Peristiwa

Dihempas Angin, Penerjun Marinir Mendarat Darurat

Pesawat yang mengangkut penerjun. Foto Dok Rizal

Kota Bima, Bimakini.- Sejumlah penerjun payung Marinir TNI Angkatan Laut (AL) mendarat darurat di sejumlah lokasi di Kota Bima. Merkea  dihempas anging kencang, Senin (30/1).

Awalnya, lokasi pendaratan ditetapkan di stadion sepak bola Manggemaci. Namun, saat itu angin kencang, sehingga di hempas angin menuju arah timur.

Pantauan  Bimakini, warga mendadak riuh ketika melihat para penerjun yang terhempas angin kencang ke arah Timur. Mereka kuatir terjadi sesuatu terhadap penerjun tersebut.

Kepanikan warga semakin menjadi, ketika melihat satu penerjun yang parasut yang tidak mengembang sempurna. Rupanya, parasut yang tidak mengembang itu adalah cadangan.

Mobil ambulans dan sejumlah prajurit yang semula standby di lapangan Menggemaci, keluar menuju arah penerjun. Sejumlah warga pun ikut berlari ke arah yang sama.

Diperoleh informasi, titik pendaratan darurat para penerjun diataranya, di ladang jagung pegunungan Sabali, Kelurahan Kumbe, di tanah lapang Kelurahan Rabadompu Timur dan Kelurahan Rabadompu Barat. Di  Kelurahan Penaraga seorang penerjun mendarat di atap rumah warga.

Bahkan, ada penerjun yang mendarat di areal persawahan sekitar jalan Gajah Mada tidak jauh dari Kantor BPBD Kota Bima. Ada yang mendarat di halaman SMPN 01 Kota Bima dan di sekitar permukiman warga Lingkungan Kotabaru, Kelurahan Rabadompu Barat.

Warga senang mengetahui para penerjun ternyata tidak mengalami luka. Mereka antusias dan berkerumun minta selfie dengan penerjun.

Bahkan, warga mengantar pasukan AL itu kembali ke lokasi atraksi. “Saya melihat ada penerjun yang turun di gunung dekat rumah, bersama teman spontan lari ke arah tersebut,” kisah Amirudin, warga Sabali.

Senada dikatakan warga Rabadompu Barat, Aryad. Dia mengaku, melihat parasut oleng dari arah Barat. Bersama warga menuju lokasi. “Hanya parasutnya saja, sementara orangnya tidak ada,” kenangnya.

Penerjun yang mendarat di sekitar SMPN 01 Kota Bima, Kopda Imam Rojiki, sempat diwawancara sejumlah wartawan.

Dia mengaku, sudah mengetahui kondisi angin begitu kuat. Kuatir warga Bima kecewa, sehingga tetap memaksakan terjun. “Sebagai penerjun, risiko apa saja siap diemban,” tuturnya.

Informasi yang disampaikan panitia melalui pengeras suara, jumlah penerjun payung yang turun sebanyak 18 orang. Tim pertama sebayak 8 orang terjun dari ketinggian sekitar 6.000 meter. (DED)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share

Komentar

To Top