Ekonomi

Budidaya Semangka Menjanjikan, Petani Banyak Setor Haji

Petani di Rasabou, Kecamatan Bolo, saat memanen semangka.

Bima, Bimakini.- Saat ini petani semangka watasan So Mboda, Desa Rasabou, Kecamatan Bolo, bisa bernafas lega. Pasalnya harga semangka sedikit bersahabat. Bahkan dengan budidaya semangka, sudah banyak yang setor haji.

Apalagi, saat ini harga sedikit naik dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk semangka ukuran besar dijual dengan harga Rp 18-22 ribu per buahnya. Sedangkan ukuran sedang dijual dengan harga Rp 8 sampai 10 ribu.

Salah seorang petani semangka, Syafrudin mengaku bersyukur dengan hasil panen semangka tahun ini. Karena  bisa menanam sembilan bungkus bibit semangka di atas tanah sekitar 70 are. Dri luas itu bisa menghasilkan hinga  Rp 26 juta.

“Jika dibanding hasil pertanian lainnya, semangka jauh lebih baik. Buktinya sudah banyak petani semangka yang setor haji,” akunya, Ahad.

Karena sudah selesai panen, kini menanam semangka tahap dua. Diharapkan akan mendapatkan hasil yang maksimal.

“Kami berharap harga semangka tetap stabil ujarnya.

Petani semangka So Mboda, Wahyudin H. Yasin mengaku, petani saat ini lebih bersamangat dengan harga yang naik. “Beda dengan tahun sebelumnya, saat ini kita sangat bersemangat. Kalau sudah selesai panen, secepatnya kita akan menanam lagi semangka untuk tahap kedua. Mumpung harga sedang bersahabat,” ujar petani,  Ahad (10/6).

Kata Wahyudin, tahun sebelumnya harga semangka tidak begitu menjanjikan. Sebelumnya harga semangka hanya Rp. 15 sampai 16 ribu ukuran besar. Sedangkan ukuran sedang Rp 4 – 7 ribu.

Dikatakannya,  memiliki lahan sekitar 35 are. Bisa ditanami semangka sebanyak lima bungkus isi 450 sampai 480 biji. Sedangkan untuk mendapatkan hasil yang bagus, pola penanaman harus diatur jaraknya yakni dengan ukuran 60 cm x 2,5 meter.

“Budi daya semangka tidak terlalu sulit. 75 hari sudah panen,” urainya.

Diakuinya, setelah Musim Hujan (MH), idealnya bisa menanam semangka sebanyak tiga kali. Namun, hasilnya tidak akan maksimal karena kendala air untuk pengairan.

“Biasanya air Dam Ncoha menjadi harapan untuk mengairi tanaman. Saat ini  kami hanya mengandalkan air yang bersumber dari sumur bor dalam. Hal itu menjadi indikator sehingga tidak menanam sampai tiga kali,” tuturnya.  (YAN)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 256
    Shares

Komentar

To Top