Ekonomi

Harga Pupuk Melambung, Petani Mengeluh

Ilustrasi

Bima, Bimakini.- Petani asal Desa Leu, Kecamatan Bolo, mengeluhkan harga pupuk melambung tinggi dari sebelumnya. Pasalnya, pengecer menjual pupuk secara paket, yakni 1 zak pupuk urea subsidi plus pupuk non subsidi 2 kg Rp 150 ribu.

Kenaikan harga pupuk seperti itu dinilai mencekik petani, karena sebelumnya harga 1 zak urea subsidi plus 2 kg pupuk non subsidi hanya Rp 120 ribu.

“Kami sangat dibebankan dengan kenaikan harga pupuk yang dijual pengecer saat ini. Akibatnya, kita tidak jadi membeli pupuk untuk kebutuhan pemupukan bawang Musim Kemarau (MK) II,” ujar warga Desa Leu, Mahani, Selasa (7/8).

Kata Mahani, dirinya mengetahui adanya kenaikan harga pupuk, setelah membeli di UD, milik Junaid Abdullah.

Saat berada di kediaman Junaid Abdullah, dirinya diminta untuk membayar pupuk dengan harga Rp. 150 ribu. Yakni 1 zak pupuk urea subsidi plus 2 kg pupuk non subsidi.

“Saya rencana beli 3 zak urea. Karena uang tidak mencukupi, akhirnya niat membeli pupuk diurungkan,” terangnya.

Lanjut Mahani, karena harga pupuk naik drastis, menyampaikan ke saudaranya. Setelah itu, saudaranya menanyakan harga pupuk ke pengecer lain di desa setempat, yakni UD. Atun Bersaudara, milik Asiah Ahmad. Harganya pun ternyata Rp. 150 ribu.

“Pemilik UD. Atun Bersaudara menyampaikan bahwa harga pupuk sudah naik. Anehnya, menyampaikan pula bahwa terkait kenaikan harga itu sudah disetujui oleh Bupati Bima,” tutur Mahani.

Dirinya meminta kepada pihak berwenang untuk menindak pengecer yang jual pupuk melampaui HET. Hal itu perlu dilakukan, agar petani tidak dibebankan dengan harga pupuk yang tinggi.

Petani lainnya, Kaltum membenarkan kenaikan harga pupuk yang dijual oleh pengecer desa setempat. Pasalnya, pernah membeli 1 zak pupuk urea plus 2 kg pupuk non subsidi seharga Rp 150 ribu.

“Baru-baru ini saya beli pupuk dengan harga yang tinggi. Karena butuh saya tidak bisa menolak,” ujarnya.

Dirinya pun sepakat kalau para pengecer ditindak oleh pemerintah karena menjual pupuk di atas HET. Apalagi kenaikan harga pupuk ini tidak ada sosialisasi secara terbuka.

“Kalau memang ada kenaikan harga pupuk. Mestinya ada pemberitahuan secara jelas yakni lewat rapat di desa, bukan menyampaikan saat kita membeli,” ungkapnya.

Sementara itu, pengecer Junaid Abdullah yang juga pemilik UD. Usaha Bersama menyampaikan, dirinya tidak membantah menjual pupuk secara paket. Yakni 1 sak urea subsidi plus pupuk urea pril non subsidi sebanyak 5 kg dengan harga Rp. 15 ribu.

“Harga seperti ini kita imbangi dengan volume pupuk. Yakni untuk pupuk pengeimbangnya sebanyak 5 kg,” ujar Junaid.

Kata dia, sebelumnya memang harga pupuk urea bersubsidi plus 2 kg urea pril non subsidi sebesar Rp. 120 ribu. Harga itu berdasarkan volume pupuk yang kita tawarkan.

“Kita tidak mau rugi. Kalau volume pupuk tidak dinaikkan dari sebelumnya. Otomatis kita akan rugi karena stok pupuk urea pril non sibsidi akan menumpuk di gudang,” jelasnya.

Sementara itu, pemilik UD Atun Bersaudara, , Asiah Ahmad membenarkan menjual pupuk secara paket dengan harga Rp150 ribu. Namun, jika petani membeli pupuk urea sebanyak 3 zak plus 20 kg pupuk nonsubsidi harganya sebesar Rp. 450 ribu.

“Saya tetap menjual pupuk urea subsidi dengan harga 100 ribu per zak. Betul saya menjual 20 kg pupuk non sibsidi seharga 150 ribu,” ujarnya.

Dijelaskannya, walau pun demikian, dirinya tidak memaksa petani untuk membeli pupuk secara paket. Jika petani meminta pupuk urea subsidi saja, tetap memberikan.

“Saya tidak menjual secara paksa. Kalau petani suka dengan tawarannya, ya Alhamdulillah. Jika tidak, itu hak petani,” ujarnya.

Namun, dia membantah pernah mengatakan, jika kenaikan harga itu sudah persetujuan Bupati Bima.  “Saya bilang ke petani. Pola penjualan seperti ini berdasarkan hasil rapat Distributor dan pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima,” katanya. (YAN)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
  • 50
    Shares

Komentar

To Top