Dari Redaksi

Oh, Bibit Busuk

Kondisi bibit bibit jagung yang membusuk dan bertunas.

Kantor Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bima, dikejutkan dengan aksi petani yang membuang bibit jagung busuk di lantai kantor, Kamis (9/11) lalu. Bibit yang dikembalikan itu jenis Hibrida, Bima Urin dan Bima 15 Sayang. Kedua varietas baru itu sudah berbau dan bertunas sebelum ditanam.

Petani Kecamatan Woha, Belo dan Monta mengeluhkan bentuan tersebut. Ya. Bantuan itu memang gratis bagi petani, namun bibit busuk tentu tidak bermanfaat apa-apa, selain menyengat hidung. Padahal anggaran pengadaan bibit dari kantong negara.

Pelampiasan kekesalan petani dengan membuang bibit jagung tersebut, menjadi tamparan keras bagi instansi terkait. Karena sejatinya petani yang membutuhkan bantuan kebaikan pemerintah, justru mendapat suguhan “busuk”.

Keluhan akan kualitas bantuan bibit di Kabupaten Bima, bukanlah pertama kali. Sebelumnya juga bibit kedelai yang tidak bisa tumbuh dan bibit bawang busuk. Namun, pengalaman penyaluran bantuan sebelumnya, tidak menjadi pembelajaran, sehingga kembali terulang.

Namun kenyataannya, setiap penyaluran bibit selasa ada masalah kualitas atau mutu. Ini menunjukkan adanya kesalahan dan kelemahan pengawasan. Ataukah justru kesengajaan untuk “mengibuli” program yang tujuannya menyejahterakan petani.

Tidak hanya petani yang dirugikan, namun juga negara. Kasus ini harus menjadi atensi Kepala Daerah, begitu juga dengan penegak hukum. Kesengajaan merugikan negara adalah perkara korupsi. Ini bisa menjadi atensi penegak hukum untuk mengintip aroma korupsi didalamnya.

Pengawasan oleh legislatif juga bisa dianggap masih lemah. Kasus bibit kedelai yang pernah masuk ke meja dewan, pun menguap, tanpa warna dan aroma. Apa yang membuat banyak pihak tidak serius dengan penanganan kasus bibit? Ini patut menjadi pertanyaan dan sorotan publik. Perlu ada jawaban dari mereka atas kemandegan penanganan kasus bibit bermasalah selama ini, agar tidak dituding ikut “berselingkuh”.

Bantuan bibit tentu akan meringankan beban biaya petani. Karena selain bibit, petani juga harus menyiapkan dana untuk pupuk. Disisi lain pupuk pun kadang langka diperoleh. Jika biaya yang dikeluarkan petani dapat ditekan serendah mungkin, maka tingkat kesejahteraan meningkat. Kemingkinan di daerah akan menurun, seiring keberhasilan intervensi pemerintah melalui penyaluran bibit, tapi bukan yang busuk.

Apalagi, selama ini kasus pengadaan bibit bermasalah tidak pernah jelas penangananya. Jangan sampai kasus pengadaan bibit jagung busuk ini juga lenyap begitu saja. Wallahu ‘Alam (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share

Komentar

To Top