Dari Redaksi

Penghadangan Mobdis

DOK: Kondisi Mobdis Bappeda yang mengangkut kafilah Lombok Utara yang dirusak pendemo.

JUMAT (27/10/2017) lalu, sekelompok pemuda yang diidentifikasi mahasiswa menyuguhkan ‘aksi heroik’ di depan kampus Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Taman Siswa Bima. Satu unit mobil dinas (Mobdis) operasional Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Litbang Kabupaten Bima itu dirusak, sejumlah bagian mobil penyok. Ironisnya lagi, mobil  itu mengangkut rombongan kafilah asal Kabupaten Lombok Utara yang berlomba di kampus STKIP Taman Siswa. Apa yang memicu sikap agresifnya sekelompok pemuda itu dan siapa saja pelakunya  masih diselidiki. Tetapi, memang kerap kali muncul aksi di lokasi itu mengincar Mobdis atau hal-hal yang berhubungan dengan pemerintah.

Apa yang terjadi sangat disesalkan. Di Media Sosial, sorotan terhadap insiden itu bermunculan. Mengecam, menyindir, dan meminta ketegasan sikap. Meski bukan bermaksud menyabotase kafilah tertentu, karena mengincar Mobdis, tetapi insiden itu tetaplah sangat memalukan. Menunjukkan sikap yang RAMAH kepada para tamu adalah keharusan, bukan malah menunjukkan perilaku sebaliknya. Andaikan mereka yang menumpangi mobil EA 12 X itu adalah Dou Mbojo dan terjadi di daerah lain, bayangkan apa yang  dirasakan saat itu.

Insiden itu menambah rangkaian peristiwa minor yang dipentaskan generasi kita akhir-akhir ini. Tentunya, motto Bima RAMAH menjadi taruhan saat momentum kunjungan tamu luar daerah seperti MTQ NTB ini. Bandrol daerah konflik di mata regional, bahkan skala nasional kian sulit memudar jika konflik atau tindakan anarkis seperti penghadangan Mobdis itu sering muncul. Masyarakat Dana Mbojo ikut merasakan getah terhadap letupan emosional sekelompok generasi tersebut.

Ada sesuatu yang terpendam dalam dada sekelompok pemuda itu, sehingga memicu reflek mereka saat melihat Mobdis. Hal itu menandakan bagian yang tidak terpisahkan dari degradasi moral dan mental. Tentu kita harus menyikapi serius, jika ingin memulihkan generasi. Sejumlah bukti telah menunjukkan adanya perubahan kultur dan perilaku ala bar-bar yang kian nyata. Jangan dianggap sepele.

Lepas dari insiden itu, saatnya aparat Kepolisian bersikap tegas terhadap aksi mahasiswa dan warga di jalur vital itu. Aksi yang menutup jalan di lokasi itu harus segera ‘dilibas’ oleh aparat karena dampaknya serius. Beberapa waktu lalu aksi penutupan jalan oleh warga Woha, misalnya, menyebabkan sejumlah penumpang pesawat gagal berangkat. Tentu masih banyak kerugian lainnya dari berbagai dinamika sosial saat itu.  Jadi penegakkan hukum berperan sebagai efek jera meminimalkan kejadian serupa ke depan. Sudah saatnya aparat Kepolisian agresif. Tangkap, adili, dan hukum mereka yang terlibat!

Sekali lagi, kita mengharapkan ada penyelidikan tuntas terhadap aksi penghadangan dan perusakan Mobdis itu agar menimbulkan efek jera bagi yang lainnya dalam dinamika ke depan. Insiden terbuka seperti lebih mudah diungkap dan dieksekusi.  (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share

Komentar

To Top