Jalan-jalan

Catatan Perjalanan ke Enam Negara Bagian Amerika Serikat (1)

MENGHADIRI undangan resmi pemerintah Amerika Serikat (AS) dalam program International Visitor Leadership, merupakan sebuah pengalaman baru. Berikut catatan catatan perjalanan saya yang mengunjungi enam Negara bagian Amerika Serikat (AS).

PENGALAMAN ke AS sangat mendebarkan bagi saya. Betapa tidak, selain baru pertama keluar negeri, apalagi ke AS, juga hanya sorangan wae (pinjam istilah H Fithrah Malik) atawa sendiri saja. Sebab pemerintah AS hanya mengundang saya sendiri dari Indonesia untuk mengikuti program ini. Sehari sebelum terbang ke Singapura, saya diterima oleh Robyn Remeika, Asisten Atase Kebudayaan AS di Kedubes jalan Merdeka Selatan no 5. Selain Ms Robyn, saya juga diterima oleh staf lokal Kedubes yaitu Shita Nur Ika Dewi, Irmina Reniarti, dan Gini Adityawati. Saya memperoleh banyak petunjuk selama pertemuan predeparture briefing yang berlangsung sekitar tiga jam itu. Selain penjelasan program, saya juga menerima tiket internasional dan uang saku untuk mengatasi yang mungkin dibutuhkan selama penerbangan dari Indonesia ke AS. Rabu siang, 24 Juli 20007, saat keberangkatan, sekitar pk 12.00 saya meninggalkan hotel Sofyan Betawi tempat saya menginap dua hari untuk keperluan predeparture briefing di Kedubes AS di Jakarta. Seperti saat mengurus visa di Surabaya, biaya kali ini pun mulai dari transportasi, akomodasi dan segala biaya lain telah ditanggung oleh pemerintah AS. Saya menuju bandara lebih cepat karena diminta untuk lebih awal tiga jam sebelum terbang. Pesawat Singapore Airlines nomor penerbangan SQ 981 yang saya tumpangi akan boarding pukul 17.10 Wib. Kendati melewati jalan tol, saya tidak ingin ambil risiko telat sehingga saya memutuskan untuk ke bandara lebih awal. Sampai di terminal keberangkatan internsional, saya sempatkan diri makan siang di rumah makan siap saji Hoka Hoka Bento sekitar pukul 13.00 Wib sebelum saya check in pukul 14.00 Wib.
Setelah memperoleh boarding pass dan bagasi saya juga check in trough dengan tujuan akhir di Sanfransisco (SFO). Seperti biasa, saya paling suka mengambil kursi dekat jendela supaya bisa melihat pemandangan dengan bebas. Usai check in saya kemudian membayar fiskal Rp1 juta. Setiap penumpang yang akan keluar negeri harus membayar fiskal di bandara. Dengan menunjukan boarding pass, passport dan juga visa, saya bayar di loket fiskal yang dilayani oleh bank Mandiri di bandara Soekarno-Hatta. Setelah semua selesai, saya kemudian masuk dan melewati petugas yang stempel bukti pembayaran fiskal untuk kemudian melalui petugas imigrasi.

Baca juga: Catatan Perjalanan ke Enam Negara Bagian Amerika Serikat (2)

Oleh petugas Imigrasi Indonesia, saya diperiksa seluruh kelengkapan administrasi dan persyaratan keluar negeri, termasuk mencocokkan dengan data base yang mereka punya. Cukup dengan meletakkan pada sensor seperti pembaca semacam barcode di swalayan, maka seluruh data keimigrasian saya muncul di layar monitor. Setelah semua tidak ada masalah, petugas kemudian memberikan stempel pengesahan sebagai tanda kita sudah boleh menuju ruang tunggu di keberangkatan. Sambil menunggu pesawat boarding, saya mengisi form yang diberikan petugas airline pada saat check in. Form tersebut harus diisi dan harus diserahkan kepada awak pesawat atau petugas imigrasi di pintu saat boarding atau naik pesawat. Form tersebut disobek jadi dua karena sisanya harus diserahkan kembali pada saat kita memasuki Indonesia.

Hal ini penting untuk mengontrol keberadaan Anda baik saat meninggakan Indonesia maupun setelah kembali ke Indonesia. Semuanya akan dicatat dalam data base. Jika Anda tidak mengembalikan form kedatangan, maka dianggap belum kembali ke Indonesia. Bisa jadi karena kelalaian kecil ini, Anda akan kesulitan untuk keluar negeri lagi di masa mendatang. Ini prosedur standar yang harus diikuti. Tepat pukul 17.00 Wib saya boarding dan diperkenankan naik pesawat Singapore Airlines jenis Boeing 777-300 di pintu keberangkatan D1 di terminal 2. Pesawat bermesinjet ini, berpenumpang maksimum 300 orang. Di bandara kita harus memperhatikan semua petunjuk supaya tidak nyasar. Ada dua terminal di Bandara Soekarno-Hatta. Untuk terminal 1 biasanya untuk keberangkatan domestik sedangkan keluar negeri dari terminal 2. Masing-masing terminal ini dibagi lagi menjadi beberapa pintu yang diberi kode A, B, C, D dan masing-masing pintu ini juga masih ada A1 sampai tujuh dan seterusnya. Pesawat yang saya tumpangi melewati terminal 2 pintu D1. Setelah terbang satu jam 35 menit, saya tiba di Bandara Changi, Singapura pukul 20.00 waktu Singapura atau sama dengan Wita.

Di Singapura saya harus mencari hotel Ambassador sebagai tempat menginap semalam sebelum terbang ke Narita Jepang dan San Franisco. Pengalaman mencari hotel yang jumlahnya tidak hanya satu di bandara ini, cukup melelahkan. Jika info awal yang saya terima di Jakarta akan ada bus yang menjemput, ternyata tidak ada. Saya harus mencari sendiri di bandara yang sangat luas itu dengan berjalan kaki. Dalam kondisi demikian, andalan satu-satunya adalah bertanya dan bertanya pada setiap loket informasi yang tersedia dan sangat banyak di bandara international ini. Ada satu yang baru yang saya dapatkan dalam pengelolaan informasi di negerinya Lie Kwan Yeuw ini.

Untuk membantu memudahkan pencarian, petugas tidak hanya mengandalkan bahasa lisan yang disadari memang mudah dilupakan, tetapi juga mereka menyediakan bagan bandara yang dicetak berwarna. Di mana posisi kita saat bertanya dan di mana lokasi dan arah yang dituju, dengan mudah ditunjuknya. Kertas cetakan itu dengan cekatan diberikan kepda si penanya. Jadi kita sangat mudah mencari sesuatu, seperti hotel transit Ambassador yang saya pakai untuk transit di Changi. Namun karena bandaranya yang sangat luas,saya harus menghabiskan waktu lebih dari setengah jam untuk bisa sampai ke hotel. Padahal selain berada di dalam bandara, juga kita tidak sungguh-sungguh berjalan kaki, tetapi ada eskalator yang turut mempercepat langkah kita. Saya menginap di sebuah hotel bernama Ambassador Transit t-1 kamar 22. Hotel ini telah dibooking oleh perusahaan penerbangan Northwest Airlines yang akan membawa saya ke AS.

Sesuai jadwal, saya hanya boleh tidur sampai jam 02.00 dini hari, sebelum ke terminal keberangkatan untuk check in pada loket pesawat Northwest Airlines yang akan membawa saya ke Narita Jepang dan San Frasisco pada pukul 06.00 pagi. Untuk penerbangan internasional, butuh waktu paling sedikit tiga jam sebelum pesaat take off. Jumat pagi saya menggunakan pesawat dengan nomor penerbangan NW 6 jenis airbus A330-200 yang membawa saya ke Narita Jepang dengan waktu jelajah tujuh jam 25 menit. Saya tiba di Narita sekitar pukul 13.00. Hanya istirahat dua jam di bandara Narita, saya kemudian terbang ke San Fransisco pukul 15.00 waktu Narita atau pukul 14.00 Wita. Saya disarankan untuk selalu ganti dan cocokkan jam setiap mendarat agar tidak keliru saat boarding dan tidak sampai ketinggalan pesawat.

Dengan perusahaan penerbangan yang sama, saya terbang dengan nomor penerbangan NW 28 pk 15.30. Bagi saya ini penerbangan terpanjang dan mendebarkan. Kami harus jelajah di atas Samudera Pasific, selama 9 jam 40 menit. Ada satu yang mengejutkan saya dalam penerbangan kali ini. Pada saat waktu di Narita masih menunjukkan angka 22.30, di luar pesawat masih malam. Artinya normal. Tetapi yang mengejutkan, ketika saya buka lagi jendela pada pukul 24.00 waktu Narita, ternyata di luar terang benderang karena waktu San Fransisco sudah pukul 08.00 pagi. Itu artinya, kurang lebih sejam lagi kami akan mendarat. Ada panduan posisi pesawat, ketinggian dan kecepatan jelajah, waktu di bandara asal dan waktu di bandara tujuan yang bisa dimonitor melalui layar monitor di depan setiap penumpang. Layar seperti ini selalu ada di setiap pesawat yang mulai saya tumpangi sejak dari Jakarta baik milik Singapore Airlines maupun Northwest Airlines. Pada layar monitor datar atau plasma ini, bukan hanya info ini yang bisa kita lihat, tetapi ada banyak pilihan seperti film atau movie, musik, informasi dan maps.

Yang disebut terakhir bukan hanya untuk mengetahui posisi pesawat dengan gambar lengkapnya, tetapi juga kita bisa jelajah dunia melalui maps own. Fungsinya hampir sama dengan situs google maps di ingernet. Cuma bedanya, zoom hanya bisa sampai delapan kali dan kita hanya bisa melihat detail Kota Bima misalnya, tanpa bisa melihat detail BTN Penatoi atau rumah kita. Kalau di google maps, rumah kita termasuk pohon di halaman atau mobil yang parkir depan rumah masih bisa kita lihat dengan jelas. Tapi paling tidak, kalau ada kenalan baru yang duduk dengan kita di pesawat bisa kita tunjukan kota kita, seperti yang saya lakukan pada kenalan baru saya, Mr Larry dari Nevada dalam pernerbangan Narita-San Fransisco. Ada hal lain yang juga menjadi pengalaman baru buat saya. Kebiasaan makan nasi di Indonesia harus saya lupakan sementara. Sebab mulai dari penerbangan Jakarta-Singapura sampai saya tiba di San Fransisco setelah menginap semalam di Changi, perut saya belum tersentuh nasi.

Saya mulai berpikir rasional bahwa tubuh saya butuh gizi dan bukan nasi. Apa saja saya makan tanpa memperhatikan selera, yang penting saya kunyah dan telan. Seluruh makanan yang diberikan di pesawat untuk saya, saya habiskan semua. Syukurlah sampai di San Farnsisco tidak ada masalah dengan kesehatan saya. Saya baru melihat daratan hanya sekitar lima menit sebelum mendarat di bandara international San Fransisco. Itupun kota ini ditutup awan yang cukup tebal. Kota ini berada di pantai, tepi barat AS. Seperti yang saya baca dari petunjuk yang diberikan oleh staf Kedubes AS di Jakarta, di bandara ini adalah pintu masuk ke AS bagi perjalanan saya.

Saya akan berhadapan dengan pemeriksaan yang sangat ketat. Begitu saya masuk bandara, pemeriksaan imigrasi AS yang ketat, benar-benar dimulai. Inilah pengalaman pertama yang mendebarkan buat saya. Puluhan gate atau pintu masuk imigrasi AS yang hanya dibatasi dengan pita-pita seperti kalau Anda antre di bank, dijaga ketat. Seorang wanita sepertinya warga AS keturunan Jepang lalu lalang memberikan instruksi. Yang visitor atau pendatang dan citizens atau warga negara AS mempunyai pintu pemeriksaan terpisah. Saya belok ke arah kiri mengikuti rombongan penumpang visitor. Satu-satu pendatang itu diperiksa segala kelengkapan adminisrasinya, mulai paspor, visa, form kedatangan (arrival) dan form pabean yang diberikan awak Northwest di atas pesawat, serta kelengkapan lainnya.

Sambil menunggu giliran, saya mengaktifkan handphone saya. Butuh waktu sekitar lima menit sebelumnya akhirnya berhasil aktif. Saya sempat gelisah juga, jangan-jangan tidak bisa aktif seperti di Bandara Narita, Tokyo Jepang. Banyak SMS tertunda yang kemudian masuk. Terutama dari istri dan anak saya, karena memang komunikasi terakhir dengan keluarga hanya di Bandara Changi,Singapura. Itu berarti sehari sebelumnya. Saya sendiri sebagai peserta program Visitor International Leadership, tidak lepas dari pemeriksaan ketat kendati saya sudah menjukkan ‘surat sakti’ dari Kedubes AS di Jakarta dan visa kelas 1. Malah saya merasakan ada yang aneh. Ketika petugas pemeriksa mengambil sidik jari dan foto pengunjung sebelum seperti penumpang lain sebelum saya, saya malah disuruh masuk ruangan lain.

Ada tertulis secondary interview di pintu masuknya. Saya pikir pasti saya akan diperiksa lebih cermat lagi. Dugaan saya benar. Di ruang khusus itu, sudah menunggu lima orang petugas imigrasi berseragam biru tua. Seorang di antaranya yang bernama Mr Murphy, menyodorkan selembar form yang harus saya isi setelah memeriksa kelengkapan imigrasi dan bertanya banyak hal kepada saya. Pria berkepala plontos itu sangat serius menjalanan tugasnya. Angket yang harus diisi itu, sebetulnya sederhana saja. Mereka hanya menanyakan nama, umur, dan alamat bapak dan ibu, termasuk nomor telepon mereka jika ada. Setelah form saya isi, Murphy membawa saya ke ruangan yang lain. Di ruangan itu saya diinterogasi lagi, sambil menyalakan monitor komputer. Sambil bertanya kepada saya, dia mencocokan dengan data saya yang sudah ada di komputer yang dikirm secara online dari Kedubes AS di Jakarta. Dia sangat lama dan teliti melakukannya, sebelum akhirnya petugas lain bernama Mr Ohang datang.

Butuh waktu 30 menit sebelum akhirnya sidik jari dan foto saya diambil lagi. Setelah semua pemeriksaan usai, Murphy kemudian berdiri menyalami saya dan mengucapkan selamat datang di AS dan selamat menikmati kunjungan. Yang menjadi masalah buat saya setelah pemeriksaan itu adalah bagasi saya. Pasti akan ada masalah karena saya telat mengambil di eskalator bagage claim yang berputar. Saya mendatangi tempat pengambilan bagasi, ternyata bukan milik pesawat yang saya tumpangi. Sama-sama dari Narita, tetapi pesawat lain.

Saya berpindah ke sebelahnya, ternyata di sini. Tapi sayang sudah tidak berputar dan tidak ada lagi bagasi satupun di tempat itu. Saya kemudian melapor pada bagian kehilangan dan menghubungi pihak airline. Lama saya di situ menunggu proses. Oleh petugas, saya diminta untuk naik ke lantai dua dan menemui petugas Singapore Airlines yang menerbangkan saya dari Jakarta ke Singapura. Saya sempat komplain sebab yang membawa saya ke San Fransisco adalah Northwest. Tetapi saya tidak mau berdebat, karena saya pikir mungkin memang begitu aturan mainnya. Saya mengalah dan mencari petugas Singapore Airlines di lantai dua. Sebelum saya naik, saya cek sekal lagi dan mengamati satu-satu seluruh bagasi yang ada. Betapa senangnya saya, ternyata bagasi itu ada di balik pilar bandara. Dengan mengucap syukur, saya kemudian keluar bandara di ruang kedatangan. Di San Fransisco saya harus menginap semalam sebelum terbang ke Washington DC keesokan harinya.

Sesuai petunjuk, Kedubes sudah booking hotel yaitu Travelodge hotel dekat bandara. Untuk menuju ke tempat menginap transit tersebut, saya kemudian menelepon pihak hotel bahwa saya sudah tiba di bandara. Hanya sekitar 20 menit menunggu, mobil jemputan tiba. Saya membayar 100 dolar AS untuk menginap semalam. Jam sudah menunjuk angka 12.00 siang waktu San Fransisco atau jam 10 malam di Bima. Setelah masuk kamar hotel dan istirahat sebentar, saya keluar untuk mencari makan siang.

Tepat di samping hotel, ada restoran Jepang, Osho. Saya tidak paham dengan daftar menunya karena semua berbahasa Nipon. Saya minta bantuan pegawainya apakah ada menu nasi dan ayam. Ternyata ada. Harganya 12 dolar, ayamnya sangat banyak. Minumnya teh hijau tanpa gula, pahit. Karena banyak ayam yang lebih, saya minta dibungkus untuk dibawa pulang dan saya beli nasi satu porsi untuk dimakan di hotel. Subuh Sabtu, 28 Juli 2007 pukul 05.00 saya bangun karena harus begegas ke bandara. Tadinya, saya pikir semua urusan periksa udah selesai. Ternyata kali ini malah lebih ketat lagi. Sampai sepatu saya dibuka. Saya dimasukan dalam boks kemudian ditembak dengan cahaya dan suara yang cukup mengagetkan. Tidak cukup, ternyata masih ada secondary check. Saya disuruh berdiri di tempat yang sudah disediakan sambil menunggu giliran. Seorang wanita kulit hitam berpostur tinggi besar memanggil saya.

Saya kemudian disuruh duduk sambil menyerahkan barang bawaan saya. Untung tas pakaian dimasukan ke bagasi, kalau tidak pasti diobok-obok. Tas kamera dan tas dokumen yang saya bawa, termasuk sepatu dilap dengan teliti menggunakan kertas tipis bulat berwana putih. Kertas yang dilapkan pada seluruh barang bawaan saya termasuk handycam dan kamera digital itu, dimasukan pada alat sensor. Dalam hati saya berpikir, luar biasa negara ini. Begitu teliti dan ketatnya sampai diperiksa demikian detail. Kapan Indonesia seperti ini? Jangankan di Bandara Sultan Muhammad Salahudin Bima, di bandara internasional Ngurah Rai dan Soekarno-Hatta saja biasa-biasa saja. Namun demikian, masih ada satu kebanggaan pada diri saya bahwa negara kita masih dianggap aman dan ‘percaya’ saja tidak akan terjadi apa-apa. Dalam perjalanan ke Washington, saya harus ganti pesawat di bandara Minneapolis, Minnesotta. Kota yang kemudian populer setelah sebuah jembatan yang mengubungkan belahan sungai besar yang membelah kota itu ambruk. Banyak korban jiwa, karena ratusan mobil ikut jatuh bagai barang mainan.

Dari San Fransisco ke Minneapolis butuh waktu tiga jam 31 menit. Setelah istirahat satu jam, saya kemudian boarding di pintu 4A. Beda waktu dua jam antara San Fransico dengan Minneapolis. Saya terbang lagi pukul 15.05 waktu Minneapolis atau pukul 02.05 dini hari waktu di Bima menuju Washington DC. Jarak tempuh Boeing 737-300 yang membawa saya ke ibukota negara superpower itu yaitu di bandara Washington Reagen adalah dua jam 20 menit. Saya tiba sekitar pukul 18.55 waktu Washington atau pukul 06.55 pagi di Bima. Beda satu waktu antara Washington dengan Minneapolis tiga jam dan beda 12 jam dengan Bima. Saya dijemput oleh Irawan Nugroho, prtugas yang akan menemani saya sampai pulang ke Indonesia. Sebelum ke hotel, kami sempat mencari makan malam di sebuah pusat perbelanjaan di kota Washington.

Selain mencari makan, saya harus membeli alat semacam konektor cok listrik, agar hanphone saya bisa dicharger. Ada perbedaan bentuk colokan stop kontak antara Indonesia dengan AS. Mereka menggunakan cok segitiga, dua berbentuk plat dan satunya bulat. Dengan model itu, pasticok yang kita punya tidak bisa masuk. Saya harus membeli konektor penyesuai yang bagian atas ada dua lobang untuk masuknya cok kita, sedangkan di ujung lainnya, berbentuk plat. Kalau Anda pernah membeli barang elektronik tertentu, cok macam ini biasanya diselipkan. Tetapi karena tidak bisa dipakai di negara kita, biasanya kita buang begitu saja. Atau mungkin Anda pernah membeli laptop yang ujung colokan catu daya AC tidak pas dengan yang ada di rumah kita, maka perlu dibeli konektor sambungan yang bisa menyesuaikannya.

Tidak ada masalah berarti sampai kami check in di hotel Jurys, hotel yang sudah dibooking untuk saya. Malamnya saya hanya tiduran di kamar, istirahat total setelah melakukan perjalanan jauh. Di hotel dengan tarif 200 dolar ini, saya menemukan masalah lain yaitu soal perbedaan waktu tidur kota di Bima dengan AS. Mestinya saat saya masuk hotel, bukannya saat tidur karena malam, tetapi jam biologis saya mengatakan subuh. Itu artinya saatnya bangun tidur, bukannya untuk berangkat tidur. Ada masalah yang kemudian disebut dengan jetlag. Saya benar-benar tidak bisa tidur walau kelelahan. Saya justru ngantuk luar biasa saat di atas pesawat. Minggu pagi, 29 Juli 2007, saya kurang fit karena tidak bisa tidur dengan nyenyak. Malas di hotel, setelah sarapan roti, saya kemudian menuruti ajakan Irawan untuk berputar-putar dengan mobil pribadinya. Mestinya, hari ini saya masih harus istirahat total sebelum mulai program pada Senin, 30 Juli 2007.

Kami sempat ke negara bagian Virginia, Maryland dan sempat keliling Washington DC. Ternyata hotel Jurys tempat saya menginap dekat dengan KBRI, Gedung Putih, Pentagon, dan banyak lagi kantor pemerintahan AS. Karena memang pusat pemerintahan George W Bush ada di Washington DC (District of Columbia). Penduduk Washington, ternyata tidak banyak, tidak lebih dari satu juta orang. Pada hari libur, jalan agak lengang, kecuali diisi wisatawan yang berjalan kaki mengelilingi kota kecil dari segi luas, tetapi besar perannya ini. Kita tentu saja mahfum kalau dari kota ini, dunia bisa diremote untuk bisa damai atau sebaliknya.

Tidak ada kesibukan apalagi kemacetan lalulintas seperti di Jakarta misalnya. Kendaraan yang lalulalangpun tidak banyak. Karena sekarang musim panas dan waktu libur bagi sekolah-sekolah di AS, Washington juga banyak dikunjungi wisatawan. Harinya pun panjang. Pukul 20.30 malam, hari masih terang. Bandingkan dengan di Bima yang sudah gelap pukul 19.30. Senin, 30 Juli 2007, seperti jadwal yang terima di Jakarta, program dimulai. Jam 10.00 sampai 11.30, saya bertemu dengan manajer program Ms Jeana Lim dan Mr Charlie Kellet, program officer, East Asia Branch. Kami berbincang akrab, termasuk penjelasan mengapa saya terpilih dalam program ini. Kata Kellet, program ini dimulai sejak 1940 dan sudah ribuan alumni yang tersebar di seluruh dunia. Dari seluruh peserta, 200 menjadi kepala negara dan kepala pemerintahan seperti H Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Soekarnoputri dari Indonesia, Tony Blair dari Inggris dan banyak lagi.

”Tapi kami tidak akan menekan Anda untuk menjadi presiden di Indonesia,’’ katanya. ‘’Mengapa Anda yang dipilih? Duta Besar kami yang di Jakarta tentu saja punya pertimbangan yang cermat karena Anda punya potensi dan konsisten dan punya dedikasi dalam menjalankan profesi,’’ tambahnya. Saya berseloroh, mudah-mudahan AS tidak salah memilih saya, dengan cepat dijawabnya. ‘’Tidak, ini bukan serta merta tetapi melalui pertimbangan matang dan butuh waktu yang lama,’’ tambahnya lagi.

Dia menjelaskan, dalam program ini banyak sekali orang yang punya minat dan tertarik untuk berbicara dengan saya. Ada banyak alasan, selain karena mereka memang punya ketertarikan dengan Indonesia, juga ingin mengetahui budaya Indonesia dan juga sebaliknya. Ada banyak masyarakat AS yang secara sukarela ingin agar masyarakat negara lain seperti saya mengenal dan memahami AS secara lebih baik. Dalam program saya, menurut Ms Jeana Lim program manager Mississippi Consortium International Development (MCID), selain berada di Washington DC untuk mengetahui kebijakan AS secara nasional dari seluruh aspek, juga akan mengunjungi empat negara bagian lain yaitu Arkansas, Detroit (Michigan), New Meksiko, dan San Fransisco di California.

Sejumlah satsiun televisi dan media cetak, termasuk VOA sudah menunggu kedatangan saya. Semua kegiatan sudah terjadwal rapi, termasuk hotel tempat menginap. Usai bertemu dengan Jeana dan Kellet, saya ke Meridian International Center. Saya sangat beruntung sekali bisa bertemu dan berbincang dengan profesor kebijakan publik George Mason University, Dr Mark Rozell. Saya dipertemukan dengan penulis banyak buku tentang kebijakan publik ini karena saya kebetulan sedang menyelesaikan studi magister kebijakan publik di Universitas Brawijaya Malang.

Pada kesempatan overview, Rozell memaparkan sistem politik AS. Kata dia, dengan sistem pemerintah federal seperti sekarang ini, akan terbagi kekuasaan secara merata antara lembaga eksekutif, parlemen dan yudikatif. Namun demikian, menurut pengamatannya, sistem tersebut bukan tanpa kelemahan. ”Masih ada saja celah tumpang tindih dalam praktiknya,” katanya.

Prof Dr Mark Rozell telah menulis sembilan buku dan menjadi editor 16 buku tentang kebijakan publik, sistem pemerintahan, politik dan agama, politik dan media dan ketertarikan kelompok dalam pemilu. Selain guru besar pada George MasonUniversity, juga sering memberikan kuliah dan ceramah umum kebijakan publik di luar negeri.

Saya bertemu dengannya, tidak di kampus tetapi di Meridian International Center, sebuah lembaga non pemerintah yang dia pimpin. Pada Selasa, 31Juli 2007, saya diagendakan harus mengikuti tiga kegiatan dan bertemu dengan orang-orang yang berkompeten pada pemberian ijin penyiaran dan pendirian televisi dan radio di AS. Saya telah ditunggu oleh mereka pukul 10.00 di kantor Federal Communication Commission (FCC). Kalau di Indonesia dikenal dengan KPI atau Komisi Penyiaran Indonesia.

Lembaga ini sangat berwenang soal penyelenggaraan penyiaran di AS, termasuk yang memberikan ijin penggunaan frekwensi spektrum radio. Saya bertemu dengan Mr Michael Carowitz, Chiefof Staff/Assosiate Buraeu Chief, Enforcment Bureau FCC, Ms Paulette Laden Attorney Adviso, Video Division, Media Bureau, dan Mania Bagdadi. Bagdadi adalah Deputy Division Chief, Industry Analysis Division, MediaBureau. Anggota FCC sebanyak lima orang, tiga orang terpilih dari partai pemenang Pemilu atau partai presiden. Masa jabatan mereka sama dengan KPI yaitu lima tahun dan dapat dipilih kembali tanpa batas. Ada yang menarik soal penyiaran di AS.

Berdasarkan UU Penyiaran mereka tahun 1934, tidak dikenal istilah sensor. Jadi kalau anda punya stasiun televisi atau radio di AS, Anda boleh menyiarkan apa saja, termasuk —maaf — film vulgar. Di AS tidak mengenal istilah itu, tetapi jika masyarakat keberatan dengan materi yang anda siarkan, boleh mengajukan keberatan kepada FCC. Kasus Jeanett Jackson yang sempat mempertontonkan aurat saat siaran langsung show-nya tahun 2004 di USA, perkaranya masih belum rampung.

Kebetulan pengacara kondang yang mewakili stasiun televisi yang diperkarakan oleh FCC itu, Mr Bob Corn-Revere, juga dipertemukan dengan saya. Kami banyak diskusi soal ini. Di AS, sejak First Memorandum Right dideklarasikan 1934, tidak ada lagi sensor berita dan tayangan media. Cuma memang tidak boleh ada kata-kata makian atau menghina serta tindak boleh menggambarkan organ seks secara terbuka. Kalau anda tampil tanpa busana di televisi tidak masalah asal tidak ada kelompok masyarakat yang mempermasalahkannya, termasuk adegan yang mungkin di negara kita dianggap tidak sopan dan tidak senonoh. Saat ini, televisi di AS sedang persiapan pengalihan dari analog ke digital hingga Februari 2009. Pada tahun ini, sudah tidak boleh lagi ada siaran dengan sistem analog sepertgi Bima TV sekarang.

Perubahan kepemiikan maupun perubahan acara televisi juga harus dilaporkan dan disetujui oleh FCC. Tidak boleh ada saham baru yang masuk ke sebuah stasiun televisi, tanpa terlebih dahulu memperoleh ijin dan pengesahan dari FCC. Kepemilikan stasiun penyiaran di AS diatur sangat ketat. Kendati Anda punya banyak uang, tapi tidak diperbolehkan untuk memiliki lebih dari satu stasiun.

Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat lain menggunakan frekwensi yang merupakan ruang publik yang sangat terbatas itu. Di AS tidak dikenal ada televisi nasional. Semuanya lokal dan yang boleh dilakukan jika ingin siarannya ditonton di daerah-daerah adalah dengan berafiliasi atau bekerjasama dengan televisi lokal setempat. Contohnya kalau RCTI mau ditonton oleh masyarakat Bima, maka harus berafialisi dengan Bima TV. RCTI tidak diperbolehkan membangun transmisi di Bima.

”Hal ini dimaksudkan supaya ada kompetisi, keragaman, dan memberikan kesempatan pada masyarakat lokal. Juga ada ketentuan berapa persen konten lokal yang harus disiarkan dalam afiliasi tersebut,” kata Carowitz.

Televisi di AS juga hanya boleh ditonton maksimum 39 persen dari jumlah pemirsa televisi. Tidak boleh lebih dari itu dan akan dirating secara ketat oleh lembaga independen. Setelah bertemu dengan anggota FCC, saya diagendakan bertemu dengan Mr Bob Corn-Revere, Partner, Washington DC office, Davis Wright Tremaine LLP.

Dia adalah pengacaranya media yang dirugikan oleh regulasi atau oleh aturan pemerintah. Saat ini da sedang menangani kasus Jeanett Jackson yang dituntut oleh masyarakat karena dianggap berbuat tak senonoh di depan public saat siaran salah stasiun televisi di AS. Banyak hal yang kami perbincangkan, namun isinya akan banyak saya kupas pada bagian terpisah. Demikian pula dengan pertemuan dengan sejumlah tokoh lainnya. Pada tulisan ini saya hanya ingin menulis tentang perjalanan saya, belum masuk pada inti dan hasil pertemuan.

Masih pada 31 Juli 2007, sekitar pukul 14.45, saya bertemu dengan Mr Wally Dean, Broadcast/Online Director, Commitee for Concerned Journalists (CCT), di kantornya National Press Building Washington DC. Banyak hal yang juga kami bicarakan dalam pertemuan lebih dari satu jam itu. Bahkan Dean memberikan saya sebuah buku hasil risetnya soal media di AS. Pada 1 Agustus 2007, saya diterima Ethan Glick, Desk Officer for Indonesia di United States Departemen of State. Dia memberikan banyak pandangan dan kebijakan negaranya kepada saya dalam overview yang berlangsung satu setengah jam. Glick mengatakan, AS mempunyai kepentingan yang sangat besar terhadap keamanan global. Sebab hanya dengan keamanan yang terjaga, setiap negara bisa membangun ekonomi, politik dan demokrasi.

”Tidak mungkin akan terbangun politik dan demokrasi yang baik jika masyarakat secara ekonomi masih miskin,” katanya. Menurut dia, salah satu syarat untuk pembangunan ekonomi, adalah terciptanya keamanan yang baik. Untuk kondisi global seperti sekarang ini, kekacauan pada sebuah negara akan berdampak pada negara lainnya, termasuk AS. Menjawab pertanyaan saya mengapa AS terkesan terlalu campur tangan dengan urusan dalam negeri negara lain, Glick dengan diplomatis berujar, karena memang pemerintahnya peduli.

”Mestinya kan bukan hanya pemerintah AS saja yang peduli, tetapi juga negara-negara lain,” tambah Glick. Dia mencontohkan betapa pentingnya keamanan di Selat Malaka. Selat Malaka, dalam pandangan AS bukan hanya milik Indonesia di mana keamanannya hanya menjadi tanggungjawab Indonesia, tetapi juga harus menjadi tanggungjawab semua negara. Kepentingan banyak negara di Selat Malaka harus menjadi prioritas perhatian, mengingat tempat itu menjadi pintu bagi angkutan laut dalam perdagangan global.

”Kalau selat itu tidak terjamin keamanannya dan jatuh pada perompak atau teroris, maka kepentingan perdagangan global akan terganggu,” ujarnya. Ditanya tentang imej orang AS jika ditanya tentang Indonesia, menurutnya pasti akan berpikir soal teroris. Padahal diakui Glick, teroris bukanlah mayoritas dilakukan oleh orang Indonesia.

Namun demikian, Glick optimis Indonesia akan menjadi negara yang maju dan diperhitungkan baik di tingkat Asean maupun dunia. Peran Indonesia akan makin strategis dalam banyak aspek, terutama di Timur Tengah. Sebagai anggota PBB, Indonesia punya peran penting dan bisa lebih terus tingkatkan lagi di masa-masa yang akan datang.

”Saya harap Indonesia nakan menjadi leader di negara-negara ASEAN, walau belakangan ada penurunan soal itu,” tambahnya. Berbicara soal Iraq, mengapa AS berkorban demikian besar, Glick lagi-lagi berujar karena negaranya peduli.

”Sebagai pejabat pemerintang AS Serikat, saya katakan karena memang kami (AS) peduli untuk keamanan global,” tandasnya.

Saya sempat bertanya banyak hal, termasuk upaya AS membangun komunikasi dengan negara-negara Islam soal sikap mereka dan imej negara-negara Islam terhadap sikap mereka. Dia mengakui itu memang tidak mudah, sebab di kalangan negara-negara Islam sendiri pun, masih beda soal ini. Saya katakan ada persepsi umum di Indonesia bahwa Amerika anti Islam, tetapi Glick menjawab bahwa sulit dibedakan kalau tindakan mereka itu adalah untuk memberantas teroris dan bukan memusuhi muslim.

”Ada ekstremis dan teroris yang kami berantas, bukan memusuhi Islam,” katanya lagi. Saya menjelaskan, umat muslim di Indonesia juga tidak terlalu sepaham dengan serangan-serangan orang yang kemudian disebut teroris ini. Sebab terlalu banyak yang dirugikan, termasuk masyarakat Indonesia sendiri. Saya yakinkan Glick bahwa masyarakat muslim Indonesia bukanlah teroris dan tidak suka dengan tindakan teroris. Dia sangat bisa memahami hal ini dan diakuinya Indonesia harus terus membangun imej di dunia internasional. Glick sangat memahami kesulitan pemerintah Indonesia dalam membangun negeri yang besar tersebut. ”Tetapi saya memberikan apresiasi terhadap kemajuan yang telah dicapai Indonesia,” tambahnya. Pukul 15.00, saya ditunggu Ms Gabrielle Price, Program Officer, East Asian and Pacific di Foreign Press Center.

Wanita kulit hitam ini selain memaparkan banyak hal berkaitan dengan tugasnya di tempat itu, juga mengajak saya untuk meninjau press room, tempat yang kadang-kadang menyeiarkan langsung berbagai statemen dan siaran pers dari pemerintah AS, termasuk presiden AS. Pada 2 Agustus 2007, saya bertemu dengan Ms Safiya Ghori, Government Realtions Director, Muslim Public Affairs Council (MPAC). Dia banyak bercerita soal tantangannya memperjuankan hak-hak warga muslim di AS, yang menurut dia masih banyak dijumpai. Bahkan dia mengaku semakin banyak terjadi setelah kasus 11 September. Sebelum berjumpa dengan Redaktur Luar Negeri The Washington Times, Mr David Jones pada pukul 15.15, saya harus mengelilingi gedung Capitol Hill.

Gedung tua kebanggaan masyarakat AS itu menjadi gedung senat dan gedung parlemen. Di gedung yang berkubah seperti masjid itu, saya sempat menyaksikan bagaimana para senator bersidang dalam ruangan yang sangat tertutupdan dijag sangat ketat. Tidak orang boleh berbisik, apalagi berbicara ketika para parlemen di negara adikuasa itu menggelar siding. Di kantor redaksi The Washington Times, Koran nomor dua setelah Washington Post di Washington, saya berbincang hangat dengan Jones. Saya banyak menanyakan soal kebijakan redaksional luar negeri korannya, termasuk soal Irak dan muslim dan sikap medianya menghadapi pemilu AS pada 2008 mendatang.

Saya juga mengunjungi Voice of America (VOA) selain bertemu dengan bos VOA, juga bertemu dengan unit siaran Indonesia. Saya senang karena sempat berbincang hangat dengan puluhan kru siaran Indonesia baik radio maupun televisi di studionya. Helmy Johannes adalah sosok yang dikenal menjadi penyiar dan reporter RCTI, kini menjadi produser program siaran Indonesia VOA.

Ada hal menarik dari pertemuan dengan para petinggi VOA itu. Bima TV dan Bima FM akan menyiarkan acara-acara dari VOA dengan cara memasang perangkat penerima siaran di studio Jl. Gajah Mada 66 Kota Bima. ‘’Kami akan tindak lanjuti setelah seminggu Anda kembali ke Indonesia, saya akan menghubungi perwakilan VOA di Jakarta,’’ kata Norman G. Goodman Ph.D, Chief Indonesian Service.

Tanggal 3 Agustus 2007, saya berkesempatan bertemu dengan Excecutive Vice President and Chief Operating Officer, WETA, sebuah stasiun televise publik AS. Bagaimana dia menjalankan bisnis televisi yang tidak boleh menerima iklan itu, juga akan saya kupas kemudian. Saya berharap, Bima TV juga bisa jalan seperti WETA, walau tidak bisa menerima iklan.

Bagaimana caranya? Karena saya hanya sendiri, tentu saja semua program yang telah disusun sejak setahun lalu oleh pengelolan International Visitor Leadership dan pemerintah AS, berkaitan langsung dengan minat saya. Saya sangat menghargai hal ini dan saya terus secara sungguh-sungguh dengan minat yang besar mengikuti setiap program yang terjadwal. Warga dan pejabat AS yang berkompeten, sangat antuasias menerima saya dan menyiapkan waktu mereka. Usai ke WETA, saya ditunggu Ms Vjollca Shtylla, Senior Program Director, New Initiatives International Center for Journalists (ICFJ) di kantornya 1616 H Street, NW, Third Floor.

Lembaga ini banyak memberikan bantuan pendampingan dan pendidikan jurnalistik, termasuk manajemen media massa di dunia, termasuk Indonesia. Bahkan mereka baru saja melakukan pelatihan jurnalistik lingkungan di Indonesia tahun ini. ‘’Kami juga akan melakukan pelatihan di Timor Leste,’’ kata Patrick Butler, Vice President Program ICJ, yang mendampingi Vjollca. Dia berjanji akan melibatkan wartawan atau tenaga manajemen dari media yang saya pimpin jika ada program di Indonesia, atau negara yang dekat dengan Indonesia atau bahkan jika perlu di AS. Tanggal, 4 Agustus 2007, saya menyelesaikan seluruh program di pusat untuk mendapatkan gambaran tentang AS secara nasional di Washington DC. Saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Little Rock, negara bagian Arkansas.

Saya terbang dengan American Airlines pada pukul 11.30. Setelah saya pelajari seluruh agenda saya, ternyata ada beberapa hal yang ingin dicapai pemerintah AS yang bisa saya tangkap. Yang pertama, selain saya harus bertemu dengan rekan sesama profesi dan pengelola media cetak, radio, dan televisi, saya juga ingin diberikan gambaran bagaimana kehidiupan masyarakat muslim di AS. Kedua, dengan menunjuk negara-negara bagian yang saya kunjungi secara geografis, diharapkan saya memperoleh gambaran yang bisa mewakili AS secara keseluruhan. Ada Washingtong di ujung timur AS sebagai gambaran kebijakan secara nasional, kemudian Arkansas, berada di bagian tengah, kemudian Michigan di ujung utara. Untuk negara bagian dengan model lain atau karakter berbeda lainnya, yang saya kunjungi adalah New Mexico, negara bagian di selatan yang langsung berbatasan dengan Mexico yang diakhiri di negara industri California.

Kalau saya lihat semua negara ini, menjadi wakil dari lima puluh negara bagian lainnya, sehingga pemerintah AS mengharapkan saya bisa memperoleh gambaran utuh mengenai negara ini. Apa targetnya, tentu saya diharapkan akan memperoleh persepsi yang sebenarnya soal AS, mulai dari kebijakan pemerintah, sampai pada kehidupan keseharian warganya, dan juga hubungan antarwarga, termasuk kehidupan umat muslim di negeri ini. Bagaimana perjalanan selanjutnya, ikuti perjalanan ke negara bagian pertama di Little Rock, negara bagian Arkansas. Ketika dalam perjalanan ke Little Rock dari Washington DC pada 4 Agustus 2007, saya harus transit di Kota Dallas negara bagian Texas.

Setelah terbang dua setengah jam, pesawat MD seri S80 berpenumpang 170 orang milik American Airlines mendarat mulus di bandara internasional Dallas. Saya harus cepat-cepat menuju pintu 26. Saya naik trem, kereta bandara, agar saya segera sampai di gate keberangkatan menuju Little Rock, negara bagian Arkansas. Negara ini berada di selatan Amerika Serikat. Setelah berpacu dengan waktu, saya tiba di pintu keberangkatan pas saat penumpang boarding. Bersama puluhan penumpang lainnya, saya pun terbang sekitar pukul 13.50 waktu Dallas.

Beda waktu satu jam dengan Washington DC. Hanya butuh waktu 40 menit sebelumnya akhirnya kami mendarat mulus di bandara Little Rock. Sebetulnya, dari Washington DC, kami terbang melewati Little Rock. Dan kalau ada terbang langsung, mungkin hanya butuh waktu dua jam. Ibarat ke Mataram, kita harus melalui Denpasar, jadi waktu di perjalanan menjadi lebih panjang. Di bandara ini, saya sudah ditunggu oleh Mr Dr Walter Nunn, petugas lokal dari Arkansas Council for Intenational Visitor, yang menangani perjalanan saya.

Saya diantar ke konter Hertz Rental Car untuk megambil mobil yang telah disiapkan untuk perjalanan saya. Mobil inilah yang akan saya pakai selama kunjungan di negara bagian Arkansas ini. Pemandu saya memilih sedan Toyota Camry, seperti mobil dinas Bupati Bima. Dalam hati saya berpikir, kapan lagi saya bisa menikmati mobil yang sering dipakai Bupati Ferry ini kalau tidak sekarang.

Dari bandara nasional, saya kemudian ke hotel Doubletree di Littlel Rock, kota kelahiran Bill Clinton. Di hotel dengan tarif 127.11 dolar AS semalam ini, saya menginap di kamar 826. Seperti di hotel sebelumnya, di hotel ini pun sudah tersedia map biru bertuliskan identitas saya dan berisi banyak brosur tentang Little Rock dan Arkansas, termasuk acara saya selama di kota yang dibelah oleh Arkansas river ini.

Karena hari pertama tidak ada kegiatan, saya habiskan dengan tiduran di kamar setelah sebelumnya makan di restoran Flying Fish. Pada Minggu pagi, masih belum ada kegiatan resmi, saya gunakan untuk berjalan-jalan ke negara bagianTenessee. Saya penasaran dengan legendaris Elvis Presley yang lahir di Kota Memphis, hanya sekitar tiga jam jalan darat arah timur dari Little Rock. Saya beragkat sekitar pukul 10.00 pagi, setelah sarapan di hotel. Ada yang menarik sepanjang perjalanan Little Rock-Memphis. Seperti yang saya sering lihat di film-film Amerika, sepanjang jalan ini hanya dipenuhi truk-truk besar yang mengangkut kontainer, mobil dan barang-barang dengan ukuran besar.

Jalur jalan penghubung dua negara bagian ini seperti jalan tol di Indonesia, tetapi tidak memiliki pintu tol. Tiap jalur dibagi tiga alur masing-masing untuk jalur cepat, lambat dan untuk menyalip. Kiri-kanan jalan dikelilingi hamparan pohon dan hamparan lahan pertanian subur yang luas sejauh mata memandang. Hanya beberapa rumah warga di tengah lahan yang luas yang ditanami dengan jagung dan kentang. Kalaupun ada rumah warga, mereka tinggal di tengah lahan mereka yang luas dengan lingkungan yang sangat asri dan hijau. Sebagai tempat istirahat pegendara yang melakukan perjalanan jauh, terutama sopir-sopir truk, ada disediakan restarea (tempat istirahat) di sisi kiri maupun kanan jalan. Hebatnya, jalan yang demikian panjang ini ditata dengan rapi. Rumput sepanjang sisi kiri dan kanan jalan yang hijau seperti taman.

Bagi saya, ini merupakan pemandangan yang mengasyikan dalam perjalanan dengan kecepatan minimum 100 km per jam itu. Setelah menempuh perjalanan panjang tapi menyenangkan, apalagi jalanan yang tidak punya tikungan sama sekali itu, sekitar pukul 13.00 saya mulai melihat bangunan tinggi. Saya berpikir pasti ini kota Memphis. Sebelum masuk kota, kami melewati jembatan panjang. Memang di Amerika rata-rata jembatannya panjang antara 200 meter bahkan ada yang sangat panjang seperti Bay Brigde di San Fransisco. Saya agak ngeri juga berjalan bersama dengan puluhan truk besar di atas jembatan ini. Apalagi minggu lalu, sebuah jembatan di Kota Minnesotta, ambruk dan menewaskan banyak orang dan ratusan mobil ambrol ke sungai di kota itu. Saya sempatkan istirahat di taman pinggir sungai sambil menikmati pemandangan yang indah, sebelum mencari makan siang. Seperti kota Washington DC maupun Little Rock, kota ini juga sepi.

Tidak ada orang yang berseliweran di jalanan, kecuali sesekali hanya saya lihat turis dari negara bagian lain yang sedang menikmati liburan musim panas. Ada taman yang indah di pinggir bagian timur Missisipi river di Kota Memphis. Saya gunakan untuk melepas lelah setelah menempuh perjalanan dari Little Rock. Selain merekam dengan kamera video dari berbagai sudut, saya juga berfoto di pinggiran sungai Misissipi yang menawan ini. Setelah makan siang, saya kemudian pergi ke Green Palace, tempat kelahiran Elvis Presley. Saya tiba sekitar pukul 15.35 atau lima belas menit sebelum lokasi itu ditutup. Setelah parkir kendaraan, saya kemudian menuju ke sebuah tempat di mana dua pesawat milik Elvis diparkir. Banyak turis dari hampir seluruh negara bagian AS maupun dari luar negeri, berkunjung ke tempat tersebut.

Pesawat itu, kondisinya masih terawat dengan baik itu dan disimpan untuk meseum dan menjadi objek wisata. Setelah puas melihat pesawat yang dulu yang sering dipakai Elvis, saya kemudian ke tempat pameran. Di situ terdapat mobil Elvis yang kondisinya juga masih terawat dengan baik. Ada yang menarik yang saya amati di kota ini. Selain sebuah avenue (jalan) yang dinamakan dengan Elvis Presley, juga kota ini menjadi miliknya Elvis. Nyaris tak ada sesuatu yang tidak terkait dengna Elvis. Souvenir, restoran, kendaraan umum, dan banyak lagi. Hampir semuanya dipasangi dengan gambar Elvis. Di museum Elvis, ternyata dikelola dengan baik. Ada yang menjual souvenir, ada radio Elvis, ada restoran, ada tempat berfoto, dan ada kunjungan ke rumah pribadi Elvis.

Sepanjang kita memasuki area yang luasnya puluhan hektar tersebut, hanya terdengar lagu-lagu legendaris itu. Video Elvis pun dipanjang dimana-mana. Nyaris tak ada langkah yang tidak bertemu dengan gambar, foto, maupun identitas lain yang berhubungan dengan Elvis. Luar biasa. Elvis bukan hanya bermanfaat dan menjadi idola bagi banyak orang ketika masih hidup, ternyata setelah tiada pun, tetap menjadi idola dan bisa menghidupi banyak orang. Untuk lahan parkir saja, luasnya lebih sehektare.

Coba bayangkan berapa banyak pemasukan jika setiap pengunjung harus membayar lima Dolar USA. Setelah puas mengamati dan mengabadikan kenangan di Kota Memphis, saya kemudian kembali ke Little Rock, sebab besok pagi sudah ditunggu oleh banyak kegiatan. Saya tentu saja harus menjaga stamina, karena kegiatan terjadwal yang harus daya ikuti cukup menyita tenaga dan pikiran. Saya saat ini tentu saja bukan hanya duta Bima, atau NTB, tetapi juga duta Indonesia. Banyak hal yang ditanyakan orang kepada saya selama kunjungan mengenai daerah saya, dan juga negeri kelahiran saya, Indonesia.

Hari pertama program kunjungan di Little Rock, saya didampingi Tommy Priakos, dari Arkansas International Center University of Arkansas. Jam 09.00 kami meluncur ke stasiun televisi Fox 16, yang merupakan afiliasi dari Fox. Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit ke arah barat menuju 10800 Colonel Glenn Road,kami diterima Mr Shane Deitert, News Managing Editor, Fox 16. Di gedung Clear Channel ini, ternyata ada dua stasiun televisi dan lima stasiun radio. Mereka berkantor pada building yang sama. Selain sebuah tower standing segitiga setinggi 60 meter, yang ada hanya sejumlah parabola untuk mengirim dan menerima siaran ke dan dari satelit.

Di menara siar pun, tida terlihat ada model antena untuk transmisi televisi. Yang ada hanya sejumlah antena parabolic receiver microwave untuk menerima siaran lapangan dan enam elemen antena siera untuk transmisi radio FM. Setelah ditanyakan pada Shane, ternyata televisi mereka tidak menempatkan transmiternya di tempat itu, kecuali untuk Halelujah FM. ”Menara transmisi kami tida di gedung ini,” katanya. Dia menjelaskan, di Amerika sudah sangat sedikit stasiun televisi yang memancarkan siarannya langsung ke rumah-rumah warga melalui pemancar. Mereka sudah menggunakan jasa televisi kabel atau televisi berlangganan.

Perusahaan televisi kabel inilah yang menyalurkan ke pelanggannya melalui kabel atau parabola mini dengan sistem direct tv. Kalau di Indonesia misalnya ada prusahaan televisi kabel seperti Indovision, Astro, Pay to TV, maupun Telkomvision. Saya diajak mengelilingi studio siaran, ruang berita, mastercontrol, ruang redaksi, ruang arsip, ruang edting, serta ruang produksi. Shane menjelaskan secara rinci bagaimana mekanisme kerja mereka mulai dari memburu berita sampai disiarkan. Menurut dia, setiap hari mengadakan rapat redaksi minimal dua kali untuk menentukan topik berita, penugasan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan berita Fox 16 setiap hari. Yang menarik, tidak semua kru harus balik ke studio, karena mereka bisa melakukan tugasnya di atas mobil yang bisa mengirim langsung berita untuk disiarkan.

”Kami punya tiga unit kendaraan untuk liputan yang bisa langsung berhubungan dengan studio dengan gelombang microwave,” katanya. Dari Clear Channel, kami sempatkan diri makan siang di restoran China, sebelum menuju William J Clinton Presidential Center. Di tempat ini, saya meninjau bergai koleksi yang berhubungan dengan Presiden Bill Clinton. Di sebuah taman yang asri, berdiri bangunan megah yang baru diresmikan tiga tahun lalu. Berbagai barang serta ativitas yang berhubungan dengan Clinton dipamerkan untuk umum. Untuk masuk ke gedung ini, kita harus membayar $7,00. Mulai dari rekaman video selama Clinton menjadi presiden, foto-foto serta barang milik pribadi Clinton dan istrinya Hillary, dipamerkan di tempat ini. Ada ruang kerja, tempat rapat kabinet, mobil dinas kepresidenan, juga film dokumenter tentang Clinton sejak dari masa kanak-kanak hingga berhenti menjadi presiden, diputar untuk pengunjung. Video kegiatan mantan gubenur negara bagian Arkansas yang menurut warga setempat sangat sederhana itu, diputar secara otomatis dan dengan durasi yang berbeda-beda di setiap sudut. Ada yang menggunakan layar proyektor, layar plasma, bahkan ada juga dengan layar biasa. Untuk mengetahui sejarah, Anda juga secara sendiri-sendiri bisa memutar video atau membaca dokumen di layar komputer dengan cara menyentuh instrumen pilihan yang ada di layar. Satu hal yang perlu kita belajar adalah bagaimana lengkapnya dokumen pendukung untuk berdirinyaa sebuah presidential center. Mulai dari teknologi hingga dokumen, semuanya memilik peran yang sangat strategis. Saya kemudian membayangkan jika suatu saat di Bima ada tempat semacam ini. Bisa Nur Latif center, Zainul Center atau Ferry center.

Yang saya sebut terakhir memang sempat populer di Bima saat Pilkada langsung 2005 lalu. Tetapi yang saya maksudkan tentu saja bukan yang ini, tetapi sebuah pusat dokumentasi seorang pemimpin yang bisa dilihat dan dipelajari oleh generasi berikutnya. Tanpa ada semacam upaya mengkultuskan seseorang, bagi rakyat Amerika, menghargai setiap pekerjaan orang adalah sesuatu yang perlu. Apalagi bagi seorang sosok seperti Clinton. Ada yang menarik dalam kunjungan di tempat ini. Pada sebuah sudut di lanantai dua, ditayangkan hal-hal lucu yang dilakukan Clinton selama berada di white house. Puluhan masyarakat yang datang ke tempat itu terpingkal-pingkal tertawa menyaksikan video tersebut. Misalnya ketika sejumlah orang datang dan ingin foto dengan gambar Clinton, diapun datang ingin berfoto dengan gambar dirinya.

Dia juga sering mencuci mobil sendiri, menyiram taman, latihan pidato depan cermin, memsak, bahkan ketika dia kesulitan mengeluarkan air minum kaleng yang harus menggunakan koin atau uang kertas dolar. Karena kesulitan, Clinton akhirnya menendang boks minuman dan beberapa kaleng pun terjatuh. Di lain waktu, ketika melihat staf kesulitan seperti yang dia alami, diapun dengan enteng menendang boks itu. Apa yang bisa saya tangkap dari tayangan-tayangan itu, adalah bahwa seorang pemimpin sebuah negara yang besar, negara adikuasa, tetap saja seorang manusia biasa. Seorang manusia yang juga punya keinginan dan perilaku normal seperti rakyat kebanyakan, tanpa harus selalu terikat dengan aturan dan protokoler gedung putih. Clinton lahir dan besar di Little Rock, Arkansas, sehingga presidential center dibangun di tempat itu. Para pekerja di dalamnya, rata-rata avonturir yang tidak digaji. Clinton sangat dihargai dan menjadi idola bukan hanya di Little Rock, tetapi juga di seluruh Amerika. Namanya pun, diabadikan pada sejumlah jalan di negara-negara bagian. Namun demikian, ada juga warga Amerika yang tidak terlalu suka dengan keputusan-keputusannya yang terlalu turut campur urusan dengan negara lain. Setelah puas mengelilingi museum Clinton, Tommy, kemudian mengajak saya ke radio komunitas yang dikelola kampus Arkansas State University.

Di radio ini, saya banyak mendiskusikan masa depan dan cara mengelola radio. Kendati Bima FM yang saya kelola dengan radio kampus itu beda, tetapi berita di radio AS sudah sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Minat baca koran dan nonton TV yang berkurang karena warga AS sudah menambah jam kerjanya, secara otomatis informasi hanya bisa diperoleh melalui siaran radio. Jadi, jangan heran kalau hampir setiap warga di AS memasang earphone di telinga mereka untuk memonitor radio. Di Little Rock, saya juga berkesempatan untuk bertemu dengan pengelola Islamic Center of Little Rock dan Islamic Center fo Human Excelence. Saya juga bertemu dengan pengelola sebuah sekolah Islam yaitu Huda Academy. Dia adalah pria sederhana yang masih muda dan ternyata seorang mualaf. Namanya Jon Goodell.

Pria kelahiran Missouri ini masuk Islam tahun 2002 lalu. Usai bertemu dengan saya pada siangnya, Jon mengundang saya untuk dinner di kediamannya. Saya dengan senang menerima tawaran itu, tetapi sayang keingian saya untuk bertemu dengan keluarganya gagal. Pasalnya, Jon meminta maaf tidak bisa menjamu di rumah, karena anaknya masih kecil sudah tidur. Saya kemudian di ajak ke restoran China yang berada dipinggiran kota Little Rock. Kami mengobrol banyak hal, termasuk mengenai alasannya mengapa memilih Islam menjadi agamanya. Pria yang lahir dari keluarga Kristen di Kota Missiori ini mengaku, sejak lahir tidak mengikuti agama manapun, termasuk kegiatan ibadah kedua orang tua. Setelah menikah dan mempunyai anak pertama, hatinya mulai gelisah dan kemudian memilih Islam. Ketika saya bertanya mengapa memilih Islam, dia terdiam sejenak lalu menjawab, “Tidak ada alasan. Ya, saya pilih saja dan saya merasakan hati saya menjadi tentram.”

Saya menyatakan, dalam Islam itu ada istilah hidayah. Anda beruntung, sebab telah memperoleh hidayah dari Allah SWT dan menjadi manusia pilihan. Saya katakan, banyak juga umat muslim yang terus bergelimang dosa sampai akhir hayatnya, tanpa memperoleh hidayah dari Allah SWT, sehingga tidak bersempat bertaubat. Saya ucapkan selamat. Kami juga berdiskusi banyak hal, termasuk soal daerah saya dan Indonesia, serta kehidupan Muslim di Indonesia. Dia menanyakan banyak hal dan saya menejalaskan semampunya. Keadanya saya memberikan sebuah souvenir kecil berupa selendang tenun dari desa kelahiran istri saya, Runggu Kecamatan Belo. Dia senang sekali dan memakainya sampai kerumah.

“Istri saya pasti senang sekali,” katanya sambil mengucapkan terimakasih dan pamit setelah mengantar saya ke hotel tempat saya menginap. Selain tur, di Little Rock saya sempat ke kediaman Gubernur Negara Bagian Arkansas, Mr Mike Beebe, bertemu dengan Pemred Arkansas Times dan juga berjalan-jalan ke pasar tradisional. Sebelum meninggalkan Little Rock, saya menerima piagam dari pemerintah Negara Bagian Arkansas yang ditandatangani oleh Gubernur Mr Mike Beebe.

Piagam itu diserahkan oleh Dr Walter Nunn yang didampingi oleh Tommy Priakos di Hotel Double Tree. Dr Nunn mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang besar karena telah mengunjungi negaranya. Dia menyampaikan salam hormat gubernur yang tidak sempat bertemu. Tetapi dengan diberikan piagam tersebut, kata Dr Nunn, maka saya telah dijadikan duta wisata Negara Arkansas untuk Indonesia. “Jadi Ada punya kewajiban untuk menjawab dan menjelaskan kepada siapa pun di Indonesia tentang Arkansas,” katanya dalam sambutan singkat saat penyerahan piagam. Saya juga mengucapkan banyak terimakasih dan akan berusaha mengemban amanah Negara Bagian Arkansas sesuai dengan kemampuan saya. Bagi saya, waktu empat hari di Arkansas terlalu sempit untuk mengenal negara bagian itu secara utuh.

Tetapi, dengan bekal video, brosur, dan panduan wisata Arkansas, saya memiliki sedikit bekal untuk menjalankan amanah saya itu. SETELEH menyelesaikan perjalanan dan pertemuan di Little Rock, Arkansas, sejak 4 Agustus 2007, pada Rabu 8 Agustus 2007, saya melanjutkan perjalanan ke Detroit, Negara bagian Arkansas. Dengan menggunakan Amerikan Airlines, saya terbang pukul 11.30. Pesawat DC 9 seri 80 yang saya tumpangi, tidak langsung ke Detroit, tapi mampir sekitar satu jam di Bandara International Memphis, Negara bagian Tennessee. Jarak tempuh dari bandara nasional Little Rock ke Memphis hanya sekitar 40 menit. Setelah istirahat sebentar, pesawat kemudian melanjutkan perjalanan ke negara bagian yang berbatasan langsung dengan Toronto, Kanada. Butuha waktu 2,5 jam sebelum pesawat mendarat di Bandara International Detroit, yang merupakan home base perusahaan penerbangan terbesar di AS, Northwest Airlines.

Di Negara bagian yang memiliki industri mobil terbesar di AS ini, saya menginap di Holiday Inn Express Birmingham, hotel yang memang sudah dibooking untuk saya. Begitu check in, saya bersama pendamping saya, langsung disodorkan sebuah map yang bertuliskan nama saya yang berisi puluhan brosur, buku, dan juga VCD tentang Detroit. Selain itu, juga sudah ada jadwal baku apa yang harus saya lakukan selama empat hari berada di kota yang memiliki danau dan pelabuhan laut terbesar di Amerika itu. Pagi 9 Agustus 2007, saya sudah harus meeting dengan Ms Julie Oldani, Executive Director International Visitors Council of Metropolitan Detroit. Dalam pertemuan santai di hotel Holiday Inn ini, saya mendapatkan banyak gambaran tentang Detroit dengan aneka hingar bingar ekonomi dan politiknya dari Julie. Dalam pertemuan yang penuh keakraban itu, Julie menjelaskan sejumlah acara yang sudah terjadwal buat saya yang harus diikuti mulai hari itu, sampai meninggalkan Detroit pada 11 Agustus 2007. Acara pertama yang harus saya jalankan, pada Kamis pukul 10.30 saya harus bertemu Mr Adil James, Managing Editor Mingguan The Muslim Observer. Dalam pertemuan dengan Adil, saya memperoleh gambaran utuh bagaimana Koran muslim yang cukup disegani di AS itu dikelola. Kata Adil yang menikah dengan wanita Malaysia itu, korannya selain dibaca oleh masyarakat muslim di AS, juga dibaca oleh warga AS keturunan Yahudi serta warga AS lainnya.

Cuma saja memang ada masalah internal yang diakui Adil cukup mengganjal dalam memprediksi masa depan The Muslim Observer. Kendati disegani dan dibaca banyak orang, ternyata koran itu masih harus terus disubsidi oleh pemiliknya, yang merupakan warga AS keturunan India. ‘’Dia orang yang kaya dan masih punya cukup banyak uang untuk mendanai kelangsungan penerbitan koran ini,’’ katanya. Tetapi setelah ditanya sampai kappa pria yang kabarnya sudah berusia 70-an tahun itu akan membiayainya, ia sulit menjawab. ‘’Kalau dia meninggal misalnya? ’’ Adil mengaku sudah sejak dua tahun lalu meminta untuk mengelola media muslim itu secara professional. Tetapi diakuinya, pemilik masih enggan untuk menyerahkan. Dalam menentukan kebijakan redaksional, pemilik uang yang sekaligus menjadi pemimpin umum The Muslim Observer, tetap ikut campur.

‘’Dia yang menentukan arah kebijakan isi redaksional Koran ini,’’ ujarnya. Usai bertemu dengan Adil, saya makan siang di Yasmeen Bakery, restoran masakan Arab yang dikelola warga AS keturunan Arab. Di restoran ini saya memesan menu yang ada unsur nasi dan daging. Saya kemudian disodorkan sepiring nasi putih yang dicampur dengan daging yang dimasak dengan semacam daunan, tetapi rasanya agak kecut. Mungkin kalau di Bima bisa dibilang saronco. Daging dan nasi tidak dipisah, tetapi langsung dicampur. Setelah membayar 10 dolar AS, saya kemudian membawanya ke ke sebuah meja di salah satu sudut ruangan restoran Arab ini. Dalam hati saya berpikir, daripada saya makan roti terus, lebih baik saya makan nasi yang sudah dicampur seperti ini. Rasanyapun, ternyata tidak terlalu jauh dengan masakan Bima. Usai makan siang, sekitar pukul 15.30 saya sudah ditunggu Mr Eide Alawan, di Islamic Center of America di Kota Dearbon. Setelah melalui perjalanan berliku, saya kemudian menemukan sebuah bangunan masjid yang sangat megah. Menurut Eide, bangunan masjid dengan Islamic center itu dibiayai selain dari sumbangan perorangan, juga datang dari sebuah yayasan keluarga (family foundation) di Kuwait. ‘’Mereka menyumbang cukup banyak,’’ kata Eide yang mengaku kompleks itu dibangun dengan total dana sekitar 16 juta dolar AS.

Islamic center of America dan masjid itu, berdampingan dengan sebuah gereja. Bahkan dulu, kata Eide, diapit oleh gereja dan sekolah Kristen. ‘’Tetapi sekolah Kristen yang ada di sebelah barat kita sudah kita beli dan dijadikan sebagai pusat kegiatan pemuda Islam AS,’’ katanya. Ada yang menarik dalam pertemuan dengan Eide Alawan, pria yang cukup dinamis dan lincah ini selain mengajak saya mengelilingi kompleks Islamic Center, juga membawa saya masuk ke dalam masjid. Di dalam masjid, baru terungkap kalau di tempat ibadah yang satu ini boleh shalat bersama antara muslim dan muslimah. Hal itu baru terungkap ketika saya tanyakan apakah wanitanya shalat di balkon. ‘’Oh tidak. Mereka (wanita, Red) juga shalat gabung dengan pria di tempat ini (di lantai yang sama),’’ katanya. Kok bisa? Ternyata masalah ini sempat ramai dipersoalkan kalangan muslim di AS. Dia menjelaskan, shaf wanita dan pria tidak digabung. Jika pada shaf tertentu sudah ada pria yang berdiri, maka secara otomatis itu akan menjadi shafnya pria dan sebaliknya. Mereka memang shalat campur, tetapi tidak boleh pada shaf yang sama.

Dalam hati saya sempat berpikir, kalau di Indonesia ini pasti ramai. Alasannya sederhana saja, di AS perjuangan wanita untuk sama derajatnya dengan pria sudah sampai pada titik seperti itu. Dia kemudian bertanya bagaimana wanita Islam di Indonesia, saya katakana tidak ada masalah. Bukankah wanita muslim di Indonesia pernah jadi presiden? Dia terkaget-kaget dan sangat kagum dengan Indonesia. ‘’Saya kagum dengan negara Anda yang bias memberikan ruang bagi wanita untuk menjadi prmimpin sebuah negara,’’ katanya. Pada Jumat, 10 Agustus 2007, sesuai jadwal yang saya terima, sudah ditunggu oleh Mr Imad Hamad, Director American-Arab Anti-Discrimination Committee (ADC) di kantornya depan kantor Walikota Dearborn. Dalam pertemuan yang berlangsung hingga pukul 10.30 itu, saya banyak memperoleh informasi mengenai perjuangan mereka (warga AS keturunan Arab baik yang muslim maupun Kristen) menghadapi perlakuan diskriminasi di AS.

Perjuangannya kemudian makin berat ketika terjadinya peristiwa peledakan gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York 11 September 2001 lalu. Peristiwa yang kemudian oleh warga setempat lebih dikenal dengan istilah nine eleven itu, ternyata membuahkan banyak dampak kurang baik bagi warga Arab di AS. ‘’Sebelum itu memang sudah ada dan banyak laporan yang kami (ADC) tangani, tetapi menjadi semakin banyak setelah nine eleven,’’ katanya. Kendati kasus yang ditangani bisa lebih dari 300 laporan, tetapi tidak semuanya diselesaikan di pengadilan. ‘’Banyak kasus yang bias kami selesaikan di luar pengadilan,’’ jelasnya. Hal yang paling tidak bisa diterima oleh ADC, kata Imad adalah terlalu ketatnya standar keamanan yang diberlakukan oleh pemerintah AS setelah perisitiwa peledakan gedung kembar itu.

Sejumlah aturan dan Undang Undang muncul, termasuk soal keamanan negara. ‘’Malah hak kebebasan (liberty) sudah dikorbankan oleh pemerintah dengan dalih keamanan,’’ katanya. Menurut Imad, apa yang dilakukan oleh pemerintah AS sudah berlebihan, sehingga hak-hak kebebasan warga negaranya juga sudah diabaikan. ‘’Kami akan terus memperjuangkan agar pemerintah tidak lagi (ketat) seperti sekarang,’’ katanya. Setelah bertemu Imad, saya kemudian bertemu dengan Marylynn G Hewitt, Managing Editor, Michigan Catholic Newspaper sekitar pukul 10.45. Saya juga mendapatkan gambaran bagaimana suka duka Marylynn mengelola redaksi koran yang melayani umat Katolik yang bukan hanya di Michigan itu. Kendati oplahnya sudah mencapai angka 25 ribu eksemplar, Koran ini masih harus terus disubsidi penerbitannya oleh gereja Katolik di Detroit. Cuma beda dengan The Muslim Observer, pihak gereja yang mendanai koran ini,tidak ikut campur dalam urusan redaksional.

‘’Semuanya kami punya kewenangan,’’ ujar Marylynn. Kesimpulan sementara saya, ternyata koran yang melayani segmen atau kelompok tertentu, pasti akan sulit berkembang. Pada pukul 15.15 setelah makan siang, saya menuju Islamic Assosiation of Greator Detroit. Karena agak telat, saya tiba saat shalat Jumat sudah dimulai. Saya kemudian menunggu di mobil dan kebetulan di masjid ini diadakan shalat Jumat dua tahap. Setelah bertemu imam masjid itu, saya kemudian ikut shalat Jumat. Tidak ada meeting di tempat ini, kecuali peninjauan ke seluruh ruang dan perpustakaan. Pukul 17.30 saya meluncur ke kediaman Mr Muhammad Mazhar, seorang warga AS keturuna Pakistan yang menikahi gadis warga asli AS, Mrs Robin Mazhar. Saya diundang dinner (makan malam) dalam program dinner hospitality.

Saya diterima dengan sangat bersahabat oleh keluarga muslim ini. Banyak hal yang kami perbincangkan, termasuk soal film India. Betapa kagetnya mereka ketika saya cerita kalau film India di Indonesia itu sangat populer, bahkan lebih populer dari film produksi dalam negeri Indonesia sendiri. Mereka sangat kagum ketika saya tahu sejumlah nama bintang India yang sering nongol di televisi nasional seperti Sahrul Khan, Raani Mukherji, Kajol, dan lain-lain. Dinner di AS, sebetulnya hanya dilihat dari jam saja. Kalau di luar sih masih terang benderang. Waktu shalat Magrib di AS sekitar pukul 20.20 menit. Artinya, hari masih terang kendati jam sudah menunjuk angka 20.30. Sekitar tiga jam saya di rumah keluarga ini. Selain bercerita soal Pakistan, India dan Indonesia, kami juga bercita banyak hal tentang keluarga kami masing-masing dan daerah asal masing-masing. Mr Mazhar mengaku sangat suka mangga tetapi belum pernah merasakan nikmatnya durian.

Karena acaranya dinner, tentu saja acaranya makan malam. Tetapi jangan bayangkan kalau yang kami makan adalah nasi dengan aneka lauk pauknya. Yang pertama kaluar, sejumlah jenis buah dan minuman ringan. Karena saya agak pilek, saya kemudian dibuatkan teh angat. Ada wortel, timun, melon, dan juga buah zaitun. Ada juga gandum yang diprekedel dan irisan bawang Bombay seukuran gelang tangan yang digoreng dengan tepung. Saya coba yang tidak saya kenal, termasuk buah zaitun yang direbus asin pedas. Tahap kedua, daging ayam panggang yang dipotong besar-besar muncul. Semua masakan tersebut dibuat oleh istri Mr Muhammad Mazhar, yaitu Mrs Robin. Hanya ada roti dan aneka lalapan. Daging ayam ada yang dibakar dengan bumbu dan dibakar biasa. Karean saya pilih yang tidak dibumbu, Mr Mazhar menyodorkan sepotong ayam yang dibumbu untuk saya cicip. Tahap ketiga, keluar roti yang dibaluri es krim. Saya hanya makan sisi yang tidak dibasahi oleh es karena saya sedang flu. Melihat itu, istri Mr Mazhar mengambil obat flu. Tahap keempat keluar lagi minuman sebagai penutup.

Sebagai gambaran, di kota Dearborn di Michigan banyak dihuni masyarakat muslim, terutama dari Arab dan Pakistan. Mereka sudah dua bahkan sampai generasi ketiga tinggal di Dearborn. Selain bekerja dengan pemerintah, mereka ada juga yang buka supermarket, restoran, toko buku dan aneka usaha lainnya. Bahkan pemukiman Arab Pakistan banyak diwarnai dengan huruf-huruf Arab untuk nama usaha mereka. Acara dinner hospitality menjadi acara penutup saya di Detroit. Saya kemudian kembali ke hotel dan mempersiapkan diri untuk terbang siang pada Sabtu, 11 Agustus 2007. SETELAH menuntaskan program di Detroit, negara bagian Michigan pada 11 Agustus 2007, perjalanan saya lanjutkan ke kota Albuquerque, di negara bagian New Mexico. Kota ini bukanlah ibukota dari New Mexico, tetapi merupakan kota terbesar di negara bagian ini. Setelah terbang dua setengah jam dari Detroit menggunakan American Airlines, saya sempat mampir satu jam di bandara internasional Dallas, di negara bagian Texas. Saya tiba di bandara Albuquerque sekitar pukul 15.05.

Ada perbedaan waktu dua jam antara Detroit dengan Albuquerque. Saya sempat kaget karena seorang wanita berumur –mungkin lebih pas disebut nenek-nenek— menenteng nama saya dengan hiasan ala Indian, menjemput saya dan Pak Irawan di bandara. Dengan ramah dia menyapa selamat datang dan semoga perjalanannya menyenangkan. Ini tentu saja menjadi kenangan tersendiri yang tak bisa saya lupakan. Dibandingkan dengan negara bagian lainnya di AS, New Mexico dari pesawat terlihat gersang. Sangat jarang ada pohon di kota ini. Bandaranya pun, biasa saja. Artinya, tidak sementereng dan seramai bandara lain yang pernah saya singgahi. Dari tujuh bandara yang pernah saya lihat di AS, bandara ini terbilang kecil dan jumlah pesawat yang parker juga sedikit. Mungkin bandingannya hanya bandara nasional Little Rock. Tetapi penumpang pesawat yang saya ikuti, jumlahnya tidak sedikit. Nyaris tak ada tempat duduk yang kosong.

Setelah sejenak berbasa-basi, sang ibu yang kemudian saya tahu bernama Maria del Carmen L. Martin itu, mengambil mobilnya di tempat parkir untuk mengantar saya ke tempat penyewaan mobil yang memang sudah disiapkan untuk perjalanan saya di kota ini. Saya kaget, ternyata dia menyetir sendiri mobil tua yang yang berukuran mini bus. Carmen, yang ternyata adalah Prorammer The Albuquerque Council for International Visitors, membawa saya ke Budget Rental Car yang berada di areal bandara. Saya yang didampingi Irawan Nugroho, interpreter yang ditugaskan oleh pemerintah AS itu, mengambil mobil yang sudah disiapkan dengan nomor booking yang telah kami terima. Kami kemudian menuju Sheraton Hotel untuk istirahat sebelum menjalankan program keesokan harinya. Tadinya seperti di Little Rock pada hari Minggu tidak ada program, ternyata salah. Carmen pagi-pagi sudah datang dan mengajak kami untuk keliling kota Albuquerque.

Setelah berfoto-foto di jembatan panjang, Carmen mengajak kami ke Indian Pueblo Cultural Center untuk menyaksikan dancing. Di tempat ini saya baru langsung benar-benar berkenalan bahkan berfoto bersama dengan para penari yang asli Indian suku Pueblo. Mereka cukup ramah. Di tempat yang dikelola dan dibangun oleh Indian Suku Pueblo di tengah kota Albuquerque ini, ternyata cukup ramai juga. Puluhan turis dari berbagai negara dan negara bagian AS, dating untuk menyaksikan model kehidupan sukui asli Indian Pueblo itu. Saya sempat menyaksikan tiga tarian yaitu tarian kerbau, tarian menjangan dan tarian pelangi, sebelum akhirnya menyaksikan bagaimana suku ini membuat pakaian mereka. Ternyata cara mereka menenun kain, tidak jauh berbeda dengan kita di Bima maupun di Ranggo Dompu. Mereka menggunakan alat tenun sederhana dengan memasukan benangnya satu persatu. Saya sempat mengabadikan berbagai aspek kehidupan mereka di tempat itu.

Rupanya kehidupan tradisional suku Indian di AS sudah biasa dijual dan menjadi salah satu obyek wisata. Di tempat ini, selain menyaksikan tarian dan suguhan lainnya, wisatawan juga bias membeli aneka souvenir yang dijual di tempat itu. Kalau di luar, bangunan terlihat biasa saja. Gaya arsitekturnya masih mempertahankan model rumah asli suku Indian. Tetapi setelah masuk, ternyata ditata secara modern, ber AC, dan peralatan serba luks. Di lokasi ini juga tersedia sebuah restoran yang menyediakan aneka menu masakan Meksiko, dan kami kemudian ikut makan siang di tempat itu. Usai makan siang, perjalanan tur kami lanjutkan ke Santa Clara, sebuah tempat sekitar dua jam perjalanan dari kota Albuquerque. Kami bahkan melewati kota Santa Fe, yang merupakan ibukota New Mexico. Saya diajak untuk menyaksikan acara tahunan suku Indian Peblo yang sedang merayakan hari Santa Clara yang jatuh pada setiap 12 Agustus. Saya merasa sungguh beruntung karena dalam perjalanan ini, dapat menyaksikan aneka keragaman budaya, yang selama ini hanya saya saksikan dalam tayangan televise saja. Sayang, acara sakral yang dimulai sejak pagi itu, tidak boleh diambil gambarnya baik dengan kamera foto maupun video. Jadi kami, dan ribuan wisatawan yang hadir di tempat itu hanya bisa menyaksikan tanpa bisa mengabadikannya. Hari di atas Santa Clara mendung. Sekitar satu jam saya menyaksikan acara itu, hujan tiba-tiba mengguyur. Wisatawan pun berhamburan, termasuk saya. Kami kemudian memutuskan kembali. Dalam perjalanan pulang, Carmen menawarkan kepada kami untuk mampir di kota tua Santa Fe, yang merupakan ibukota negara bagian New Mexico. ‘’Tidak lengkap kalau kita tidak mampir,’’ katanya berpromosi. Banyak hal yang dapat saya saksikan di kota ini. Termasuk salah satunya adalah hotel tertua yang berdiri sejak 1610. Hotel ini masih mempertahankan keaslian luarnya, tetapi di bagian dalam sudah diubah dan ditata secara modern. Hotel yang bernama La Fonda itu, ternyata selain untuk menginap, juga sudah menjadi salah satu obyek wisata. Jadi jangan heran, banyak wisatawan berseliweran di dalam hotel yang cukup luas tersebut.

Dari luar terlihat seperti tanah liat yang tidak berbentuk, dan merupakan bentuk aslinya. Rata-rata bangunan di New Mexico, memang seperti itu, karena menggambarkan keaslian suku Indian yang ternyata mendominasi jumlah penduduk di New Mexico. Foto-foto La Fonda lama, masih tersimpan rapid an dipajang di dinding. Puas menyaksikan banyak peninggalan sejarah di Santa Fe, kami kemudian kembali ke kota Albuquerque. Pada 13 Agustus 2007, hari yang melelahkan dalam kunjungan di kota ini dimulai. Hampir tak ada waktu untuk sekadar melepas lelah, karena oadatnya kegiatan yang sudah terjadwal. Mulai pukul 10.00, saya meeting dengan pengelola radio di Citadel Radio. Perusahaan mengelola enam stasiun radio yang menggunakan satu building (bangunan kantor). Setelah meninjau kegiatan dan aktifitas studio radio bersama Mr Mike Langner, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Universitas New Mexico untuk bertemu dengan Richard Schaefer, Communication and Journalism Dept. Banyak hal yang kami perbincangkan soal teknologi komunikasi dan jurnalistik. Mantan wartawan sebuah televise ini, mengaku bergabung dengan Universitas New Mexico sejak enam tahun lalu. Hingga saat ini, telah banyak melahirkan jurnalis yang sudah bekerja pada sejumlah media yang ada di AS.

‘’Saya sudah tidak tahu lagi jumlahnya, mereka sudah bekerja di banyak media di AS,’’ jelasnya. Selain bercerita tentang riwayat karir dan pekerjaannya, Schaefer juga banyak bertanya tentang pengalaman, keluarga dan negara saya. Saya banyak bercerita soal Bima, NTB, juga Indonesia. Dia begitu antusias mendengarkan cerita dan pengalaman saya, termasuk potensai daerah. ‘’Saya berharap suatu saat bisa dating ke negara Anda,’’ ujarnya. Setelah makan siang, kami kemudian menuju kantor redaksi dan percetakan Albuquerque Journal. Koran harian ini merupakan media cetak terbesar di New Mexico dengan tirasnya per hari mencapai lebih dari 126 ribu eksemplar. Saya sempat menyaksikan percetakannya yang sangat modern dan besar di bagian belakang redaksi. Demikian pula dengan ruang redaksi, produksi dan periklanan.

Saya kemudian berjumpa dengan Managing Editor kotran ini, Karen Moses. Dia menjelaskan, selain menerbitkan Albuquerque sebagi induk, yang terbit harian pada pagi hari, juga diterbitkan Koran harian yang terbit sore hari dan banyak Koran local di sejumlah tempat. ‘’Semuanya kami terbitkan di sini,’’ katanya. Moses mengaku bergabung dengan media itu sejak enam tahun silam. Karirnya terus menanjak dan menjadi managing editor pada saat ini. Dia menjelaskan, pemilik perusahaan tidak pernah ikut campur urusan redaksi. Dan tugas besar yang saat ini sedang dia jalankan adalah sedang melakukan investigasi terhadap gubernur New Mexico yang berencana menjadi calon presiden AS tahun depan. Usai bertemu dengan Moses, perjalanan kami lanjutkan ke sebuah pusat Casino dan hotel terbesar di Sandia, arah utara kota. Kami diterima Ashley yang mengantarkan untuk melihat kamar terbesar dan termahal yang dimiliki hotel Sandia ini. ‘’Tarifnya dua ribu dollar semalam,’’ katanya. Jumlah tarif itu kalau dikurs dengan rupiah misalnya Rp9000 per dollar, maka tarifnya menjadi sekitar Rp18 juta semalam.

Adakah yang menginap di tempat ini? Atau mungkin Anda pingin mencobanya? Kamarnya sangat luas, demikian pula dengan kamar mandi dan ruang tamu. Bahkan ada pub juga di dalamnya. Dua ruang tidur dan dua kamar mandi. Ada tiga televisi plasma berukiuran 42 inchi yang di pajang pada masing tempat tidur dan ruang tamu. Di kamar mandi pun, selain Anda bisa menerima telepon saat mandi, juga bisa sambil menikmati siaran televise. Ada speaker aktif dan poewer audio yang dipasang di ruang tamu. Bagi saya, inilah kamar hotel terbesar, termewah, dan termahal yang pernah saya saksikan. Bukan saya rasakan. Saya berseloroh pada Ashley, kalau saya menginap di tempat itu, mungkin semalaman tidak akan tidur untuk menikmati fasilitas yang Rp18 juta itu. Saya pikir, rasanya kalau saya tidur, pastilah saya rugi. Tanpa mimpi, tiba-tiba pagi dan siangnya saya sudah harus check out. Bukan hanya kamar mahal yang disediakan Sandia Hotel.

Ada juga kamar standar yang harganya di bawah dua ratus dolar atau lebih murah dari hotel Jurys tempat saya menginap di Washington DC selama delapan hari kunjungan di ibukota AS itu. Di hotel ini sangat ramai dikunjungi orang yang berjudi kasino. Di lantai bawah (loby) ribuan alat putar nasib itu sedang dimainkan oleh penikmat judi. Saya sempat melihat seorang nenek yang didampingi suaminya ikut bermain kasino. Tangannya yang sudah renta, terlihat gemetar membuka dompet untuk mengambil lembaran dolarnya untuk dipertaruhkan di tempat itu. Selain kasino, jenis judi lainnya pun tersedia. Hampir tidak ada tempat yang kosong di tempat perjudian terbesar di New Mexico itu. Saya sungguh mengagumi kesungguhan dan stamina Carmen memandu perjalanan saya. Kendati umurnya sudah renta dan jalannya pun tertatih-tatih, dia masih sempat mengajak saya untuk menikmati pemandangan gunung dengan menaiki tram di Sandia Peak.

Bagi saya, ini pengalaman pertama yang juga sangat menegangkan. Bayangkan, kita harus naik sebuah kereta gantung yang bergerak naik pada ketinggian lebih dari sepuluh ribu kaki sampai puncak pegunungan Sandia. Gunung ini memang sejak awal sudal mengundang perhatian saya, karena hampir semua transmitter televisi dan radio di New Mexico menempatkan towernya di atas gunung ini. Butuh waktu sebelas menit saat naik baru bisa sampai puncak. Saya terkagum-kagum dengan pemandangannya yang indah, kendati agak gersang. Setiap orang dewasa, harus membayar $17,00 untuk bisa ikut naik. Saya merasa agak takut ketinggian pada saat naik trem ini. Bahkan saya sempat berpikir, bagaimana kalau rel atau kawat trem yang demikian tinggi ini putus, maka tak ada harapan lagi untuk bisa hidup. Apalagi gunung itu penuh dengan bebatuan. Luar biasa. Semua bisa mendatangkan uang. SETELAH istirahat semalam karena lelah mengeksploitasi New Mexico dan meeting pada Senin, Selasa pagi saya sudah ditunggu sejumlah program. Untuk menyelesaikan seluruh program di Albequerque, pagi pukul 08.50, saya sudah meninggalkan hotel Sheraton untuk bertemu dengan Sara Gracia, Redaktur senior El Hispano News. Seperti kebiasaan masyarakat AS umumnya, janji harus benar-benar tepat waktu. Kita tidak boleh ngaret seperti kebiasaan kita di Bima misalnya. Kita tahu, di daerah kita ini rasanya kalau tidak telat, rasanya kurang afdol. Padahal kebiasaan ini sangat menyita banyak waktu orang lain yang kita undang, atau kita sendiri yang mungkin masih punya keperluan lain.

Acara di daerah kita rasanya kurang afdol kalau tidak dihadiri pejabat. Kita bahkan rela menunggu sampai berjam-jam tanpa kepastian, hanya agar acara menjadi berkesan ada nilainya dengan kehadiran seorang pejabat. Tentu akan lebih bergengsi lagi, kalau yang hadir Bupati atauWalikota. Tetapi model seperti ini, tidak dikenal di AS. Waktu bagi mereka adalah barang yang sangat berharga. Kalau Anda bikin appointment, pukul 10.00 pagi, lebih baik sudah ada di tempat acara sebelum jam 10.00. Ini sangat penting, karena jika tidak, Anda bisa saja ditinggalkan.Acara bisa saja batal. Kebiasaan ngaret ini, mestinya harus segera diubah agar kita bisa lebih menghargai waktu.

Kembali ke agenda saya, dalam pertemuan dengan Garcia, selain menceritakan pengelolaan koran lokal yang berbahasa Spanyol itu, kami juga sempat bercanda karena ternyata ada beberapa kata dalam bahasa Spanyol yang sama dengan bahasa Indonesia. Misalnya, meja dalam bahasa Spanyol disebut meza, baju kemeja disebut kemeza, sepatu disebut sapatu, baju blus juga disebut blus. Saya juga jadi teringat dengan istilah pada klimatolgi yang dikenal dengan La Nina dan Elnino. Dua bahasa kata ini juga berasal dari bahasa Spanyol, yang mirip juga dengan bahasa Bima. Saya jadi teringat ketika pertama menginjakkan kaki di kota Albuquerque. Saya menyetel sebuah stasiun radio FM berbahasa Spanyol, 103.1 MHz, saya sangat senang dengan irama musiknya. Saya jadi teringat dengan tanah air ketika mendengar lagu-lagunya Rinto Harahap, Pance Pondaag atau Meriam Bellinna. Sangat familiar. Kepada nenek Carmen, saya sempat bertanya di mana saya bisa memperoleh CD lagu-lagu Spanyol yang diputar di radio yang saya baru dengar itu. Dia berjanji akan mengusahakannya. Bahkan ketika saya berkunjung ke radio Citadel, saya sampaikan hal itu.

Sayang, sampai saya meninggalkan radio, saya lupa dengan lagu-lagu itu, sampai akhirnya saya meninggalkan Albuquerque. Padahal saya ingin sekali memperdengarkan kepada pembaca dan pendengar Bima FM, bagaimana asyiknya mendengar lagu-lagu Spanyol yang berirama pop itu. Dengan Garcia di kantor redaksi El Hispano News, selain bercerita tentang perjalanan media yang terbit mingguan itu, dia juga banyak bertanya kepada saya tentang media saya, daerah saya, dan juga negara saya. Dia sangat tertarik, apalagi menurut pengakuannya, saya adalah orang Indonesia pertama yang berkunjung ke redaksi media yang dibangun puluhan tahun lalu itu. Dia sangat kaget dan terkagum-kagum dengan harian BimaEkspres yang saya akui terbit harian. ‘’Kami tidak bisa terbit harian, kecuali ijinnya harus diajukan ulang,’’ katanya.

Usai bertemu Garcia, saya harus segera ke KOAT 7, sebuah stasiun televisi terbesar di kota ini. Selain diterima Ms Wynn Wood., Managing Editor, juga diterima Bill Case, Research Direktor KOAT 7. Keduanya silih berganti menjelaskan bagaimana kondisi bisnis dan redaksi televisi yang mereka kelolala. KOAT adalah afiliasi dari Channel 7, salah satu news television yang ada di AS. Beritanya sangat diminati, bahkan bisa lebih populer dari CNN. Ada pengakuan sejumlah warga yang saya tanyakan tentang siaran CNN, mereka mengakui stasiun televisi berita itu tidak terlalu diminati. ‘’Beritanya terlalu banyak yang membela kepentingan pemerintah,’’ kata Muhammad Mahzar. Stasiun KOAT ini, acara andalannya juga berita. Bahkan untuk menjaga kecepatan berita, mereka memiliki sebuah helicopter yang bisa melaporkan langsung ke pemirsanya tentang kejadian terkini. ‘’Apakah stasiun televisi Anda (maksudnya Bima TV) juga punya helikopter untuk meliput?,’’ tanya Wilder. Saya hanya tersenyum. Di Indonesia memang jarang sekali stasiun televisi yang meliput dengan menggunakan fasilitas helikopter. Setelah meeting sekitar satu jam, acara kemudian dilanjutkan dengan meninjau ruang master control, ruang berita, ruang redaksi, ruang produksi, juga sempat diajak untuk melihat helicopter redaksi yang kebetulan sedang diparkir di heliped, halaman kantor. Selain menjelaskan sisi luar, saya juga diajak naik dan diberikan penjelasan mengenai fungsi panel-panel yang mendukung siaran langsung dari udara. Helikopter tersebut dilengkapi dengan kamera besar yang dipasang permanen di sisi kanan, yang bisa dikendalikan dari dalam kabin heli. Remot pengendali semua ada di dalam baik untuk mengarahkan maupun untuk zoom. Selain kamera utama untuk merekam dan menyiarkan obyek berita, juga dilengkapi dengan dua kamera mini. Yang satu dipasang di ekor untuk mengambil gambar badan pesawat yang sesekali dipancarkan ke pemirsa untuk menguatkan kesan kalau liputan itu memang langsung disampaikan dari udara.

Demikian pula dengan kamera menengah yang dipasang depan pilot yang bisa mengambil gambar reporter dan pilot yang sedang siaran dari udara. Di kabin, duduk seorang kru yang bertindak sebagai juru kamera dan yang bertugas sebagai master control untuk mengatur gambar yang dipancarkan. Di heli juga dipasang pemancar mini microwave yang menggunakan antenna jenis opendipole yang dibungkus dan bisa memancar ke segala sisi. Sinyal ini, diterima dengan receiver dan antenna parabolic yang bisa diarahkan ke posisi heli berada. Sistem ini sebetulnya tidak asing bagi saya. Sebab sejak setahun terakhir, saya senidiri sudah melakukan ujicoba menggunakan transmitter berkekuatan rendah ini untuk mengirim gambar dari luar studio ke studio saat siaran langsung misalnya. Saya pernah ujicoba dari Donggo ke studio Penaraga dan dari studio Penaraga ke Doro Nae. Hasilnya sangat bagus, kendati perangkat yang saya gunakan tidak semahal milik KOAT 7.

Saya kemudian membayangkan, jika saja ada dukungan dari pemerintah Kabupaten Bima, akan sangat memungkinkan Bima TV ditonton secara merata ke seluruh wilayah Kabupaten Bima. Ini juga bisa menjawab banyak pertanyaan masyarakat Kabupaten Bima, kapan siaran televisi lokal milik masyarakat Bima ini, bisa mereka tonton di Woha, Monta, Lambu, Sape, Wera dan kecamatan lainnya. Tapi sayang, sejauh ini Pemkab belum tertarik sama sekali untuk membantu memenuhi keinginan warganya memperoleh informasi secara bebas dan gratis dari Bima TV. Jadi jika ada anggapan Bima TV hanya milik masyarakat kota Bima saja, itu tidak benar. Yang benar adalah kami belum memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk menjawab kebutuhan masyarakat Kabupaten Bima itu.

Bantuan pemerintah, adalah salah satu jalan keluar, seperti juga dilakukan oleh banyak pemerintah di daerah lain di negeri ini. Usai menggali banyak informasi di KOAT 7, saya kemudian menuju Quote/Unquote, sebuah stasiun televisi komunitas. Uniknya, stasiun televisi yang dikelola masyarakat ini, setiap orang bisa saja datang untuk siaran. Tidak ada ketentuan apapun, kecuali komitmen bersama. Jika Anda datang ke studio TV ini dan mau coba-coba siaran, Anda akan diberikan kesempatan. Bagaimana perangkatnya? Master control yang mereka punya, persis seperti miliknya Bima TV. Tetapi masih lebih modern milik Bima TV.Cuma memang Bima TV kalah dalam kepemilikan kamera dan studio untuk siaran langsung. Mereka ternyata lebih lengkap, padahal pembiayaannya tergantung pada donatur.

Saya kemudian berpikir, siapa ya, yang mau menjadi donatur untuk Bima TV? Sejauh ini kami hanya menerima kritikan, tapi belum ada yang bertanya kepada saya sebagai pengelola Bima TV, apa yang bisa mereka bantu. Tetapi saya tidak akan berkecil hati untuk membangun stasiun televisi ini, kendati tantangannya tidak kecil. Usai meeting dan tur dengan Steve Ranieri, Executive Director yang didampingi Collen Gorman, Information Services, stasiun televisi ini, saya kemudian melanjutkan meeting dengan Margarita Wilder, di Entrevision. Acara terakhir di kota Albuquerque, saya sudah ditunggu keluarga Ali Ghoreishi, warga AS keturunan Iran. Dia mengundang saya pada acara dinner hospitality. Saya di kediaman Ali merasa menjadi bintang karena sangat diistimewakan. Di rumah Ali, saya benar-benar merasakan bagaimana perut saya dipuaskan dengan daging kambing yang dipotong besar-besar. Saya hanya sedikit makan nasi di rumah pemilik 800 ekor sapi perah yang digembalakan pada lahan peternakannya seluas 100 hektare itu. Acara yang dimulai pukul 17.00 itu, baru berakhir pada pukul 21.00.

Selain makanan pokok, kami juga disuguhi aneka buah, sayur dan minuman. Saya kagum pada sejumlah tamu lain yang turut menghadiri acara dinner itu, yang mampu makan banyak. Berbagai hidangan, mereka habiskan. Ternyata porsi makan mereka jauh lebih besar dari porsi rata-rata perut kita orang Asia. Ada kejutan di rumah Ali. Ternyata malam itu juga, dia sedang merayakan ulang tahun perkawinan mereka yang ke 40. Saya kemudian mengalungkan selendang Bima kepada suami istri yang sedang berbahagia ini. Usai acara, saya kembali ke hotel untuk istirahat. Sebab besok pagi, saya harus sudah siap untuk terbang ke Los Angeles dan San Fransico. Saya harus mengakhiri acara di negara bagian California ini hingga 17 Agustus 2007, sebelum saya tinggalkan AS pada 18 Agustus 2007.

Pagi-pagi, 15 Agustus 2007, Carmen muncul di lobi hotel. Dia ingin melepas saya. Dia memeluk saya erat sekali. Dia tampak sedih karena selama mendampingi saya, dia sangat akrab dengan saya. ‘’Saya harap Khairudin (satu-satunya orang AS yang memanggil saya Khairudin, sebab yang lainnya memanggil saya dengan Ali, nama orang tua saya) bisa balik ke sini (Albuquerque) lagi,’’ katanya. Carmen memeluk saya lama dan erat sekali. Saya jadi ikut sedih. Dia kemudian mengantar saya dan baru hilang dari pandangan setelah mobil yang saya tumpangi berlalu. Sesaat sebelum berpisah, dia mengingatkan saya untuk mengirimkan resep aneka masakan Bima dan Indonesia, untuk diterbitkan dalam buku resep masakan di negara bagian New Mexico. ‘’Kami ingin menerbitkan resep masakan dari negara-negara yang pernah mengunjungi Albuquerque,’’ katanya.

USAI acara, saya kembali ke hotel untuk istirahat. Sebab besok pagi, saya harus sudah siap untuk terbang ke Los Angeles dan San Fransico. Saya harus mengakhiri acara di negara bagian California ini hingga 17 Agustus 2007, sebelum saya tinggalkan AS pada 18 Agustus 2007. Pagi-pagi, 15 Agustus 2007, Carmen muncul di lobi hotel. Dia ingin melepas saya. Dia memeluk saya erat sekali. Dia tampak sedih karena selama mendampingi saya, dia sangat akrab dengan saya. ‘’Saya harap Khairudin (satu-satunya orang AS yang memanggil saya Khairudin, sebab yang lainnya memanggil saya dengan Ali, nama orang tua saya) bisa balik ke sini (Albuquerque) lagi,’’ katanya. Carmen menjanjikan kepada saya, jika ada kesempatan kembali ke Albuquerque, akan disediakan tempat menginap gratis selama satu pekan.

‘’Saya benar-benar berharap bisa datang berlibur bersama keluarga di New Mexico, kita akan jalan-jalan lagi. Salam cium buat si kecil Afa dan istri Anda,’’ ujarnya. Carmen memeluk saya lama dan erat sekali. Saya jadi ikut sedih. Dia kemudian mengantar saya dan baru hilang dari pandangan setelah mobil yang saya tumpangi berbelok di perempatan menuju bandara nasional Albuquerque. Sesaat sebelum berpisah, dia mengingatkan saya untuk mengirimkan resep aneka masakan Bima dan Indonesia, untuk diterbitkan dalam buku resep masakan di negara bagian New Mexico. ‘’Kami ingin menerbitkan resep masakan dari negara-negara yang pernah mengunjungi Albuquerque,’’ katanya. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Los Angeles dan San Fransisco dengan pesawat American Airlines nomor penerbangan AA 6472, untuk menjalankan program terakhir di negara bagian ini sebelum kembali ke Indonesia. Saya boarding sekitar pukul 11.51.

Penerbangan ke Los Angeles dari bandara Albuquerque, butuh waktu sekitar dua jam 20 menit. Saya istirahat sekitar satu jam, perjalanan dilanjutkan ke San Fransisco yang hanya butuh waktu sekitar 40 menit. Pesawat yang saya tumpangi terbang menyisir pantai barat AS dan mendarat mulus di Bandara San Fransisco sekitar pukul 16.00. Ada perbedaan waktu satu jam antara Albuquerque dengan San Fransisco. Begitu mendarat, saya merasakan ada yang beda dengan sejumlah negara bagian lainnya yang saya kunjungi. Kendati matahari menyinari kota ini, tetapi udaranya sejuk bahkan menurut saya lumayan dingin. Bahkan pada malam hari, kalau tidak mengenakan jaket, udaranya dingin menyengat. Problem bibir saya yang pecah-pecah dan wajah saya yang kelupas karena bedanya suhu antar negara bagian, sedikit agak sembuh di kota ini. Wajah saya tidak lagi terlalu merah-merah. Demikian pula dengan bibir saya tidak lagi pecah-pecah. Sebab perbedaan suhu ruangan dengan udara di luar, tidak terlampau ekstrim. Setelah check ini di Hotel Cartwright di 524 Sutter Street, pusat kota San Fransisco, saya menerima map berisi maps, VCD, brosur, buku-buku dan sepucuk surat dari Institut of Iternational Education (IIE), lembaga yang menangani perjalanan saya di California.

Surat tersebut ditandatangani oleh Karen Nossiter, program officer IIE. Selain bahan-bahan panduan, saya juga menerima jadwal kegiatan yang harus saya laksanakan sampai saya meninggalkan Indonesia dari negara bagian di pantai barat AS ini. Pada Kamis pagi pukul 09.30, saya sudah harus bertemu dengan Prof Peter Phillips, Director Project Cencored, Sonoma State University. Kami butuh waktu sekitar satu setengah jam perjalanan dengan mobil yang sudah disewakan di Leave Avis, untuk menuju Rohnert Park, tempat Univeritas Sonoma berada. Karena pemandu saya tidak terbiasa di San Fransisco, sementara penyelenggara di negara bagian ini hanya melampirkan semacam directions to appointments (lengkap dengan maps), ada gambar yang tidak pas ketika kami harus mengikuti Broadway Street. Tetapi berkat pengalaman, Pak Irawan mampu mengatasi hal itu, kendati sempat stress. Saya bahkan sempat menjadi pembaca peta alias navigator, agar bisa sampai ke tempat tujuan tepat waktu. Cuma memang kecemasannya itu, tidak ditampakkan Pak Irawan. Dalam perjalanan menuju Universitas Sonoma ini, saya agak sedikit kaget ketika tiba-tiba di pagi yang masih diselimuti kabut itu (walau sudah pukul 09.10), samar-samar terlihat Golden Gate Bridge.

Spontan saya berteriak, ‘’wah itu jembatannya. Sekali jalan bisa lihat jembatan golden gate nih, tanpa harus balik lagi,’’ kata saya kepada Pak Irawan yang hanya tersenyum. Karena di hotel belum sempat sarapan, kami kemudian memilih membeli kentang dan roti pada sebuah restoran di Napa. Karena tidak ingin telat, Pak Irawan meminta kepada saya untuk makan di mobil saja, sambil memacu kendaraan menuju tempat mengajarnya Prof Peter Phillips. BISA jadi, bertemu dengan Prof Peter Phillips adalah sesi paling menarik dalam perjalanan saya. Begitu bertemu dengan sosok bongsor berpenampilan sederhana ini, saya langsung tertarik. Hangat, cerdas, serius, adalah kesimpulan yang bisa saya ambil setelah berkenalan dengan Phillips. Setelah bertemu di ruang kerjanya, Project Censored, Sonoma State University di ruangan 2084, saya diajak turun untuk ke kafe kampus. ‘’Kita ngobrol di halaman saja sambil minum kopi,’’ katanya. Sepanjang lorong dan lift, dia sempat bercerita kalau sudah memperoleh informasi lengkap tentang diri saya, melalui e-mail yang dikirim oleh Institute of International Edacatiun (IIE), lembaga yang menangani perjalanan saya di California. Dia mengaku sangat tertarik untuk mengobrol banyak tentang saya, terutama soal sensor media, karena diketahuinya saya adalah seorang wartawan di Indonesia.

‘’Anda juga beruntung karena selain sebagai wartawan, Anda juga memiliki perusahaannya,’’ katanya. Kata yang terakhir agak ditekan Phillips karena fokus penelitian dia adalah berita-berita yang sengaja disensor media sendiri padahal sudah ditulis wartawannya, karena ada hubungan-hubungan yang tidak sehat dengan pemerintah. Saya tegaskan, di media yang saya pimpin tidak pernah menyensor berita. Jika sudah didukung data yang cukup dan memenuhi unsur dan kriteria serta kode etik jurnalistik, beritanya pati akan dimuat. Saya tegaskan, saya hanya menghindari berita fitnah tanpa fakta. Soal tuntutan, itu risiko. Yang penting buat saya adalah beritanya sudah memenuhi unsur dan rel kode etik jurnalistik. Saya tegaskan, saya tidak pernah menyensor berita dari manapun sumbernya, asal memang bisa dipertanggungjawabkan.

Saya tidak akan menurunkan berita yang hanya saling menuduh dan saling curiga. Jika narasumber memberikan data dan bisa dipertanggungjawabkan, pasti akan dimuat. Cuma memang karena kendala SDM, saya akui kerap lolos berita-berita yang kadang dimuat media lain. Tetapi yang pasti, bukannya sengaja tidak diturunkan karena ada kepentingan-kepentingan tertentu. Saya juga bercerita, sebagai chief editor (pemimpin redaksi), saya tidak terlalu dekat dengan pejabat manapun, untuk membuat komitmen apapun. Phillips kemudian bercerita tentang kondisi negaranya. Di sini baru terjawab bahwa menurut saya, pemerintah AS cukup fair untuk mengatur perjalanan saya ini. Artinya, tidak semua figur atau sosok yang dipertemukan dengan saya adalah orang-orang yang sejalan dengan kebijakan pemerintah.

Phillips adalah salah satu yang paling kritis. Bahkan saking kritisnya, dia menulis dan menebitkan sebuah buku tentang Empeach President. ‘’Bush dan Cheney (presiden dan wakil presiden AS) harus di-impeach karena terlalu banyak mengurusi masalah dalam negeri negera lain,’’ kantanya ketika saya bertanya tentang keterlibatan AS dalam perang Irak. ‘’Sebagai warga Amerika, saya malu,’’ tambahnya lagi. Dalam buku berjudul Censored Media Democracy in Action, Phillips banyak mengungkapkan hasil investigasi tentang rekayasa pemerintahnya terhadap perang di Irak serta kasus-kasus besar lainnya. Saya beruntung, memperoleh buku dan ditandatanganinya untuk saya itu. ‘’Pastinya, kalau kita berbicara tentang politik dan kondisi politik serta pemerintahan di AS, kita butuh waktu yang panjang,’’ katanya. Pertemuan kami memang hanya satu setengah jam. Tidak cukup untuk memperoleh informasi lengkap soal AS, padahal bertemu dengan orang hebat macam Prof Phillips, bagi saya, mungkin hanya sekali seumur hidup. ‘’Tapi kita masih bisa berhubungan melalui e-mail,’’ ujarnya sambil menjabat erat tangan saya saat berpisah setelah saya mengalunkan selendang tenun khas Bima kepadanya. Dia senang sekali, apalagi setelah saya sampaikan kalau kain itu merupakan tenunan tradisional menggunakan alat tenun bukan mesin dan hand made. Profesor Peter Phillips adalah guru besar Sonoma State University, Dr dan Ph.d yang mengajar Media Censoreship, Sociology of Power, Political Sociology and Sociology of Media. Dia melakukan investigasi sensor media bersama puluhan relawan lainnya. Lalu bagaimana sikap pemerintah terhadap tudingan seperti itu, saya sebetulnya sudah lebih dahulu bertemu dengan Ethan Glick, Indonesia Desk Officer, U.S Department of State di Washington DC, pada 1 Agustus 2007. Sebagian dari masalah yang ditulis Phillips dalam bukunya, sudah sempat saya tanyakan.

Glick memberikan banyak pandangan dan kebijakan negaranya kepada saya dalam overview yang berlangsung satu setengah jam. Glick mengatakan, AS mempunyai kepentingan yang sangat besar terhadap keamanan global. Sebab hanya dengan keamanan yang terjaga, setiap negara bisa membangun ekonomi, politik dan demokrasi. ”Tidak mungkin akan terbangun politik dan demokrasi yang baik jika masyarakat secara ekonomi masih miskin,” katanya. Menurut dia, salah satu syarat untuk pembangunan ekonomi, adalah terciptanya keamanan yang baik. Untuk kondisi global seperti sekarang ini, kekacauan pada sebuah negara akan berdampak pada negara lainnya, termasuk AS. Menjawab pertanyaan saya mengapa AS terkesan terlalu campur tangan dengan urusan dalam negeri negara lain, Glick dengan diplomatis berujar, karena memang pemerintahnya peduli. ‘’Mestinya kan bukan hanya pemerintah AS saja yang peduli, tetapi juga negara-negara lain,’’ tambah Glick. Dia mencontohkan betapa pentingnya keamanan di Selat Malaka.

Selat Malaka, dalam pandangan AS bukan hanya milik Indonesia di mana keamanannya hanya menjadi tanggungjawab Indonesia, tetapi juga harus menjadi tanggungjawab semua negara. Kepentingan banyak negara di Selat Malaka harus menjadi prioritas perhatian, mengingat tempat itu menjadi pintu bagi angkutan laut dalam perdagangan global. ‘’Kalau selat itu tidak terjamin keamanannya dan jatuh pada perompak atau teroris, maka kepentingan perdagangan global akan terganggu,” ujar Glick. Ditanya tentang pandangan masyarakat AS jika ditanya tentang Indonesia, menurutnya pasti akan berpikir soal teroris. Padahal diakui Glick, teroris bukanlah mayoritas dilakukan oleh orang Indonesia. Namun demikian, Glick optimis Indonesia akan menjadi negara yang maju dan diperhitungkan baik di tingkat Asean maupun dunia. Peran Indonesia akan semakin strategis dalam banyak aspek, terutama di Timur Tengah. Sebagai anggota PBB, Indonesia punya peran penting dan bisa lebih terus tingkatkan lagi di masa-masa yang akan datang. ‘’Saya harap Indonesia akan menjadi leader di negara-negara Aean, walau belakangan ada penurunan soal itu,’’ tambahnya. Berbicara soal Iraq, mengapa AS berkorban demikian besar, Glick lagi-lagi berujar karena negaranya peduli.

”Sebagai pejabat pemerintang AS, saya katakan karena memang kami (AS) peduli untuk keamanan global,” tandasnya. Saya sempat bertanya banyak hal, termasuk upaya AS membangun komunikasi dengan negara-negara Islam soal sikap mereka dan imej negara-negara Islam terhadap sikap mereka. Dia mengakui itu memang tidak mudah, sebab di kalangan negara-negara Islam sendiri pun, masih beda soal ini. Saya katakan ada persepsi umum di Indonesia bahwa Amerika anti Islam, tetapi Glick menjawab bahwa sulit dibedakan kalau tindakan mereka itu adalah untuk memberantas teroris dan bukan memusuhi muslim. ”Ada ekstremis dan teroris yang kami berantas, bukan memusuhi Islam,” katanya lagi. Saya menjelaskan, umat muslim di Indonesia juga tidak terlalu sepaham dengan serangan-serangan orang yang kemudian disebut teroris ini. Sebab terlalu banyak yang dirugikan, termasuk masyarakat Indonesia sendiri. Saya yakinkan Glick bahwa masyarakat muslim Indonesia bukanlah teroris dan tidak suka dengan tindakan teroris. Dia sangat bisa memahami hal ini dan diakuinya Indonesia harus terus membangun imej di dunia internasional. Glick sangat memahami kesulitan pemerintah Indonesia dalam membangun negeri yang besar tersebut. ‘’Tetapi saya memberikan apresiasi terhadap kemajuan yang telah dicapai Indonesia,” tambahnya.***

 

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top