Connect with us

Ketik yang Anda cari

Peristiwa

Alih Fungsi Trotoar, Pemerintah harus Tegas!

Trotoar yang beralih fungsi.

Kota Bima Bimakini.com.- Sorotan sebagian warga terhadap pemanfaatan trotoar oleh sebagian pedagang atau pemilik toko  untuk menyimpan barang daganganya, hingga saat ini belum  direspons oleh pihak yang berkaitan. Padahal, pemanfatan trotoar yang merupakan milik umum itu dibangun dari uang rakyat. Warga terutama pejalan kaki, sangat merugikan.

Warga Kelurahan Sarae, Abdul Hamid,  menyesalkan lambannya respons pemerintah terhadap sorotan ini, karena  pemilik took dibiarkan memanfaatkan fasilitas umum untuk kepentingan pribadi. Bahkan, pemanfaatan itu telah nyata-nyata merugikan orang lain.

          Dicontohkanya, di kompleks pertokoan Bima sebelah Timur toko bangunan Terimakasih, trotoar sudah digunakan sepenuhnya oleh pemilik took. Warga kesulitan melintas karena tumpukan barang dengan sengaja disimpan di atas trotoar. “Sepertinya pemilik toko itu sudah menganggap troptoar itu bagian dari toko mereka,” ujarnya kemarin di Sarae.

Selama ini, katanya, pejalan kaki harus mengalah dan berjalan di atas badan jalan yang juga banyak kendaraan parkir. Menurutnya, kalau kondisi seperti  it uterus dibairkan, bukan saja menimbulkan kecemburuan sosial, tetapi akan mendidik masyarakat mudah memanfatkan fasilitas umum untuk kepentingan pribadi.

Nah, tidakkah aparatur Pemerintah Kota Bima melihatnya? “Saya yakin aparat juga melihat kok, tapi  justru kondisi ini masih dibairkan,” sorotnya.

Melihat fakta seperti itu, dia malah menduga ada “permainan” antara pemilik toko dengan Dinas yang berkaitan. “Wajar kalau ada masyarakat yang menilai demikian, karena pelanggaran yang nyata di depan mata  dibairkan, “katanya.

          Diakuinya, pemanfaatan trotoar bukan hanya dilakukan oleh pemilk toko dan pedagang di pasar raya Bima, namun juga oleh warga pada sejumlah kelurahan. Terutama yang tempat tinggalnya di pinggir jalan protokol. Banyak ditemui kios warga dibangun di atas trotoar sehingga menganggu pejalan  kaki. Bahkan, ada yang menempatkan pot bunga dan menjadi areal penyimpanan motor.

“Lihat saja di Penaraga misalnya di jalan Soekarno-Hatta. Ada kois di atas trotoar dan taman bunga memanfaatkan trotoar,” ujarnya.

          Dia mengharapkan Wali Kota Bima menegur Dinas yang berkaitan yang tidak mampu bekerja mengamankan wilayah tugas mereka. “Kalau pedagang liar dibongkar, kios dan barang yang memanfaatkan trotoar juga harus ditertibkan,” desaknya. (BE.14)   

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Opini & Sudut Pandang

Oleh: Khairudin M. Ali*) SAYA sebenarnya sudah lama memprediksi dan mengingatkan semua pihak, sebelum ribut-ribut media mempersoalkan kerja sama dengan pemerintah seperti yang terjadi...

Opini

Oleh:Damhuji, M.Pd.,M.A*)   KEMAJUAN sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh bangsa itu sendiri. Kualitas sumber daya manusia sangat...

Pemerintahan

Bima, Bimakini.- Sejumlah jalur trotoar yang seharusnya menjadi tempat bagi pejalan kaki (pedestrian) berubah fungsi. Seperti  di depan pertokoan dan minimarket Hokky, Bolly, Sumber...

Pendidikan

Bima, Bimakini.com.- Program pemberian tunjangan profesi menjadi sorotan 3,7 juta guru di Indonesia. Hal itu setelah munculnya kabar akan dihapuskan oleh Mendikbud Muhajir Effendy....

Pemerintahan

Bima, Bimakini.com.-Sekitar 58 desa di Kabupaten Bima akan menggelar pemilihan kepala desa (kades) secara serentak. Momen Pilkades harus dipandang sama dengan Pemilihan Kepala Daerah...