Dari Redaksi

‘Generasi RAMAH Lem Fox’

 


Foto Oyan:  Lem Fox yang digunakan sekelompok anak muda di Kecamatan Bolo.

PERILAKU sekelompok pemuda yang ‘memesrai’ lem Fox  hingga mabuk di kompleks pasar Sila Kecamatan Bolo Kabupaten Bima akhir pekan lalu mengundang keprihatinan. Tidak ada Tramadol, lem pun jadi. Begitu kerangka berpikirnya. Penyimpangan perilaku memaksa diri mabuk itu menunjukkan degradasi serius moral dan mental  generasi muda Bolo atau Mbojo umumnya. Bisa dibayangkan bagaimana ketika lem Fox dihirup, masuk paru-paru, mabuk, dan berakhir loyo. Pasti ada  perubahan dalam elemen jaringan syaraf dalam tubuh. Fungsi lem Fox harusnya sebagai perekat, namun beralih manfaat oleh sekelompok pemuda itu. Semoga saja hanya mereka yang berkelakuan aneh itu.

Apakah perilaku menyimpang itu menunjukkan ketergantungan sehingga lem Fox menjadi pilihan alternatif? Jika demikian, alangkah rusaknya mental sekelompok pemuda kita. Kita pantas  merisaukan dan menguatirkannya. Tentu kondisi pemuda yang memaksa diri fly ini tidak boleh dibiarkan.  Memang hukum  tidak  menjerat para pelakunya. Namun,  kasus seperti itu harus menjadi fokus perhatian bersama. Langkah lain perlu dirumuskan bersama meminimalisasi, bahkan menghentikan aktivitas aneh itu. Satu di antara solusinya adalah penguatan kapasitas keluarga. Orangtua berperan aktif memantau aktivitas anak-anak dan membimbing dan mengetatkan ruang kebebasannya. Mengawal tumbuh-kembangnya untuk memastikan mental berevolusi. Tantangan bagi keluarga dan pemerintah adalah  memutus mata rantai kebiasaan buruk itu agar tidak terbiasakan.

Ya, para pemuda  itu hanya satu contoh kegamangan sikap pada era modern. Mereka pasti terjebak faktor lingkungan yang tidak berkorelasi positif terhadap penguatan karakternya.  Harus diakui saat ini  gaya pergaulan remaja dan pemuda tergolong bebas dan  kebablasan. Jika ditegur, direaksi dengan jawaban yang kerap menyinggung hati. Kalau dipaksa secara fisik, malah berhadapan dengan Undang-Undang Perlindungan Anak maupun KUHP. Ruangan berterali besi pun menanti. Jelas, tidak ada yang mau ditimpa hal demikian.

Lalu bagaimana? Inilah tantangan kolektif  mengawal dinamika generasi menjadi Bima RAMAH. Tidak hanya tugas dan tanggungjawab pemerintah, tetapi juga semua elemen. Dampak atas degradasi moral dan mental generasi muda merupakan persoalan serius dan nyata. Jangan dianggap sebagai kenakalan remaja. Ke depan,  kita perlu memberikan ruang yang lebih luas kepada guru, ulama, dai, Pondok Pesantren, maupun Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) untuk menggembleng karakter mereka. Kita titip kepercayaan kepada mereka untuk mengikis mental narkoba, PCC, Tramadol, lem Fox, maupun Komix menjadi mental yang bebas dari pengaruh obat-obatan perusak. C Jika dibiarkan terus terjadi, lambat laun mental dan moral generasi akan mengalami titik puncak kerusakan yang utuh.

Generasi yang bebas dari obat terlarang akan melahirkan generasi yang kuat membela agama dan negaranya. Cita-cita menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati, tentu tidak akan tercapai apabila generasi penerus ikhtiar itu dalam kondisi menguatirkan.  Menjaga NKRI harus diawali pembinaan generasi bermental positif dan kuat,  bermoral tinggi. Semua pihak dituntut keseriusannya mewujudkan generasi bebas dari pengaruh obat terlarang. Spanduk, baligo, pampflet, maupun imbauan tidak berpengaruh signifikan untuk menekan lajunya grafik pemakaian maupun peredaran obat terlarang. Pendekatan akidah dan karakter harus segera diimplementasikan.

Kita berharap, generasi doyan lem Fox bukan gambaran fenomena gunung es di daerah ini. Mari selamatkan mereka. Tidak ada yang bisa diharapkan dari moralitas komunitas generasi yang memaksa diri mabuk seperti itu. Kita tidak butuh ‘generasi RAMAH lem Fox’. Kita menunggu generasi cerdas, lincah, dan kreatif berikut menyiapkan dirinya menghadapi kompleksitas tantangan masa depan Mbojo dan Indonesia. (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share

Komentar

To Top