Dari Redaksi

Program Inovasi Dadibou

 

Pemuda Risa dan Dadibou saat mengucapkan ikrar perdamaian di Kantor Camat Woha, beberapa waktu lalu.

BADAN Kesatuan Bangsa Kabupaten Bima  memfasilitasi pertemuan bersama unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika)  Woha dan Kepala Desa (Kades) Dadibou bertemu di kantor kecamatan  setempat,  Selasa (03/10) lalu. Pihak TNI juga hadir. Mereka membahas program inovatif penanganan konflik berbasis kearifan lokal (local wisdom). Pemilihan Dadibou suatu langkah tepat, menyusul sejumlah insiden yang menyeret kelompok warga setempat. Selain itu, seorah menjawab pertanyaan sebagian publik soal seringnya kata Dadibou masuk dalam isu ketegangan dan konflik dengan kelompok warga desa tetangga. Sebagai ikhtiar, memang patut diapresiasi. Memang tidak langsung berpretensi

mengatasi konflik yang sering komunal. Namun, paling  tidak, sebagai embrio  musyawarah yang akan menguatkan masyarakat dalam memecahkan segala masalah.

Program Inovasi berlokasi di Dadibou harus didukung bersama. Konflik sosial yang menyeret warga desa di poros jalan negara itu rawan masalah jika dibiarkan. Harus dicari apa sebenarnya akar masalah yang memicu ‘ledakan partisipasi kelompok masyarakat dalam emosi sumbu pendek’ seperti suguhan pahit selama ini. Pasti ada faktor internal dan eksternal yang memenggaruhinya. Dalam konteks ini, pandangan Camat Woha, Chandra Kusuma, patut disimak. Dinilainya, Dadibou sebenarnya bukan wilayah konflik, hanya saja desa lain yang memicu permasalahan sehingga warga setempat mau tidak mau harus memertahankan wilayahnya.

Kita berharap kegiatan rembuk desa melalui program inovatif  mampu mengikat emosi masyarakat dalam satu semangat kolektif mencari penyelesaian terbaik ketika berhadapan dengan masalah. Mencari solusi untuk mencapai mufakat. Masyarakat dan Kepala Desa Dadibou tentunya sudah mampu merefleksi rangkaian kasus yang terjadi dan ditangani selama ini. Kemunculan konflik yang diikuti pamer senjata api rakitan, lingkungan sekitar yang ditengarai dijejali minuman keras, Narkoba, dan pil Tramadol, juga merupakan poin lain yang berpengaruh. Artinya, penekanan program ini juga harus melibatkan wilayah sekitar agar hasilnya maksimal.

Urgensi program inovatif ini tentu saja akan berkaitan dengan keberhasilan dimensi pembangunan dan visi-misi Bima RAMAH. Dadibou yang berada di pusaran ibu kota Kabupaten Bima merupakan lingkungan strategis yang menjadi ikon. Kondisi Kamtibmas harus mantap dan masyarakat dikondisikan terbiasa (lagi) menyelesaikan persoalan secara musyawarah-mufakat, dalam ‘kepala dingin’ dan elegan.

Jika Dadibou dan sekitarnya sering memroduksi kegaduhan suasana, terutama konflik komunal dan memblokir ruas jalan negara,  resonansi peristiwanya akan menasional, bahkan mendunia. Dalam kondisi kemajuan teknologi infomasi dan era digital saat ini, kemudahan berinteraksi melalui Media Sosial, maka letupan ringan saja di Dadibou—misalnya–bisa menjadi viral dan mengundang ketidaknyamanan.

Sekali lagi mari kita mendukung program inovasi penanganan konflik berbasis kearifan lokal ini. Semoga berpengaruh signifikan terhadap perubahan suasana menuju Dadibou yang lebih kondusif. Semoga! (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share

Komentar

To Top