Connect with us

Ketik yang Anda cari

Olahraga & Kesehatan

Pasien Dugaan Flu Burung Tersisa Dua Orang

       Setelah dua pekan merebak dan meresahkan masyarakat Kota dan Kabupaten Bima, secara perlahan kasus dugaan (suspect) penyebaran virus flu burung mulai mereda. Hingga Jumat (16/3) lalu, dari 13 pasien dugaan flu burung yang telah dirawat, kini  di RSUD Bima tinggal dua orang. Mereka saat ini tengah menjalani perawatan pemulihan di ruang pemulihan RSUD Bima.

          

Ketua Komite Medik RSUD Bima, dr. Muhammad Ali, Sp.PD, menjelaskan kasus yang ditangani RSUD Bima ini baru kasus tahap observasi. “Rata-rata pasien dirujuk dengan gejala demam tinggi, batuk pilek dan tinggal di daerah endemik karena itu setelah dilakukan obervasi, pasien-pasien tersebut tidak perlu dirawat di ruang khusus atau isolasi,” jelasnya di RSUD Bima.

           Penanggung jawab dugaan kasus flu burung pada anak di RSUD Bima, dr. Anak Agung Made Widiasa, Sp.A, mengungkapkan jika benar pasien yang ditengarai sebelumnya terjangkit flu burung, secara konsep dalam tiga hari sudah meninggal. “Flu burung itu sangat ganas. Dalam tiga hari pasien akan meninggal dunia, paru-paru kita seperti dimakan, habis dalam waktu tiga hari itu,” ujarnya.

           Dia juga menjelaskan kalau virus H5 ini memang jarang mengenai manusia, tapi kalau N-nya sudah positif, misal N1, maka penyebaran antarmanusia sangat cepat sekali. Dia bersyukur kasus yang meresahkan masyarakat Bima dalam beberapa hari terakhir ini tidak positif terjadi pada manusia.  

           Katanya, bisa dibayangkan risiko penularannya, bisa kepada keluarga pasien yang lain, petugas kesehatan yang merawat, termasuk para pengunjung. Meskipun RSUD Bima telah menyiapkan ruangan khusus, tetap memiliki keterbatasan. 

           Diakuinya, pengalaman menangani kasus  flu burung di Denpasar, memberi banyak pelajaran saat menghadapi kasus dugaan flu burung di Bima saat ini. “Di sana saat itu satu dokter dan dua perawat ikut tertular,” jelasnya.

           Oleh karena itu, menurutnya, untuk memutus rantai penularan flu burung ini diperlukan kerjasama lintas sektoral. Termasuk Bupati dan Wali Kota Bima. Dia mencontohkan dengan kejadian di Bali, untuk memutus rantai penularan virus H5N1, maka seluruh unggas dimusnahkan. Unggas-unggas ini dibeli oleh Pemerintah dengan setengah harga, kemudian seluruh bayi hingga usia 10 bulan divaksinasi influenza. “Setelah itu baru rantai penyakit flu burung ini putus, kasusnya bisa dihilangkan,” ujarnya.

           Mengomentari penurunanan trend pasien kasus dugaan flu burung ini, Direktris RSUD Bima, dr. Hj. Tini Wijanari,  yang ditemui mengatakan kalau RSUD Bima hingga saat ini masih tetap siaga dan waspada terhadap kasus flu burung ini. “Kita di sini tetap harus siaga. Kita tetap mengondisikan tim khusus yang akan bekerja sesuai protap yang kita miliki”, ujarnya.

Tini mengaku meski awalnya ditemui beberapa kendala, namun akhirnya berhasil  menangani pasien dengan baik.  “Kendalanya kita di hari pertama kasus yang dihadapi saat itu terutama ketersediaan ruangan isolasi untuk beberapa orang pasien sekaligus. Sehari kemudian baru kita bisa menyiapkan ruangan khusus untuk enam pasien, plus satu ruangan untuk perawat jaga,” ujarnya.  (BE.20)

 

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

ANDA pernah menginap di hotel? Saya yakin hampir semua. Tetapi kebanyakan itu hotel yang biasa. Umum. Seperti di kota atau di pinggir pantai. Ada...

CATATAN KHAS KMA

APAKAH saya harus senang? Ataukah sebaliknya? Entahlah! Tetapi begini: Waktu saya pertama membangun media di Bima, itu pada 21 tahun lalu, ada yang menyebut...

Hukum & Kriminal

Kota Bima, Bimakini.- Sekretaris Daerah Kota Bima Drs. H. Mukhtar, MH bersama Kasat Lantas Polres Bima Kota, Kepala Dinas Perhubungan, dan Kepala Dinas Kominfotik...

Pemerintahan

Kota Bima, Bimakini.- Sebanyak 17 Kota dan 19 Kabupaten di Indonesia maju ke penilaian tahap II Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) Tingkat Nasional Tahun 2021....

CATATAN KHAS KMA

   ‘’SAYA lebih suka disapa Aishah atau mbak Aishah saja. Tidak perlu title (gelar) saya disebut pak,’’ katanya kepada saya. Iya, tamu Catatan Khas...