Opini

Jejak Para Juru Damai

Oleh: Mawardin

ilustrasi

Kalau saja api pertikaian antarkelompok Bima dengan kelompok Flores (Senin, 9 Oktober 2017) tidak segera dipadamkan dengan embun kasih, mungkin saja hawa dendam akan terus menyala di Tanah Merah, Koja, Jakarta Utara. Inisiatif para ‘kepala suku’ dari kedua etnis untuk memprasastikan tugu perdamaian, layak diapresiasi sebagai kaca bening tempat kita bercermin bahwa konflik–apapun bentuk dan jenis serta manifestasinya–adalah perilaku kontraproduktif yang justru menghadirkan ion negatif, lalu menghancurkan segalanya. Seraplah energi ‘damai’, dari situ mengalir ion positif, kemudian menumbuhkan ilalang harapan.

Insiden berdarah yang melayangkan nyawa satu orang itu memang patut disayangkan. Mereka sesama perantau. Datang dari Timur nan jauh pula. Mencari makan di ibukota Jakarta dengan iklim kompetisi yang keras. Saya membayangkan kawan-kawan kita itu, alangkah syahdunya saling membantu untuk urusan pekerjaan daripada mengangkat “senjata” untuk hal-hal konyol. Sudah susah mengeristalkan keringat guna mengais rizki, jangan menambah beban lagi. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing.

Memang tidak sesederhana itu. Namun,  kala ada masalah, lebih produktif diselesaikan dengan konstruksi komunikasi yang baik, membatini ruang kehendak masing-masing. Kerapkali, sekeping masalah sepele, berujung bentrokan terbuka. Gegap gempita gesekan antar kelompok, khusus di Jakarta, kerapkali ‘produk’ dari lemahnya penegakan hukum. Pengadilan jalanan adalah sebuah kompleksitas. Aparat penegak hukum yang diharapkan bergegas menertibkan situasi–jauh panggang dari api–lantas bersahutan dengan ‘migrasi’ kultural dari perantau yang masing-masing berwatak khas, lalu terjadilah institusionalisasi dendam dalam sengkarut “main hakim sendiri”. Akibatnya, bacok dibalas bacok, atau nyawa dibayar nyawa.

Merujuk pada geger antarkedua kelompok yang sejatinya punya ikatan emosional yang intim itu, bahwa kisah air mata itu cukuplah sampai di sini! Maka percikan embun perdamaian yang diinisiasi oleh para juru damai layak dibasuh ke wajah kita, lalu bergandengan tangan dan bersatu padu yang berorientasi kemajuan bersama. Komunikasi dari hati ke hati adalah inti penyelesaian masalah yang efektif. Membangun konsolidasi untuk melawan musuh bersama berupa jepitan kompleks perihnya bermata pencaharian di ibukota lebih konstruktif ketimbang saling memotong sesama akar rumput.

Mari kita menyerap energi tatap muka dan tatap jiwa kedua suku serumpun, dalam rekonsiliasi total di RM Sari Indah Kebayoran Jakarta Selatan (Ahad, 15 Oktober 2017). Berkat kedewasaan kedua belah pihak, maka disadarilah bahwa insiden itu murni perkelahian biasa, antar orang per orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan perang antarsuku, apalagi antarpemeluk agama. Pesan-pesan komunikasi yang menyejukkan, penuh nilai, dan kebajikan universal. Jangan sampai digeneralisasi, terlebih diboncengi oleh operator kerusuhan yang tidak bertanggung jawab. Selebihnya, biarlah penegak hukum menindaklanjuti, tentu dengan harapan terpenuhinya rasa keadilan pihak-pihak terkait.

Pencegahan adalah yang utama. Sebab bukan rahasia lagi, di kalangan pemerhati dunia gangster ibu kota, bahwa seinci masalah kalau dipanjang-panjangkan, dipanas-panaskan berpotensi untuk menambang Dollar dalam semarak bisnis kekerasan. Tetapi mereka yang turun gunung selaku juru damai, tidak mau menjadi raja tega. Akal waras dan nurani lebih dinomorsatukan daripada glamorisasi dan pesta pora di atas ekspoloitasi darah ‘kaum proletar’.

Dari Sari Indah Kebayoran Jakarta Selatan itu, berkumpullah para begawan dari kedua etnis nan militan dari Timur Nusantara itu. Mewakili sesepuh masyarakat Bima-Jakarta hadirlah Ghazaly Ama La Nora, salahsatu pimpinan Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB) yang dibentuk Hercules Rozario Marshal. GRIB bukanlah “gangster” atau paramiliter, tetapi sebentuk Ormas yang aktif dalam kerja-kerja kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat. Adalah Hercules pula yang mendukung kenduri damai pascaseteru dua kelompok Timur itu. Lakon mantan penguasa Tanah Abang itu sejurus nasionalismenya yang pro-NKRI  kala jejak pendapat di Timor Timur yang memang tidak ingin sesama anak bangsa berpecah-belah.

Darah persaudaraan yang melebur, itulah kemudian yang menggerakkan ruh kasih Petrus Selestinus, pengacara beken dan aktivis Pembela Demokrasi Indonesia asal Flores itu, untuk mengontak saudara-saudaranya dari Bima. Bertautan dengan Ghazaly GRIB yang juga Dosen Komunikasi Politik Universitas Mercu Buana Jakarta.

Di tengah-tengah ritus penyelesaian adat guna menyetop amuk kedua kerabat itu, hadir Zakaria Kleden, tokoh “preman senior” asal Pulau Bunga, yang sangat disegani anak muda NTT di Jakarta. Dari sebuah sumber Tempo, Zaka yang berkibar di bawah bendera bisnis sekuriti  terbilang tokoh yang komunikatif, tidak pelak di masanya jarang terjadi benturan berdarah dengan kelompok serupa, misalnya Jonni Sembiring dari Sumatera, Rozali dari Banten, Daeng Effendi Talo dari Makassar dan sebagainya. Hal yang sama pula diterapkan Zaka dalam insiden Flores Vs Bima, bahwa selama komunikasi dilakukan dengan baik, maka konflik bisa dicegah.

Setali dengan jejak mediator representasi pemuda Bima Jakarta, Raul Kalila. Akrab disapa juga Iron Kalila adalah soulmate Umar Kei, pentolan Front Pemuda Muslim Maluku. Kiprahnya dalam dunia kepengacaraan dan kepemudaan ibu kota memudahkan hadirnya komunikasi lintas batas, lalu mengaktifkan sel-sel anak muda pro cinta damai. Ada pula tokoh pengacara nasional Mujahid Latief yang berkibar sewaktu huru-hara politik Fahri Hamzah. Bersama Badan Musyawarah Masyarakat Bima-Jakarta (BMMB) yang digawangi Sekjen Nimran Abdurrahman, juga ada Nizamul Muluk, lalu jadilah ngopi sebagai lambang rekonsiliasi di Sari Indah. Antusiasme juga tampak terlihat pada Yoseph Mbira, pemuda Flores yang disegani dalam jejaring preman ibukota, termasuk Lambertus, beserta kawan-kawan seperjuangan yang hadir.

Mereka laksana reuni, tetapi bukan lewat seminar akademik, tetapi keintiman sehabis persilangan “senjata” di lapangan. Sejauh concern saya terhadap iklim politik dan cuaca kekerasan premanisme ibukota, kalau kita buka situs-situs underground, bahwa nuansa keakraban antar “preman” Bima dengan Flores di Jakarta bukanlah hal baru. Di era 1980-an, dari sebuah sumber Kompas (Minggu, 2 Februari 1997) tersebutlah nama Yosep Ius, preman Flores, yang di suatu masa pernah bersekutu dengan kawan setianya bernama Nando, pentolan preman asal Bima yang bergerak di Tanah Abang. Sekadar refleksi juga, bahwa orang jadi preman itu bukan karena visi profetik, tapi rerata keterpaksaan. Tidak bisa dilihat secara hitam putih.

Zaman Orde Baru sempat diterapkan “security approach”, maka terhadap para preman ditertibkan dengan operasi petrus (penembakan misterius). Tak sedikit yang hilang, tapi ada pula yang bertahan hidup, bahkan tobat. Dari orde baru berlanjut ke era reformasi. Premanisme pun mewujud dalam berbagai ‘busana’. Hal yang jelas, di hadapan uang nampak semua orang jadi sama. Dalam ruang gelap premanisme ibu kota, pernah disorot peneliti asing lalu dibukukan bertajuk The Politics of Protection Rackets in Post-New Order Indonesia: Coercive Capital, Authority and Street Politics tulisan Ian Douglas Wilson (2015). Intinya ada kekuatan kapital yang bermain, kepentingan politik yang berkontestasi, dialektika antara struktur dan kultur, dalam konteks ekonomi-politik premanisme.

 

Mem-Bima-kan Flores, Mem-Flores-kan Bima

Pulau Flores merupakan salahsatu pulau besar di Provinsi NTT, selain Pulau Timor, Pulau Sumba, dan Kepulauan Alor. Flores sedari dulu telah melahirkan figur kesohor di pentas nasional. Sementara Bima, adalah daerah di ujung Timur Pulau Sumbawa NTB yang telah memainkan peran penting dalam pergulatan republik dari era Kesultanan hingga kontemporer. Kedua suku itu, kendati masih berkategori “daerah tertinggal”, namun anehnya di pusaran kepemimpinan nasional, terdapat stok intelektual berpengaruh.

Sebut saja di antaranya, kalau Bima punya Prof. DR. Irjen (Purn) Farouk Muhammad sebagai tokoh penting di lingkungan Kepolisian, maka Flores punya Komjen Pol. (Purn.) Gories Mere, mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN). Kalau Bima punya ilmuwan sosial-politik sekelas Affan Gaffar, maka Flores punya ilmuwan sosial-politik sekaliber Ignas Kleden.  Cukup banyak kalau diurutkan lagi.

Dalam dimensi kebudayaan, watak kedua anak suku bangsa itu keras dan jantan. Hal ini nampak pada tarian caci Flores, menari-nari diiringi permainan satu lawan satu dan saling memukul dengan cemeti dan menangkis dengan tameng. Sekalipun terluka, tidak ada dendam dan saling membalas di luar arena, melainkan diselesaikan di arena pertandingan. Alih-alih bermusuhan, malahan justru nilai persatuan dan persaudaraan yang terbentuk.

Begitu pula watak keras orang Bima dengan konsep harga diri “Maja Labo Dahu” yang dijunjung tinggi, tercermin pada tarian perang “buja kadanda” yang menggunakan tombak. Pun Tarian Ndempa, saling adu ketangkasan bertarung. Kalaupun ada yang tersungkur, tak akan dibantai di lokasi. Kalau pun terluka hingga babak belur lantaran “para pendekar” bersilat otot, namun hanya selesai di arena pertarungan saja. Sengatan adu jotos tidak membuat para jagoan bermusuhan di luar gelanggang, melainkan persatuan dan persahabatan yang muncul.

Namun demikian, kisah sedih tak terelakkan bahwa betapa gugusan kepulauan Nusa Tenggara ini masih berada di halaman belakang dalam lanskap pembangunan nasional. Semasih dalam keadaan normal, berikhtiar seperti biasa untuk memutar turbin pembangunan saja masih berat, apalagi kalau menghabiskan energi dan waktu untuk parade kekerasan. Cukup sudah kakak. Mari kita mengintegrasikan sumberdaya dan potensi dalam kesalingan gotong royong dan merajut indahnya persaudaraan serta merapatkan barisan untuk mengejar ketertinggalan.

Mari belajar pada legenda Suku Indian yang saling bertukar darah dengan seekor beruang setelah berhadap-hadapan hidup mati. Yang bertahan hidup, akan memiliki ikatan emosional satu sama lain. Orang Indian akan menjiwai sifat dan darah beruang, sebaliknya beruang akan menyerap sifat dan darah Indian dalam integrasi militansi siap tempur.

Orang Bima bisa memaknai jiwa falsafati dan semangat intelektualitas orang Flores, dan sebaliknya orang Flores mentransformasikan ruh Bima dalam dimensi pemikiran dan pergerakan. Dari situ terikat tali-temali antar dua suku petarung itu, terlebih memang sedari dulu memang punya hubungan historis dan kekerabatan serta hubungan darah sejak era kesultanan, berlanjut ke semesta kontemporer. Posisi kita sebagai Segitiga Emas (golden triangle) jalur pariwisata nasional dan internasional, bersisian dengan Pulau Bali (dan Pulau Lombok), Pulau Komodo dan Sulawesi Selatan mestilah dijemput sebagai salahsatu sektor strategis dalam peta perekonomian. Satu lagi, gugusan kepulauan Nusa Tenggara dapat dijadikan sebagai laboratorium pluralisme.

Nah, titik!

Penulis adalah Alumnus Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Hasanuddin, Makassar; Pemerhati Sosial-Politik

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
Share

Komentar

To Top