Dari Redaksi

MTQ di Arena Konflik?

 

Foto Herman: Aparat saat mengamankan suasana di areal persawahan Dadibou-Risa.

BENTROK antarkelompok warga Desa Risa dan Desa Dadibou Kecamatan Woha Kabupaten Bima kembali meletus, Rabu (18/10/2017) sore. Kali ini pemicunya tergolong sepele, gara-gara pelajar satu sekolah asal dua desa terlibat perkelahian di luar lingkungan sekolah. Memang bukan hal baru di wilayah itu para pelajar berkelahi di jalanan. Namun, seperti edisi-edisi sebelumnya, perkelahian pelajar itu di-folow-up-i oleh kerabat, sahabat, dan orang kampung. Akibatnya, hal yang cuma sepele dan melibatkan beberapa orang, kini berkembang menjadi konflik antarkampung.

Peristiwa perkelahian kelompok warga itu merupakan yang kesekian kalinya. Memori publik Mbojo sudah familiar. Kapolres kerap kelabakan. TNI ikut dimintai bantuan. Beberapa tahun belakangan ini, emosi sumbu pendek pelajar meresahkan. Bahkan, islah pun sering terjadi. Akan tetapi, sewaktu-waktu kembali meletus, meski sebab awalnya hanya hal sepele. Artinya, kelompok warga dua desa masih terbelit sumbatan komunikasi. Sepertinya perlu penelitian dan kajian lagi untuk melahirkan solusi yang diinginkan bersama. Di mana sesungguhnya akar konflik ini muncul dan bagaimana upaya meredamnya.

Kita berharap bentrok antarkelompok warga dua desa tersebut tidak berkepanjangan. Apalagi, pada 26 Oktober 2017 nanti Kabupaten Bima menjadi tuan rumah Musyabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat. Halaman persiapan Kantor Pemerintah Kabupaten Bima, Dusun Godo Desa Dadibou Kecamatan Woha, menjadi pusat MTQ. Tentu saja, dalam ajang regional ini menghadirkan banyak tamu dari seantero NTB ini, kita ditantang untuk menghadirkan kenyamanan dan ketertiban. Jauh dari riuh-rendah konflik, pamer senjata tajam, apalagi rentetan tembakan membabi-buta dari kelompok warga. Jika konflik kelompok warga di sekitar arena MTQ itu tidak secepatnya diselesaikan, maka tagline Bima RAMAH dipertaruhkan. Bayangkan saja, saat MTQ dihelat, konflik muncul lagi, kaum muda beremosi sumbu pendek berkejaran. Senjata api meletus dan menghentak suasana. Jalanan diblokir. Mungkin gambaran berlebihan, tetapi merujuk pengalaman empiris selama ini wilayah Woha selalu memunculkan “sensasi yang mendebarkan dada” dan merepotkan aparat.

Tidak perlu ada celetuk kata menyalahkan seseorang maupun kelompok tertentu berkaitan pertikaian kelompok warga. Persoalan bentrok antarkelompok warga bagian dari dinamika masyarakat  yang menurutkan ego dan nafsu. Seandainya salahsatu pihak mau mengalah, tentu saja konflik tidak terjadi. Namun, dalam konteks ini sekali lagi tidak perlu dicari siapa yang salah dan benar. Saatnya  merumuskan solusi agar ke depan tidak lagi muncul bentrok, pemalangan jalan umum, penghasutan, penebaran berita-informasi hoax atas nama kepentingan, serta menyalahkan pihak lain. Intropeksi diri sejak dini,   abaikan kepentingan politik, ego kelompok, maupun memanfaatkan rakyat menguras pundi APBD melalui   berbagai program yang sama sekali tidak bersentuh langsung dengan akar persoalan sesungguhnya.  Masyarakat tidak hanya membutuhkan sentuhan saat konflik terjadi. Realisasi janji setelah islah ditunggu oleh masyarakat.

Hal yang jelas jangan sampai momentum MTQ ada yang mencari sensasi liar tidak terkendali. Pengondisian suasana nyaman, aman, dan tertib adalah hal urgen yang harus dilakukan detik ini. Segera sterilkan areal Woha dan sekitarnya. Bayangkan, betapa malunya Dou Mbojo jika suasana konflik muncul di tengah perhelatan MTQ. (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2
Share

Komentar

To Top