai pilot projek program ini.

Bulan Desember hasil dari program ini akan dipentaskan pada sebuah even yang menampilkan karya-karya inovatif oleh para seniman dan siswa – siswi disekolah. Targetnya melalui seni siswa ada sebuah perubahan prilaku yang didapat selama pelatihan.

Program gerakan seniman masuk sekolah ini adalah salah satu upaya pemerintah dalam mengatasi dan mencegah para siswa untuk memiliki ruang kreativitas. Instrumen ini dicoba digalakkan ditengan kondisi prilaku siswa didik kita yang semakin akut.

Program gerakan seniman masuk sekolah kedepannya akan menyentuh setiap sekolah untuk berpartisipasi. Melalui seni kita di ajak untuk menjadi manusia-manusia yang halus jiwanya, yang berempati terhadap sesamanya dan menjunjung tinggi nilai-nila norma yang berlaku di masyarakat.

Gerakan ini mencoba mengajak melestarikan kebudayaan lokal untuk di tampilkan untuk sebuah seni pertunjukkan tampa menghilangkan identitas kearifan lokal. Para seniman yang berlarbelakang kemampuan dibidang seninya akan berbaur dengan siswa-siswi untuk menghasilkan sebuah karya seni yang layak untuk ditampilkan. Metode-metode para seniman ini akan memberikan warna baru dan ide-ide kreatif.

Program ini tidak menjadikan siswa menjadikan seorang seniman akan tetapi program ini mengajak siswa untuk mencintai seni dan budayanya. Diharapkan ada perubahan prilaku ke arah yang positif pada diri siswa selama program pelatihan ini berjalan. Setiap siswa punya potensi pada dirinya, tinggal kita mengarahkan potensi-potensi itu ke ruang-ruang kreativitasnya. (*)

Ketua Umum Serikat Guru Indonesia(SGI) Bima

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share

Komentar

To Top