Connect with us

Ketik yang Anda cari

Peristiwa

Benarkah IMS 2009 Tunjukkan Kabupaten Bima Sakit?

Peserta Lokalatih yang diadakan Yappika dan Acces di kantor Acces, Selasa (10/4). Sebagian peserta memertanyakan hasil IMS 2009 yang menunjukkan Kabupaten Bima “sakit”.

Hasil penelitian yang dilakukan Yappika 2009 tentang Indeks Masyarakat Sipil (IMS) menunjukkan Kabupaten Bima tergolong sakit. Hal itu berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dengan melihat sejumlah indikator masyarakat sipilnya.

Setidaknya data itu, masih mengherankan bagi peserta Loka Latih IMS yang diadakan oleh Yappika dan Acces selama dua hari, Senin (9/4) hingga Selasa kemarin. Bahkan ada yang meragukan hasil analisis sebelumnya.

Khairul Anas dari Solud, memertanyakan apakah itu kondisi riil atau tidak dari masyarakat sipil Kabupaten Bima. Apalagi 2012 ini kembali akan dilakukan risat yang sama. “Hasil riset Yappika tentang IMS di Kabupaten Bima tahun 2009, kita tergolong sakit. Pertanyaannya, apakah ini kondisi riil atau tidak,” ujarnya.   

Keheranan yang sama juga dikemukakan oleh, Husain Laodet, dari Lumbung NTB. “Hasil kemarin kami kaget. Kami bertanya bagaimana menganalisis sebelumnya. Hasil itu masih kami meragukan,” ujarnya.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Untuk itu, peserta Lokalatih yang melibatkan tim inti Forum Lintas Aktor (FLA) dari, BAPPEDA Kabupaten Bima, Humas Setda Bima, LP2DR, Solud, Aisyiyah, pers serta Yika.

  mendapat bimbingan bagaimana proses menghasilkan dan menganalisis  data untuk mengukur IMS. Harapanya pada risat mendatang, Kabupaten Bima tidak masok golongan sakit lagi, disbanding daerah lainnya.

Ahmad Yani, sebagai trainer pada Lokalatih, mengatakan memang tidak mudah untuk bisa menghasilkan data. Terpenting bagaimana memahami alur kerja sehingga memeroleh hasil yang baik.

Data itu senditi, kata dia, dapat diperoleh dari hasil kutipan berita, laporan kegiatan, dan cerita sukses pelaku. Hasil laporan dan kutipan berita yang menunjukkan kegiatan masyarakat sipil Kabupaten Bima, dianalisis dan dikelompokkan dalam empat dimensi, stuktur, nilai, lingkungan, dan dampak.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Analisis data yang dihasilkan oleh peserta, akan dibawa pada Lokakarya Penilaian IMS 2012 yang rencananya dilaksanakan akhir Agustus mendatang. Peserta pun pada pelatihan hari terakhir diminta untuk menganalisis data yang diperoleh.

Berita yang dimuat di media, menjadi salah satu sumber untuk melihat bagaimana tindakan atau kegiatan masyarakat sipil disuatu daerah. Isi berita bisa menujukkan dimensi tindakan masyarakat itu sendiri. Apakah mengarah ke dimensi struktur, dampak, nilai, dan lingkungan.

Hasil presentasi peserta yang dikelompokkan berdasarkan dimensi Dampak, Struktur, Nilai, dan Lingkungan rupanya masih butuh penyempurnaan. Diharapkan setelah kegiatan itu ada tindaklanjut, sehingga data yang dihasilkan lebih baik.

“Apa yang dihasilkan saat ini akan saya teliti dan menambahkan jika masih ada yang kurang dan hasilnya dikirim ke peserta,” ujar Ahmad Yani. (BE.16)

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait