Dari Redaksi

Menakar ‘Budaya’ Blokade

 ADA

Foto Herman: Warga Desa Naru saat memblokir ruas jalan lintas Tente-Parado.

fenomena menggelisahkan akhir-akhir ini yang menghiasi dinamika kehidupan sosial masyarakat Dana Mbojo. Sejumlah kejadian menyeruak ke permukaan. Penganiayaan, penjambretan, kepemilikan senjata api rakitan, dan penyakit sosial lainnya.  Namun, ada satu yang kini menguat dan berimplikasi luas. Yaitu blokade jalan umum. Dalam sebulan terakhir sering terjadi pada sejumlah kecamatan di Kabupaten Bima. Menariknya, aksi blokade jalan ini ‘trade mark’ atau ‘khas’ wilayah Kabupaten Bima.

Contoh terakhir adalah kejadian blokade jalan oleh sekelompok warga di Desa Tenga dan Desa Naru Kecamatan Woha. Penutupan jalan oleh keluarga korban penusukkan di Desa Renda Kecamatan Belo, dan kejadian di Kecamatan Ambalawi. Realitas tersebut dipicu kekecewaan warga terhadap penegakkan hukum.

Reaksi warga tersebut perlu disikapi serius agar tidak menjadi ‘bom waktu’  yang setiap saat memicu aksi serupa oleh kelompok warga lain. Mencontohi yang telah terjadi sudah menjadi tradisi akhir-akhir ini. Menyelesaikan pada tataran normatif, solusi cerdas menghindari agar tidak menjadi kebiasaan. Salah tetap saja salah dan yang benar dikatakan benar. Tentu saja, rasa keadilan belum mampu diterapkan di tengah iklim sosial yang karut-marut seperti sekarang ini.

Lain halnya blokade jalan oleh warga Desa Samili Kecamatan Woha pada hari Rabu dan Kamis, pekan lalu. Aksi tersebut berkaitan kebutuhan pokok keseharian masyarakat setempat dan sekitarnya yaitu kekurangan air bersih. Bagi warga dan sekitarnya, air bersih adalah persoalan buram yang membayangi keseharian mereka, sejak belasan tahun silam. Bayangkan, air bersih sulit diperoleh, apa yang dirasakan. Apalagi, kekurangan itu terjadi di jantung ibu kota Kabupaten Bima.

Kebutuhan warga itu, sebenarnya sudah dijawab oleh pemerintah setempat. Namun, proyek sumur bor senilai Rp5,6 miliar hasilnya belum dinikmati. Apalagi, sikap “cuek” pemerintah menjadi sumbangsih lain memunculkan reaksi  warga. Wujud nyata adalah obat mujarab saat ini. Kebiasaan menyalahkan masyarakat, tidak lagi sebagai topik untuk mencari solusi. Jadikan kejujuran sebagai fondasi mengurai benang kusut ini agar kebiasaan memblokade yang merugikan kepentingan banyak orang akan terkikis.

Dou Mbojo memiliki karakter berbeda pada setiap wilayah. Artinya, ramuan solusi yang dicetus disesuaikan dengan kondisi karakter masyarakat setempat. Melunturkan takaran ego dan kepentingan pemangku kebijakan bagian akhir mewujudkan dampak buruk citra Bima RAMAH. Suatu motto yang kini digugat oleh sebagian kaum muda kritis karena membandingkan antara cita dan harapan. Harus diakui kita belum memahami akar filosofis yang mengonstruksi gagasan besar Bima RAMAH, lalu bagaimana mengartikulasikannya pada praktik keseharian. Kita masih keteteran.

Oleh karenanya, tantangan kita saat ini adalah bagaimana mem-breakdown motto RAMAH dalam tindakan harian. Ya dimulai dari diri kita masing-masing. Ibda bi nafsihi…(*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
11
Share

Komentar

To Top