Opini

Terjadinya Siang dan Malam

Oleh : Drs. Zulkifli M. Nur

Dari waktu ke waktu, kehidupan manusia terus bergulir dengan rona dan bentuk dinamika yang sangat bervariasi. Kadang-kadang dinamika itu membuat kita merasa damai dan sejahtera, namun kadang-kadang juga membuat kita merasa sedih dan resah.

Dalam Al Qur’an, banyak sekali ayat yang menuntun ummat manusia untuk mengamati lingkungan di sekitar kita bahkan di Jagad Raya ini. Di sinilah kita akan dapat menemukan banyak sekali benda, obyek dan fenomena.

Salah satu fenomena yang terjadi di alam ini adalah terjadinya siang dan malam. Sekilas fenomena ini tampak seperti hal yang biasa-biasa saja karena hanya berupa pergantian antara siang dan malam belaka, apalagi kalau diingat bahwa pergantian tersebut berlangsung hanya dalam rentang waktu 12 jam saja. Namun apabila kita baca literatur yang di tulis oleh para ilmuwan – khususnya bidang astronomi – maka akan tampak hal-hal yang mengagumkan di balik fenomena terjadinya siang dan malam tersebut.

Ada dua benda langit yang berperan utama di balik terjadinya siang dan malam, yaitu bumi dan matahari. Bumi adalah salah satu planet yang ada dalam Tata Surya dan tidak memiliki cahaya sendiri, sedangkan matahari – merupakan salah satu bintang yang terdapat dalam galaksi Bima Sakti – memiliki cahaya sendiri.  Bumi mendapatkan cahaya dari  pancaran sinar matahari.

Bumi adalah salah satu benda angkasa yang bentuknya mirip seperti bola dengan panjang diameter 12714 km (pada kutub) dan 12757 km (pada katulistiwa) serta memiliki keliling katulistiwa sepanjang 40.003 km.  Planet yang kita tempati ini berputar pada porosnya (rotasi) dengan kecepatan lebih dari 1600 km per jam. Gerak rotasi inilah yang menyebabkan terjadinya siang dan malam itu.

Kecepatan rotasi bumi yang lebih dari 1600 km per jam itu menarik untuk kita renungkan.  Dapat kita bayangkan, kalau kita mengendarai sepeda motor dengan kecepatan  80 km per jam saja, jantung kita sudah berdebar. Ini fenomena yang aneh bagi orang awam, namun tidaklah demikian bagi kalangan pembelajar. Bagi mereka – yang disebutkan terakhir ini – malah akan merasa tertarik dan kagum akan fenomena tersebut.

Perputaran bumi pada porosnya itu membawa dampak yang sangat luas bagi kelangsungan hidup manusia. Beberapa diantaranya: pertama, ketersediaan bahan pangan; ke dua,  ketersedian bahan pakaian; ke tiga, ketersediaan tempat tinggal; ke empat, kelangsungan hidup hewan dan tumbuh-tumbuhan; ke lima, pengatur variasi cuaca.

Pertama, ketersediaan bahan pangan. Sinar matahari memiliki peran untuk tumbuh dan berkembangnya beraneka ragam jenis tumbuh-tumbuhan. Dari ribuan jenis tumbuh-tumbuhan tersebut, sebagian diantaranya menghasilkan bahan makanan pokok bagi manusia seperti padi dan gandum. Disamping itu, sebagian yang lainnya ada yang menghasilkan buah-buahan dan sayur-sayuran,bahkan ada juga sebagian yang lain digunakan untuk bahan baku pembuatan obat-obatan dan kosmetik.

Ke dua, ketersediaan bahan pakaian. Dalam kehidupannya, manusia membutuhkan pakaian sebagai penutup tunbuhnya. Disamping itu, pakaian juga dapat berfungsi sebagai media untuk menetralisir suhu udara yang ekstrim. Tidak hanya itu,  pakaian kini sudah menjadi media ekspresi mode. Bahan baku untuk pakaian diperoleh dari tumbuh-tumbuhan misalnya kapas. Disamping itu, bahan pakaian juga diperoleh dari hewan, misalnya ulat sutera, sapi, kerbau dan domba.

Ke tiga, ketersediaan tempat tinggal. Bahan bangunan untuk tempat tinggal (rumah) banyak menggunakan kayu terutama untuk pintu, jendela dan kerangka atap rumah. Tidak hanya itu, rumah kalangan tertentu – misalnya – juga dilengkapi dengan aneka ragam bentuk perabotan dan karya seni interior yang bahannya terbuat dari kayu. Bangun-bangunan yang lain seperti gedung perkantoran juga demikian.

Ke empat, kelangsungan hidup hewan dan tumbuh-tumbuhan. Terpancarnya sinar matahari, pada hakikatnya merupakan bagian dari ekosistem, dimana dengan fenomena tersebut aneka ragam jenis tumbuh-tumbuhan bisa tumbuh dan berkembang. Tumbuh-tumbuhan itulah yang menjadi makanan pokok bagi berbagai jenis hewan (hewan kelompok herbifora). Kemudian hewan kelompok herbifora ini menjadi makanan bagi hewan yang lain (hewan kelompok carnifora). Lalu kotoran dan bangkai hewan itu terurai oleh bakteri sehingga menjadi  bahan makanan bagi tumbuh-tumbuhan. Di sini tampak adanya saling ketergantungan antar mahluk.

Ke lima, pengatur variasi cuaca. Pada saat menjelang fajar, biasanya temperatur udara harian mencapai batas minimal. Lewat dari itu, temperatur udara merangkak naik. Perubahan itu semakin terasa setelah matahari terbit. Temperatur udara terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Lewat dari pukul 14.00 waktu setempat, temperatur udara mulai menurun. Perubahan itu semakin terasa setelah matahari terbenam. Tempertatur udara terus menurun hingga mencapai batas minimalnya lagi pada saat menjelang fajar. Begitu seterusnya.

Dari uraian diatas, kiranya dapat menyapa hati sanubari kita sehingga kita lebih meyadari akan keagungan Tuhan.  Dialah yang menciptakan jagad raya dan segala isinya. Dia  pulalah yang memberikan rezeki kepada hamba-hambaNya. Tidak hanya itu, Tuhan juga memberikan tuntunan untuk segala aspek kehidupan kepada seluruh ummat manusia melalui firman-firman Nya serta melalui para Nabi dan Rasulnya. Tuhan itu maha benar dengan segala firmanNya,  kita tinggal mengamalkan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.

Dengan demikian, dalam dinamika kehidupan ini akan terpancar rona yang indah, damai dan sejahtera. Semua insan saling menghargai antara satu dengan yang lain dan tidak ada lagi permusuhan antar individu maupun antar kampung. (*)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share

Komentar

To Top