Dari Redaksi

Selamatkan Petani!

 

Suasana perebutan pupuk di Desa Donggobolo Kecamatan Woha, Rabu lalu.

AKHIR-AKHIR ini, masalah pupuk kembali mencuat ke permukaan. Para petani dari berbagai wilayah kecamatan di Kabupaten Bima mengeluhkan kelangkaan. Jika pun ada, pasti setelah melalui berbagai upaya dan harganya membubung tinggi. Dari yang biasanya Rp95.000 melejit hingga Rp200.000. Pupuk nonsubsidi yang memang agak mahal, kini hingga menembus Rp400.000/sak. Pupuk memang menjadi tumpuan masyarakat petani. Pergerakan tanaman yang dipupuki jauh berbeda dengan yang tanpa pupuk. Namun, justru di sinilah tantangannya. Di sini pula intrik dan permainan oknum tertentu yang memanfaatkan situasi.

Setiap musim tanam, suara sumbang itu selalu muncul. Protes terhadap kelangkaan dan kenaikan harga pupuk pasaran menjadi ‘lagu wajib’ bagi petani Mbojo. Di wilayah Woha dan Bolo, masalah pupuk ini menguat sejak beberapa waktu terakhir. Di kecamatan lain, kurang-lebih sama saja. Pemerintah Daerah bukannya tidak berupaya mengatasinya. Pola Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok diterapkan. Faktanya tetap saja ada masalah lapangan yang sulit diurai di mana simpul kekusutannya dan siapa yang seharusnya bertanggung jawab.

Di tengah kerumitan itu, pendapat    Kepala Desa (Kades) Monggo, Mayor Abdul Majid, bisa dijadikan bahan evaluasi. Pengecer sebaiknya melibatkan pengurus Kelompok Tani  (Poktan) saat pendistribusian, karena mereka lebih mengetahui penggunaan pupuk sesuai RDKK. Ditengarai, pemicu kelangkaan pupuk musim sebelumnya adalah pengecer menjual pupuk pada petani yang tidak memiliki lahan di wilayah setempat. Gampangnya, menjual pupuk kepada petani yang tidak termasuk dalam RDKK wilayah itu. Akibatnya, merusak sistem sasaran distribusi. Komitmen terhadap  rujukan  RDKK akan lebih menjamin  petani tidak berteriak lantang menyorot kelangkaan pupuk.

Pada prinsipnya, Pemerintah Daerah selayaknya melihat celah buram ini sebagai hal yang dituntaskan. Petani dalam cengkeraman situasi rumit. Saat musim tanam pupuk langka dan berharga melangit. Namun, saat musim panen pergerakan harga jual cekak. Jadi harus ada solusi lain yang bisa segera diterapkan untuk menjamin mata rantai distribusi pupuk aman dan terjamin ke tangan petani. Kondisi petani yang saban musim merintih soal pupuk harus segera diatasi. Selamatkan petani dari kelangkaan pupuk, ketidakberkualitasan bibit, dan buruknya sistem pengairan teknis.

Petani harus dikondisikan agar punya ruang berekspresi yang lebih luas untuk memaksimalkan produksinya. Beragam kemudahan dan bantuan dari Pemerintah Pusat harus dipastikan sampai ke tangan petani, tanpa ada potongan apapun. Harus ada rasa tanggung jawan untuk membantu mereka sesuai alokasi yang diterimanya.   Menyelamatkan petani yang mayoritas itu, berarti mendisain konstruksi kesejahteraan sosial yang hingga kini masih terus diintip upaya memercepatnya. Selamatkan petani kita! (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share

Komentar

To Top