Opini

Seni dan Sastra: Modal Gerakan Perubahan

 

Oleh: Eka Ilham.M.Si

Eka Ilham

Bukan karena perjuanganlah kita menjadi seniman, tetapi karena kita seniman maka kita menjadi pejuang. Kalau seni yang indah tidak mengungkapkan gagasan moral, gagasan yang menyatukan orang, itu bukanlah seni, hanya hiburan. Orang perlu dihibur untuk menjauhkan kekecewaan dalam kehidupan.

Pada masa Shakespeare, tujuan hidup warga negara biasa, buat semua orang kecuali bangsawan, bukanlah meningkatkan harkat hidup, tapi mempertahankan harkat yang sudah ada. Kadang-kadang kita lebih gampang muncul dari kesalahan daripada dari kebingungan. Hanya dengan jalan membaca roman orang dapat memperoleh pengalaman-pengalaman lain dan hanya dengan membaca sajak orang dapat mengenal berbagai perasaan murni yang ada pada manusia tetapi yang sering disembunyikan.

Seni dan sastra pada khususnya puisi memang bukan hanya sebagai pemompa semangat. Kadang bisa pula berperan sebagai ruang refleksi. Ruang dimana kita dapat melihat kenyataan dalam getar jarak dan rasa. Puisi mengajarkan kita tentang makna bercermin diri tidak ada yang tersakiti maupun menyakiti sebab kita memerankan diri kita sendiri untuk sama-sama mentertawakan diri kita sendiri dalam dunia semu maupun dunia nyata. Saat tersentuh perasaan kita pada ketidak adilan puisi bisa membawa luka itu.

Ketika penindasan berlangsung tampa pemberitaan novel mampu menghidupkannya. Itu sebabnya para pemimpin koruptur sangat benci pada teater, puisi dan novel. Banyak penguasa tak menyukai efek itu. Berulang kali karya seni dan sastra di anggap sebuah pembangkangan dan sumber perlawanan bahkan pada masa kediktatoran oleh para pemimpin dunia banyak karya seni dan sastra dihilangkan dari peredaran.

Ada berapa banyak para penyair dam seniman di culik ataupun dibunuh sampai hari ini tidak ditemukan jasadnya. Sebut saja salah satu penyair Wiji Thukul di culik dan dihilangkan karena ke kritisannya dan dianggap subversi. Karya seni dan sastra yang seharusnya merupakan cerminan bagi kita akan menjadi berbahaya bagi pembaca atau penikmat yang melakukan sebuah ketidakadilan dan tidak amanah pada jabatannya. Bagaimana syair-syair puisi, novel, teater, lukisan maupun roman efeknya lebih menghantam daripada sebuah aksi ataupun demonstrasi.

Pada mulanya sebuah sistem pemerintahan yang buruk akan melahirkan sebuah gerakan dari elemen masyarakat untuk menuntut sebuah perubahan pada sistem itu. Korupsi dan budaya malu sudah tidak ada melahirkan sebuah tindakan kesewenang-wenangan baik itu berupa kebijakan maupun tindakan melahirkan sebuah persoalan. Lukisan yang suram itu membawa resiko dan bencana. Sebut saja penyair sekelas Rendra dan Taufik Ismail mengungkapkan keresahannya dalam bentuk puisi atau sajak.

Mereka menginginkan dibalik puisi itu ada sebuah gerakan perubahan. Kalaupun bukan mereka yang melakukan perubahan itu paling tidak mereka adalah pemantik dari sebuah gerakan perubahan tersebut. Rendra dengan sajak sebatang lisongnya dan Taufik Ismail dengan puisi aku malu menjadi manusia Indonesia dan Wiji Thukul dengan gagah memahat kata-kata tentang ketidakadilan pada saat itu: Jalan raya dilebarkan/kami terusir/mendirikan kampung/digusur/kami pindah-pindah/menempel ditembok-tembok/dicabut/terbuang/kami rumput/butuh tanah/dengar!/ayo gabung ke kami/biar mimpi jadi presiden!

Puisi ini bukan hanya mengoreksi kebijakan pembangunan tapi meniupkan kecaman keras atas praktek penggusuran yang terjadi di kota-kota besar bahkan puisi ini masih bisa menggambarkan pada praktek pembangunan di daerah saat ini bagaimana kebijakan di daerah menjadikan alam, gunung, pantai dan laut sebagai konsep pembangunan moderen yang mengenyampingkan keseimbangan alam.

Tidak salah alam pun marah atas keserekahan manusia yang berlindung atas nama pembangunan. Tak hanya persoalan pembangunan akan tetapi persoalan pendidikan tidak luput dari seni dan sastra. Kumpulan Puisi “Guru Itu Melawan” karya Eka Ilham, saya coba menerjemahkan sebuah peristiwa apa yang saya lihat bagaimana guru ini bukan hanya dihadapkan pada persoalan profesi akan tetapi berbicara tentang kesehjahteraan guru, sarana dan prasarana, korupsi dan budaya pungli bahwasannya banyak persoalan yang kadang kala kita acuh tak acuh dan mengganggap itu sebuah kebiasaan.

Di Bantul Yogyakarta tingkat perceraian sangat tinggi itu adalah dari kalangan guru yang bersertifikasi(Sumber: Eko Prasetyo). Ada apa dengan persoalan ini tingkat kesehjahteraan tinggi akan tetapi banyak persoalan. Kesehjahteraan tidak menjamin kebahagian bagi para guru bersertifikasi apalagi bagi guru-guru terpencil yang kebanyakan disebut guru sukarela atau lebih tepatnya guru relawan.

Ada sebuah ketidakadilan pada para guru-guru terpencil ini. Mereka hidup dalam keterbatasan. Gaji terbatas tanggung jawab tampa batas. Mereka hidup di gunung-gunung dan pelosok daerah yang terpencil. Bergelut dengan lumpur di musim hujan, jalanan yang rusak, gedung sekolah yang sebentar lagi mau ambruk menunggu waktunya, WC tidak ada.

Bantuan ruang kelas belajar dan perpustakaan atau sarana dan prasarana tidak tercover oleh dana APBD atau APBN. Tetapi sekolah yang tidak lengkap sarana dan prasaranya serta berada di lokasi terpencil justru banyak melahirkan banyak prestasi di tengah keterbatasan. Begitupun gurunya menjadikan profesi guru adalah sebuah pengabdian, mereka tidak pernah menyerah ditengah keterbatasannya. Sebaliknya sekolah yang mentereng tidak menjamin kuslitas siswanya berprestasi ditengah berlimpahannya fasilitas di sekolah moderen itu.

Kualitas untuk bertahan dari segala rintangan lebih dapat dilalului oleh generasi yang berjuang untuk mimpi-mimpinya. Generasi kota mudah putus asa karena memang mereka di didik oleh kemanjaan, efeknya mereka tidak bisa bertahan menghadapi problem kehidupannya. Potret pendidikan seperti di atas lebih renyah di tuangkan dalam sebuah kumpulan puisi “Guru Itu Melawan” karya Eka Ilham Ketua SGI Bima yang terbit pada tahun 2016.

Inilah kekuatan karya memang bentuk adalah indah, jika mengandung gagasan didalamnya, apa gunanya dahi yang cantik, jika tidak ada otak dibaliknya?. Karya seni dan sastra diperankan untuk mengatakan dan menyatakan sesuatu. Karya seni bukan hanya jembatan realitas melainkan suara pemberontakan. Pada karya sastra bukan hanya fiksi tapi juga mampu merekam fakta dan data.

Karya sastra hampir-hampir tak banyak diminati. Kegiatan seni terjatuh dalam aktivitas yang menghibur atau mulai di adili oleh keyakinan. Hingga muncul anggapan seni tak punya faedah sama sekali dalam pembangunan. Kita benar-benar berada dalam masa gelap karena tak mengetahui kalau sastra dan agama itu erat hubungannya. Dalam bahasa sederhananya semua sastra yang baik itu selalu religius.

Memang banyak diskusi di lingkungan kampus dan sekolah tetapi kebanyakan mendiskusikan tentang sinetron-sinetron yang lagi naik daun pada saat ini. Topik kisahnya berkisar antar soal-soal keseharian dengan kemasan bahasa yang populer dan berkisar antara pilihan untuk mencintai, kehilangan kekasih hingga merajut hubungan yang lama dipendam. Tak banyak karya seni dan sastra mengungkit kesadaran atas ketimpangan, jerit ketidak adilan dan kisah manusia yang berjuang dengan nilai-nilai universal.

Sastra malah melucuti semangat persaudaraan sesama manusia dan lebih meneguhkan identitas agama dan ras. Itu sebabnya menulis bukan hanya bertamasya, bukan bagian kegiatan yang menginspirasi, mengubah dan membangun proyek alternatif. Menulis di dangkalkan pada keterampilan dan menulis kerap kali jadi sarana untuk menyebarkan hoaxs, pandangan dan permusuhan.

Padahal Putu Wijaya dengan meyakinkan berkata mengarang adalah berjuang: …Mengarang pun menjadi seperti ibadah. Mengarang adalah bekerja…seperti petani yang mencangkul sawah dan merasa dirinya berguna, walaupun hasilnya tak cukup buat makan, saya terhibur dalam mengarang karena punya fungsi. Merasa punya arti minimal didalam kehidupan, tidak sekedar penumpang gelap.

Dengan mengarang saya berpikir, mencari, berdoa, berzikir dan melihat ketidakberdayaan saya di sampingNya yang tak terbayangkan bahkan juga tak tersentuh walau telah saya coba gapai. Terlepas dari hasilnya, mengarang menjadi sebuah peristiwa pembelajaran karena dengan begitu saya lebih mengenal diri saya sendiri, tahu dimana kekuatan dan kelemahan saya, sehingga lebih tahu batas jelajah wilayah saya.

Kerendahan hati dan peneguhan sikap merupakan landasan jiwa sastrawan. Putu Wijaya menguatkan itu dalam pengantarnya. Maka sungguh keterlaluan jika sekolah dan kampus menanamkan banyak training motivasi tanpa percaya bahwa seni dan sastra lebih punya kekuatan yang unggul dalam memotivasi. Ketika sekolah dan kampus kehilangan kekuatan dalam memberi inspirasi maka perannya digantikan oleh dogma, doktrin, dan fanatisme. Dogma menyuruh siswa dan mahasiswa untuk percaya begitu saja.

Doktrin telah membawa siswa dan mahasiswa merasa diri lebih unggul dari segalanya. Kemudian fanatisme membuat mereka kurang toleran dengan pandangan yang beda. Kini suasananya kian sumpek karena tulisan begitu banyak bermunculan tapi kadang beraroma kebencian. Kita terkejut dengan banyaknya berita hoax yang disebar dan mendapat pembaca yang luar biasa banyaknya. Seakan berita dungu , kontroversial, dan belum tentu benar lebih mudah dipercaya. Kebutuhan kekuasaan hari ini adalah menguasai semuanya dengan menutup lahan oposisi.

Kian bahaya jika oposisi dihancurkan kita bisa kehilangan alat ukur legitimasi. Di samping hoax memang membuat kita berada dalam situasi horor karena tiap kebencian di produksi dengan gampang dan mendapat pembaca lumayan. Kita kehilangan rakitan tulisan yang indah, menyentuh dan memberi bekal renungan. Tulisan tak hanya jatuh pada bahasa slogan tapi juga teraktualisasi dalam bahasa keji.

Aksara dengan golok kini sama-sama fungsinya: menyembelih akal sehat. Itu sebabnya ada kebutuhan bagi elemen gerakan untuk menghidupkan lagi bahasa perlawanan yang puitik, indah, dan menginspirasi.

Kreativitas yang digali bermula dari perlawanan atas bahasa palsu yang kini beredar dimana-mana. Persis seperti bait sajak GUS MUS: ? Apalagi yang bisa kita lakukan bila pernyataan lepas dari kenyataan janji lepas dari bukti hukum lepas dari keadilan kebijakan lepas dari kebijaksanaan kekuasaan lepas dari koreksi ?

Apalagi yang bisa kita lakukan bila kata kehilangan makna kehidupan kehilangan sukma manusia kehilangan kemanusiaannya agama kehilangan Tuhannya ? Bait sajak ini menyimpan kritik dan kekesalan. Jika di ucapkan dalam kalimat yang indah dengan intonasi pas maka puisi ini mengalirkan kesadaran.

Pada keadaan kita hari-hari ini dan atas situasi yang sedang kita hadapi. Maka puisi bukan lagi senjata melainkan juga tirai penyibak kesadaran palsu yang lama tertanam. Karena itu puisi bisa merupakan senjata untuk menghentakkan kesadaran naif yang tertanam begitu lama. Kesadaran kalau beragama itu harusnya tak menghilangkan rasa kemanusian, kalau sekolah atau kuliah tidak mengerdilkan petualangan dan kekuasaan tak bisa mengabaikan kebijakan.

Pada wadah puisi kita dapat mengalirkan emosi, kepeduliaan, dan kecemasan kita tentang sesuatu. Maka puisi bisa menukik dalam simbol-simbol yang akrab, mudah, gampang dan renyah. Diam-diam sastra memberi kita kemampuan berfikir yang mengarah pada ‘pemrosesan secara mendalam’ dimana pengetahuan terakit dalam perolehan yang penuh perenungan, imaginatif dan tentu kritis.

Pada konteks seni dan sastra sebagai modal gerakan perubahan puisi tetaplah punya kekuatan ganda. Puisi bisa merekam rasa rindu, cinta, dendam, ketentraman, kebahagian, keinginan, keterkejutan, kekaguman, suka, duka dan sebagainya. Sebab puisi memiliki senjata utama yang bernama intuisi: kemampuan menembus kedalaman objek , dapat melakukan refleksi dan memperluasnya secara tak terbatas.

Puisi itu adalah menangkap pesan. Kini saatnya kita menunaikan gerakan puitiknya untuk perubahan. Melalui perantara puisi kita tak hanya dilatih untuk peka secara emosi melainkan juga evokatif, kita terangsang pada perasaan imagi tertentu. Karena karya seni selalu menghubungkan pengetahuan seseorang tentang dunia dengan kesadaran diri yang bersangkutan. Karena itulah puisi maupun karya sastra lain bisa memberi kekuatan pada subjek siapa saja untuk memenuhi panggilan historisnya.

Idza qallal ma’ruf sharamunkaran waidza sya’al munkaru shara ma’rufan (apabila ma’ruf telah kurang diamalkan maka dia menjadi munkar dan apabila munkar telah tersebar maka dia menjadi ma’ruf) (*)

 

Penulis adalah

Ketua Umum Serikat Guru Indonesia(SGI) Bima

Pelaksana Kegiatan Gerakan Seniman Masuk Sekolah(GSMS) Tahun 2017

Pendiri/Ketua Umum Pertama Sanggar Rimpu Bima-Yogyakarta

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share

Komentar

To Top