Dari Redaksi

Road Show Gubernur NTB

 

Gubernur NTB, Dr. TGH. M.Zainul Majdi berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Fusha Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Minggu, (01/10/2017).

SEBULAN terakhir, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB),  HM Zainul Majdi, melanglang buana ke berbagai wilayah. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga luar negeri. Selain tugas pemerintahan, juga memenuhi undangan ceramah pada lembaga pendidikan dan pondok pesantren. Memaparkan pengalamannya memimpin NTB, keseriusannya memoles pariwisata, dan multiaspek pembangunan NTB. Selain itu, memotivasi kaum muda dan mahasiswa agar menyiapkan diri untuk peran masa depan. Kapasitasnya yang cenderung ganda, umara sekaligus ulama, telah menempatkan figur muda ini sebagai magnet bagi pihak luar. Bahkan, Tuan Guru Bajang—panggilan akrabnya—disebut-sebut sebagai figur yang layak diduetkan dengan calon pemimpin Indonesia masa depan.

Suami Hj Erica ini memang fenomenal. Dua kali terpilih sebagai Gubernur NTB dalam koleksi suara meyakinkan. Bagi Emha Ainun Nadjib, Budayawan Nasional, figur Zainul Majdi bukan merupakan Kepala Daerah hasil Pilkada. Dia menganggap masyarakat kultural mendaulat TGB menjadi pemimpinnya. Pilkada hanya resepsi  doang atau mengikuti Pilkada hanya untuk memenuhi formalitas demokrasi. Selain itu, pencapaiannya dalam ber-NTB juga mentereng. Seabrek prestasi telah tersaji dalam berbagai bidang pembangunan, nasional hingga internasional.

Momentum Hari Pers Nasional yang dihadiri Presiden dan para Menteri di Lombok, kian mengorbitkan namanya. Usai  menyampaikan sambutan penuh daya pikat dan pesan simbolik, Zainul Majdi memanen pujian. Wartawan senior yang juga mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, menyebutnya sebagai sosok yang punya panggung luas untuk masa depan Indonesia. Mendapat apresiasi tokoh sekelas Dahlan, memang punya kredit poin tersendiri.

Masyarakat NTB tentu saja berbangga terhadap kiprah sang Gubernur. Tidak banyak pejabat yang diundang ke daerah lain untuk didengarkan pengalaman dan tausiyahnya. Jika diamati, penuturan Doktor Tafsir Al-Quran lulusan Universitas Al-Azhar Kairo ini memang lugas, runut, sistematis, plus solusi tawarannya. Setelah mamaripurnakan tugasnya di Bumi Gora nanti, sangat disayangkan memang jika Zainul tidak segera terlibat dalam suatu tugas baru yang lebih menantang. Ya, dalam skala yang lebih luas dan beban kerja yang lebih berat lagi untuk kemaslahatan. Kita mendukung hal itu.

Meski demikian, road show Gubernur NTB bukannya tanpa kritik. Politisi Partai Nasdem, Raihan Anwar, menuding Gubernur sudah tidak lagi fokus mengurus daerah dan lebih ingin bermetamorfosa ke tingkat nasional. Padahal, masih banyak ‘pekerjaan rumah’ yang harus difokuskan, ketimbang sering berkeliling.  Dalam kemasan bahasa dugaan Raihan “barangkali Gubernur sudah terjebak kemapanan kekuasaan, sehingga tidak bergairah lagi untuk memecahkan masalah di NTB, karena ingin bermetamorfosa ke nasional”. Harus diakui pula, kadang kala kritikan soal porsi kue  pembangunan antarpulau di NTB muncul mengiringi dinamika Bumi Gora ini.

Lalu bagaimana? Dalam posisinya’ saat ini, tentu saja fokus pada masalah ke-NTB-an merupakan keniscayaan bagi Gubernur. Jebakan ‘menasional’ dan potensi bermetamorfosa memang menggoda, tetapi saat  bersamaan harus menjamin fokus ber-NTB terpenuhi. Tugas pemimpin memang memotivasi.  Kita harapkan Gubernur juga sigap hadir jika diundang oleh kelompom masyaraka  di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, untuk memotivasi dan mendengarkan suara rakyat. Masalahya, jika disampaikan oleh para pejabat pasti akan sangat berbeda ‘artikulasi, intonasi, dan muatan pesannya’. Saat akhir masa pengabdian, jangan sampai muncul kesan dan kecemburuan karena Gubernur lebih sering menyapa masyarakat luar ketimbang bercengkerama di bilik domestik. Undangan road show adalah ekspresi apresiasi, namun fokus pada medan amanah tugas adalah keniscayaan. Bagaimana pandangan Anda? (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share

Komentar

To Top