Pendidikan

Sabtu Orkestra SMPN 2 Wera, Jurus Meredam Kenakalan Remaja

SMPN 2 Wera menerapkan Sabtu Orkestra untuk menyalurkan energi positif siswa.

Bima, Bimakini.- Ini sebuah terobosan yang dilakukan oleh Sekolah Menengah Pertama Negeri (SPMN) 2 Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, dalam menekan kenakalan siswa. Sekolah menerapkan konsep Sabtu Orkestra (Olahraga, Kesenian dan Keterampilan).

Setiap Sabtu, siswa dibebaskan dari matepalajaran tekstual. Namun, lebih bergembira, mengolahrasa dan melatih keterampilan.

Kepala SMPN 2 Wera, Andi Irawan, SPd, MPd mengaku, beberapa hari saat dimulainya gagasan itu, siswa belum antusias. Awalnya, membuat Serangge (tempat duduk) di halaman sekolah sebagai tempat membaca buku.

Siswa, katanya diajak membaca, namun tidak dalam ruangan. Agar lebih cair dan menyenangkan, mereka dibuatkan Serange untuk bersantai sambil membaca.

Selain itu, kata dia, Sabtu Orkestra juga mengajak siswa untuk bergembira, melepas beban belajar selama lima hari. Awalnya, siswa dan guru-guru hanya bernyanyi dengan alat musik yang dimiliki sekolah.

Selanjutnya siswa diarahkan pada hobi atau bakatnya. Misalnya, yang mau belajar menari, gitar, Gambo, Gantao, Biola dan kesenian tradisional Bima lainnya. “Rupanya semakin lama, siswa antusias, apalagi kami menyiapkan guru sesuai dengan minat siswa,” terangnya di Wera, Rabu (1/11/2017).

Mereka juga memestaskan apa yang mereka pelajari di ruang kelas, sehabis pelajaran. Semangat datang ke sekolah pun semakin tinggi. Setiap sore, siswa mulai ramai ke sekolah, tidak hanya Sabtu. “Di hari-hari lain mereka datang ke sekolah untuk berlatih, karena mereka harus menyiapkan diri saat pentas kecil di sekolah,” terangnya.

Perubahan positif itu semakin lama, kian dirasakan  pihak sekolah. Meskipun baru berjalan belum satu bulan, namun antusias sudah sangat tinggi.

“Kami mendorong gerakan literasi di sekolah, juga dengan kegiatan lainnya, seperti olahraga dan kesenian,” ungkapnya.

Kedepannya, kata dia, akan melibatkan pihak luar. Misalnya para mestro di desa yang menguasai ragam kesenian, akan diundang memberikan pelatihan ke siswa, sehingga kedepannya ada sineritas antara sekolah dan masyarakat.

“Kita tahu kerap terjadi perkelahian pelajar, kami pikir inilah cara mengalihkan energi mereka ke hal-hal positif dan ternyata mereka sangat menyukainya.

Keinginan siswa zaman dulu, kata dia, berbeda dengan sekarang. Kini keinginan remaja harus bisa diikuti iramanya. “Untuk itu kemi menerapkan prinsip mendidik dengan hati, hati-hati, sepenuh hati. Karena remaja itu masih labil, makanya hati-hati. Mengajar sepenuh hati,” ungkapnya.

Disampiing itu, siswa juga selalu diberikan kata penyemangat dan motivasi. Termasuk mengajarkan tentang norma dan etika. “Jika ingin dihormati, maka hormati orang lain,” katanya. (BK25)

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
Share

Komentar

To Top