Dari Redaksi

Ambruknya Sekolah Lesu

 

Dok. Kondisi bangunan SD Inpres Lesu Kecamatan Wawo.

KABAR tidak nyaman menyeruak ke permukaan dunia pendidikan di Kabupaten Bima. Rabu (27/09/2017) sekitar pukul 07.15 WITA, atap ruangan salahsatu kelas Sekolah Dasar Negeri (SDN) Inpres Lesu di Desa Raba Kecamatan Wawo Kabupaten Bima, ambruk. Untung saja, tidak ada yang menimpa siswa dan guru. Unggahan foto di Media Sosial Facebook yang mengabarkan kondisi itu direaksi oleh publik. Umumnya menyesalkan karena mengisyaratkan luputnya perhatian dan kegagalan negara hadir secepatnya untuk mengantisipasi.

Di Kabupaten Bima, kasus seperti itu sesungguhnya tidak lagi mengagetkan. Masalahnya adalah jika pemerintah mencermati laporan rutin sekolah, pasti ada item yang menginformasikannya. Jadi bisa diprioritaskan penanganannya karena memertimbangkan tingkat urgensinya, tanpa mengabaikan  bantuan  untuk sekolah lain. Apa yang terjadi di Lesu itu–mantan Bupati H Zainul Arifin mengubah namanya menjadi Tenggo–adalah pelajaran terbuka. Setidaknya untuk tiga hal.

Masih ada sebagian sekolah yang kondisinya tidak layak dan memerlukan sentukan anggaran secepatnya. Percepatan bantuan itu berbanding lurus dengan level kerusakan yang menggerogotinya karena faktor alam. Tinggal bagaimana UPT dan Dinas Dikbudpora membahasakannya melalui  kebijakan.

Ambruknya atap itu juga kian menambah deretan sekolah yang karena letaknya tidak strategis sehingga cenderung diabaikan. Kita berpretensi pasti sudah ada laporan soal kondisi itu, namun responsnya lelet. Padahal, proporsionalitas dalam perhatian sejatinya dilakukan terhadap fasilitas yang mendesak dibenahi. Apakah kegagapan penanganan ini karena ‘kekuatan lobi yang tidak memadai?”  Semoga saja tidak didasarkan pada kriteria sempit seperti itu.

Kasus Lesu itu pula menjadi ‘tamparan keras’ bagi UPT dan Dinas Dikpora agar lebih cermat memantau kondisi fasilitas pendidikan. Kemungkinan masih ada sejumlah sekolah pada lokasi lain yang perlu penanganan cepat. Apalagi, saat memasuki musim hujan nanti. Di Lesu itu, seperti pengakuan pihak sekolah,  kondisi seluruh ruangan kelas juga menguatirkan. Dinding dan bagian dalam ruangan banyak yang retak. Kondisi itu menguatirkan dan bisa membahayakan guru dan siswa.

Nah, percepatan respons terhadap kondisi SDN Inpres Lesu dan sekolah lainnya akan berseiringan gulirannya dengan detak waktu yang menggerogoti fasilitas itu. Siswa dan guru di Lesu harus disemangatkan melalui motivasi dan pembenahan fasilitas belajar-mengajarnya. Tanpa itu mereka akan kehilangan gairah memacu potensi terpendamnya. Jangan sampai pascakejadian ini mereka tanpa semangat. Guru dan siswa di Lesu jangan terjebak kondisi lesu. Jalan di depan  masih lempang disusuri arahya. (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share

Komentar

To Top