Opini

Menciptakan Suasana Damai

Oleh : Drs. Zulkifli M. Nur

ilustrasi

Setiap insan mendambakan suasana damai dalam kehidupan sehari-hari, termasuk menjelang pemilihan Kepala Daerah nanti. Dengan suasana damai, pikiran dan peraan menjadi tenang. Hatipun berbunga-bunga dan raut wajah juga akan tampak lebih muda. Makan dan tidur jadi enak. Tidak hanya itu, saat bangun tidur, tubuh terasa fit dan segar bugar sehingga kita siap untuk bekerja, beraktifitas dan berinteraksi lagi dengan sesama. Suasana damai seperti ini harus tetap kita pertahankan.

Menciptakan suasana damai dalam kehidupan sehari-hari merupakan tugas kita bersama. Kita tidak bisa hidup tanpa orang lain. Kita saling membutuhkan. Seorang pegawai membutuhkan beras, sayur-sayuran dan buah-buahan dari petani. Sementara petani sendiri membutuhkan pakaian, alat-alat pertanian dan barang-barang elektronik dari para pedagang. Kemudian para pedagang – dalam skala tertentu – membutuhkan ijin usaha – dari Pemerintah. Lalu Pemerintah sendiri membutuhkan dukungan dari Anggota Dewan dan akhirnya Anggota Dewan sendiri membutuhkan dukungan suara dari rakyat, termasuk dari para petani.

Paling tidak ada lima hal pokok yang dapat kita jadikan pegangan dalam upaya turut serta menciptakan suasana damai dalam kehidupan ini. Pertama, bertutur kata yang baik dan berguna; ke dua, memegang amanah; ke tiga, memiliki rasa syukur; ke empat, memiliki sikap sabar dan ke lima, suka memberi maaf.

Pertama, bertutur kata yang baik dan berguna.

Kalau kita berbicara dengan orang lain, hendaknya kita bertutur kata yang baik dan santun. Orang yang mendengarnya akan merasa senang dan dihargai. Ini sifat dasar manusia. Orang yang merasa dihargai, tentu akan berbuat yang sama terhadap kita.

Disamping itu, apa yang kita katakan hendaknya berguna bagi orang lain. Tentu disesuaikan dengan kapasitas orang itu. Kalau dia seorang pengangguran, kita dapat memberikan motivasi dan solusi agar dia dapat bekerja dengan memanfaatkan setiap potensi – tenaga, pengetahuan dan ketrampilan – yang dimilikinya. Mungkin dia belum menyadari bahwa setiap orang memiliki potensi yang dapat membuat dirinya dapat menciptakan lapangan kerja. Hal ini termasuk salah satu bentuk pengamalan kita terhadap Pancasila, yakni Sila: Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Di segmen lain, kita dapat berbagi pengalaman, bahkan saling tukar pengalaman. Dengan cara ini, kita dapat meningkatkan etos kerja sehingga membuahkan peningkatan produktifitas dan kesejahteraan hidup bagi kita, bahkan bagi masyarakat pada umumnya. Jadi apa yang kita bicarakan, hendaknya berisi hal-hal yang berguna, kalau tidak, lebih baik kita diam saja.

Kedua,  memegang amanah.

Pada hakekatnya, setiap manusia itu memegang amanah sesuai dengan kedudukannya masing-masing. Orangtua diserahi amanah untuk memelihara dan mendidik anak-anaknya saat mereka ada di rumah atau di luar jam sekolah. Guru diserahi amanah untuk mendidik murid-muridnya  di sekolah dan pada jam sekolah pula. Pilot diserahi amanah untuk menerbangkan pesawat dan membawa penumpang agar mereka sampai ke tujuan dengan selamat dan nyaman. Semua amanah ini memang berat untuk dijalankan, namun hal itu akan menjadi ringan bila dijalankan dengan jujur dan ikhlas.

Ketiga, memiliki rasa syukur

Dunia ini penuh dengan sumber daya yang berfungsi untuk menunjang kelangsungan hidup manusia. Sumber daya itu ada yang langsung dapat kita nikmati, seperti : oksigen yang langsung dapat kita hirup dari udara, sinar matahari yang langsung dapat kita gunakan untuk mengeringkan cucian dan angin yang langsung dapat kita manfaatkan untuk berlayar. Disamping itu, ada pula sumber daya yang harus kita olah terlebih dahulu sebelum digunakan, seperti: panas bumi untuk pembangkit tenaga listrik, logam untuk  mesin mobil dan minyak bumi untuk bahan bakar.

Dalam diri manusia sendiri sesungguhnya juga ada sumber daya, seperti: tenaga, ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Semua potensi dan sumber daya ini dapat diolah dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Ini yang harus kita syukuri. Dengan adanya rasa syukur, hati kita menjadi damai dan tentram. Dalam suasan hati yang demikian, akan muncul ide-ide kreatif dan bersambung dengan munculnya motivasi untuk mengerjakan ide-ide kreatif itu tadi. Ini artinya produktifitas meningkat dan rejekipun ikut meningkat.

Keempat, memiliki sikap sabar.

Selama manusia itu masih hidup, selama itu pula dia mendapatkan cobaan. Bentuk cobaan itu sendiri beraneka ragam. Orang kaya dicoba dengan kekayaannya, orang miskin dicoba dengan kemiskinannya dan orang yang berkedudukan dicoba dengan kedudukannya. Apapun bentuk cobaan itu, kita harus sabar menyikapinya dengan mengambil langkah-langkah yang sistimatis. Kita awali dengan mengidentifikasi masalah, kemudian dilanjutkan dengan mengkaji dan menganalisanya. Setelah itu, baru kita ambil langkah-langkah penyelesaiannya.

Kelima, suka memberi maaf.

Manusia diciptakan oleh Tuhan dalam bentuk bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Mereka menempati wilayah dengan budaya yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Tidak hanya itu – secara individu – manusia juga berbeda-beda ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang dimilikinya. Dengan kondisi seperti itu, sangat mungkin terjadi perbedaan tujuan dan kepentingan dalam menjalani kehidupan ini. Namun demikian, keadaan ini seyogyanya hadir untuk membuat kita bisa saling mengenal antara yang satu dengan yang lain. Dengan cara itu, kita bisa mengetahui kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri kita. Mereka juga dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri mereka. Di sinilah titik awal bagi kita untuk merajut kerja sama yang  saling menguntungkan.

Ada kalanya kita menemukan kekurangan dan kesalahan pada orang-orang di sekitar kita dan kita sendiripun juga demikian. Dengan telah saling mengenal antara satu dengan yang lain, maka dengan mudah kitapun dapat saling memaafkan.

Pokok-pokok pikiran dan tindakan di atas, tergolong sangat mulia. Manfaatnya telah teruji dalam kehidupan manusia selama berabad-abad. Oleh karena itu marilah kita praktekkan pokok-pokok pikiran dan tindakan tersebut agar tercipta suasana damai dalam kehidupan sehari-hari, terutama menjelang pilkada nanti. (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 13
    Shares

Komentar

To Top