Peristiwa

Adhar Malaka, Mahasiswa Asal Bima, Dikukuhkan jadi Ketua PERANTARA Jateng

Adhar Malaka Asal Bima saat menyampaikan sambutan usai dilantik.

Semarang, Bimakini.- Pengurus Forum Persaudaraan Antar Etnis Nusantara (PERANTARA) Periode 2018-2019 Jawa Tengah dikukuhkan Asisten III Gubernur, Heru Setyadji, SH, Jumat (9/3) lalu. Mereka yang dikukuhkan adalah Adhar Malaka (Bima-NTB) sebagai Ketua Umum. Wakil Ketua, Toto Heryanto (Sulawesi Tenggara), Sekretaris Jenderal, Alfiando Prima Putera (Lampung), Wakil Sekretaris Jenderal, Rusman DM (Sulawesi Selatan), Bendahara Umum Vivin Safitri (Jakarta).

Pengukuhan itu melalui surat keputusan Nomor: 03/KPTS/Peng/Perantara/III/2018 Tentang pengesahan Pengurus Forum PERANTARA Jawa Tengah periode 2018-2019 dengan jumlah pengurus 40 orang. PERANTARA adalah gabungan  Organisasi Daerah tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Yang menarik pada pelantikan ini, semua pengurus mengenakan pakaian traditional dari daerah masing masing. Itu sebagai wujud pengejawantahan Bhineka Tunggal Ika.

Acara pelantikan ini juga dimeriahkan oleh tarian-tarian dan musik etnis daerah diantaranya, Gayo-Aceh, Banyumas-Jawa Tengah, Lampung, Kalimantan Barat, Sumba-NTT.

Asisten III Gubernur Jawa Tengah, Heru Setyadji, SH berharap Forum PERANTARA dapat mengambil bagian dalam mendorong Indonesia lebih baik.

Ketua Umum PERANTARA, Adhar Malaka mengatakan, kebhinekaan merupakan kekayaan Negara yang harus diakui, diterima, dan dihormati.
Kemajemukan sebagai anugerah juga harus dipertahankan, dipelihara, dan dikembangkan serta diwujudkan dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Keberagaman tersebut, kata Adhar, telah diakomodasi dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam sejarah perjalanan bangsa, menjadi perekat dan pengikat kerukunan bangsa.

“Nilai-nilai itulah yang menjadi kekuatan pendorong untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan Bangsa ini. Kristalisasi nilai-nilai itu, tidak lain adalah sila-sila yang terkandung dalam pancasila,” terangnya dalam siaran persnya, Senin.

Namun, kata dia,  masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mampu mengelola kemajemukan. Belum mampu menerima kemajemukan yang seharusnya dilihat sebagai anugerah Tuhan YME. “Kita harus tetap membaca dan menganalisis dari pengalaman Bangsa Indonesia akhir-akhir ini bahwa, masih adanya pengaruh politik kolonial devide et impera yang mengakibatkan terjadinya berbagai gejolak yang membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa,” ungkapnya.

Forum PERANTARA untuk Jawa Tengah ini, kata dia, menjadi salah satu jawaban atas kondisi Indonesia saat ini. “Posisi dan prinsip kami, Forum PERANTARA adalah lembaga yang akan terus merajut persaudaraan antar etnis nusantara sebagai instrumen merawat kemandirian budaya bangsa, baik keseniannya, karakternya, dan kedaulatannya yang tengah dilindas oleh “truk globalisasi”. Seakan-akan kita disatukan dalam satu istilah “Global Monocultural” yang tidak sesuai dengan konsepsi-konsepsi dan cita-cita bangsa ini,” lanjutnya. (IAN)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
5051
Share
  • 231
    Shares

Komentar

To Top