Connect with us

Ketik yang Anda cari

Olahraga & Kesehatan

Taklukkan Bima dengan Sepeda (6)

Anggota BBL saat ke Sape

Mulai Off Road

Berhasil menaklukkan Mada Pangga, kami tergoda untuk rute yang lebih panjang. Kami pun merencanakan rute Kota Bima-Pantai Wisata Lakey, Dompu. Jaraknya sekitar 100 km. Untuk rute ini, kami merencanakan menginap semalam bersama keluarga.

 

Rute Mada Pangga, kami latih stamina. Tetapi pelajaran menanjak dan rute-rute off road, belum banyak kami lakukan. Saya sendiri pun belum ada pengalaman sama sekali.

Saya pun tergoda untuk mencobanya. Kejadian ini malah di luar jadwal bersepeda bersama anggota BBL lainnya. Pagi-pagi, saya bersepeda dengan putri saya Raodhatul Jannah Khairudin yang kebetulan pulang libur. Putri saya ini sedang kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya Malang. Dia mengambil jurusan Komunikasi, kelas Bahasa Inggris.

Karena baru bersepeda, dia kecapaian. Secara tidak sengaja saya bertemu dengan Ilham, salah satu anggota BBL. Karena putri saya kelelahan, saya antar pulang dan kembali bergabung dengan Ilham. Kami kemudian menyepakati rute off road. Pilihan kami adalah dari kota ke Pena Nae, Kendo, Nggaro Nangga, Nungga, baru balik ke kota.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Waktu pertama kita sepakati berdua jalur itu, kami buta sama sekali. Termasuk nama-nama dusun yang saya sebut tadi, kecuali nama kelurahannya. Kami mencoba saja dahulu. Di perempatan Penaraga di Jalan Gajah Mada, kami belok kiri menuju Pena Nae. Di situ mulai ada jalan menanjak. Saya mulai belajar menyesusaikan gigi sepeda saya, karena ada pengalaman baru dengan rute asing.

Kami terus ke timur masuk pertengahan kelurahan Pena Nae. Kami sempat masuk lingkungan ke kanan di sudut lingkungan Penan Nae, karena ada duiker yang sedang direhab. Kami kemudian terus melaju ke arah timur sampai perbatasan Kelurahan Pena Nae dan Kendo. Hanya beberapa saat masuk lingkungan di Kelurahan Kendo, jalan beraspal berakhir. Kami coba bertanya kepada warga ke mana arah jalan yang berbatu yang tidak pernah disentuh aspal itu.

‘’Itu jalannya bisa tembus ke Kelurahan Nungga,’’ kata seorang warga yang sedang duduk di jembatan Kelurahan Kendo pagi sekitar pukul 07.12 wita itu. Kami tanyakan apakah kami bisa bersepeda melewati jalan itu, warga tadi mengatakan bisa.

Jujur saja, awalnya saya sangat ragu apakah saya harus melewati jalan ini. Tetapi Ilham yang juga Direktur PT Bima Indo Persada itu memberikan keyakinan kepada saya. ‘’Ayo pak, kita coba saja, kalau gagal kita bisa balik lagi ke jalan ini,’’ ujarnya memberikan keyakinan.

Yang membuat saya agak ragu karena selain jalannya tidak diaspal, begitu kita belok di jalan itu juga menanjak. Kalau saya perhatikan, ini tanjakan dengan tingkat kemiringan yang lumayan buat saya, untuk pertama kali di jalan yang berbatu. Ketika saya masih ragu, Ilham sudah melaju. Dia sudah lumayan jauh meninggalkan saya di jalan tanjakan itu.

Saya pun akhirnya memutuskan untuk mengikutinya dari belakang. Bismilah…. Ini untuk pertama kali juga saya mencoba bagaimana belajar menanjak dengan operan gigi yang tepat. Terus terang beberapa kali saya sempat gagal soal mengelola gigi sepeda saya. Kali ini ada tekad yang kuat agar saya tidak boleh gagal lagi. Kombinasi gigi di awal menanjak saya pasang dua depan tiga belakang, tetapi rasanya masih sulit untuk menanjak. Saya kurangi lagi dua depan dua belakang, masih lumayan berat sampai akhirnya saya coba satu depan satu belakang. Si putih Premier 4.0 milik saya akhirnya mulus menanjak. Ini pengalaman pertama saya menggunakan gigi paling kecil. Dengan komposisi demikian, saya akhirnya bisa mulus menanjak di jalan berbatu itu. Berhasil. Sampai di atas, saya sudah ditunggu oleh Ilham. ‘’Akhirnya bisa pak,’’ kata Ilham yang bercucuran keringat dengan napas terengah-engah.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Kami benar-benar mandi keringat di tanjakan berbatu dan berhasil kami lewati itu. Untuk menunjukkan rasa bangga, kami saling bergiliran foto. Bukan hanya untuk daiabadikan, tetapi juga kami share ke group BBM. Komentar kawan-kawan pun beragam. Mereka ngiler juga ingin melewati rute itu, termasuk beberapa anggota wanita yang biasa kami sebut srikandi. (bersambung)

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

  ‘’SAYA mau tes daya ingat pak KMA,’’ katanya kepada saya suatu waktu. KMA itu, singkatan nama saya. Belakangan, semakin banyak kawan yang memanggil...

CATATAN KHAS KMA

SAYA belum pernah alami ini: handphone tidak bisa dipakai karena panas. Bukan hanya sekali, Tetapi berkali-kali. Juga, bukan hanya saya, tetapi juga dua kawan...

CATATAN KHAS KMA

CATATAN Khas saya, Khairudin M. Ali ingin menyoroti beberapa video viral yang beredar di media sosial, terkait dengan protokol penanganan Covid-19. Saya agak terusik...

Berita

SEPERTI biasa, pagi ini saya membaca Harian  BimaEkspres (BiMEKS) yang terbit pada Senin, 10 Februari 2020. Sehari setelah perayaan Hari Pers Nasional (HPN). Mengagetkan...

NTB

Mataram, Bimakini.- Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah, menaruh perhatian pada penyelenggaraan kegiatan sepeda internasional, Enduro 2020. Pemprov NTB siap mendukung kegiatan...