Ekonomi

Bahas Kelangkaan Pupuk, Petani – Pengecer Wawo Sempat Tegang

 

Pertemuan petani, pemuda Wawo dan pengecer membicarakan harga pupuk.

Bima, Bimakini.-  Petani dan Pemuda Kecamatan Wawo menggelar pertemuan membahas kelangkaan dan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsudi. Pertemuan itu berlangsung Rabu (10/1),   di aula Desa Maria.

Pertemuan yang dipandu Ketua BPD Maria, H Anwar Luwu, awalnya  sempat tegang karena antara petani dan pengecer saling memertahankan dalil masing-masing.

Inisiator Petani, Mansyur M Saleh, menduga ada permainan harga dalam pendistribusian pupuk bersubsidi yang tidak sesuai dengan HET yang ditentukan pemerintah pusat. Bahkan, pengecer mewajibkan petani untuk membeli pupuk non subsidi sebanyak lima kilogram (kg) dengan patokan harga Rp10 ribu/kg.

Dengan cara seperti ini, katanya, sangat memberatkan petani, sementara pendisitribusian pupuk juga masih sedikit. Padahal jumlah kebutuhan petani sesuai areal tegalan di Desa Maria hanya 332 hektare, tetapi kehadiran pupuk baru dua truk. “Saat ini kami sedang butuh pupuk dan seharusnya pengecer bergerak cepat untuk memenuhi kebutuhan petani. Apalagi kita ini lahan tadah hujan, jika gagal tahun depan baru bisa tanam kembali,” ujarnya di Desa Maria, Rabu.

Lain halnya dengan Koordinator Pengecer pupuk di Kecamatan Wawo, HM Said AB. Keinginan pengecer sebenarnya hampir sama dengan petani yakni dapat memenuhi kebutuhan pupuk untuk seluruh petani.  Namun regulasi mengenai pendistribusian dilakukan secara bertahap. Tentu pengecer hanya bisa menyediakaan sesuai tahapan yang ditentukan. Demikian juga dengan menggandeng pupuk bersubsidi dengan non subsidi agar petani tidak hanya bergantung pada pupuk bersubsidi, tetapi juga non subsidi. “Kami sebagai pengecer juga harus dipahami, soalnya biaya bongkar dan pendisitibusian juga perlu dipikirkan. Karena itu kita selain menjual pupuk bersubsidi kita juga ikutkan pupuk non subsidi sesuai kesepakatan,” katanya.

Bagaimana komentar Kepala Unit Penunjang Pertanian dan Perkebunan (UPPP) Kecamatan Wawo, Mulyadin, SP. Untuk mengantisipasi kelangkaan pupuk diingatkan kepada pengecer agar mendata kebutuhan riil agar dapat dikeluarkan rekomendasi untuk penebusannya. Jika data riil itu cepat disampaikan maka rekomendasi itu akan cepat diteken dan diserahkan kepada contributor pupuk di Kota Bima.

Kata Mulyadin, gejolak kelangkaan pupuk itu sebenarnya tidak ada, tetapi hanya keterlambatan drop atau pendisitribusian saja karena prosesnya sedang berjalan. Namun, petani tidak sabaran. Karena petani maunya pendistribusian pupuk dilakukan sekaligus satu kali musim tanamini  di Desa Maria Kepala Desa Maria, Nurdin HM Saleh sebagai inisiator dalam pertemua itu, mengingatkan bahwa pertemua itu bukan saling memertahankan dalil masing-masing, tetapi bagaimana mencari solusi terbaik agar pertani di Kecamatan Wawo mendapatkan pasokan pupuk yang memadai. Sebab saat ini tanaman sedang membutuhkan pendistribusia yang adil dan merata.

Tujuan pertemuan itu, katanya, merespon aspirasi masyarakat khususnya petani yang berkaitan dengan kelangkaan pupuk dengan menghadirkan pengecer, Kepala Unit Penunjang Pertanian dan Perkebunan (UPPP) Kecamatan Wawo, Mulyadin, SP, Penyuluh Pertanian, Anggota Koramil Wawo, Pelda Muhammad Said dan Anggota Polsek Wawo, Brigadi Ramadhan.

“Dengan cara seperti ini petani tidak bertindak sendiri-sendiri dan melanggar hokum. Alhamdulillah dengan pertemuan ini telah ada titik cerahnya karena yang utama adalah solusi terbaik untuk semua. Artinya satu sisi petani terpenuhi kebutuhan terhadap pupuk, di sisi lain pengecer juga tidak dirugikan,” ujarnya usai pertemuan di aula Desa Maria, Rabu (10/1). (NAS)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share

Komentar

To Top