Ekonomi

Diakui BBM Subsidi untuk Suplai PLTU Bima

Kota Bima, Bimakini.com.-

Sejumlah warga dan pemilik pangkalan minyak di so Nggela Kelurahan Jatiwangi dan lingkungan Bonto Kelurahan Kolo Kecamatan Asakota mengaku kerap menyuplai Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi untuk kebutuhan kegiatan konsorsium pelaksana pembangunan Pembangkit Listrik
Tenaga Uap (PLTU) Bima.

Sumber Bimakini.com di Bonto Kelurahan Kolo,  mengatakan, sejak awal beroperasi konsorsium PLTU Bima, PT Moca selalu membeli BBM bersubisidi, terutama jenis solar pada pangkalan di Kelurahan setempat. Pada sisi lain kondisi tersebut menyulitkan warga terutama nelayan, pemilik kapal motor di bawah 30 GT yang biasa menggunakan solar. “Akibat konsorsium PLTU sering ambil minyak, nelayan sulit mendapatkan bahan bakar, kecuali harus ke stasiun pengisian. Perusahaan itu baru berhenti ambil BBM bersubsidi setelah kasusnya mencuat di koran,” kata sumber di Bonto, Sabtu lalu.

Diharapkannya aparat dan Diskoperindag menelusuri fakta tersebut dan menindak tegas jika memang melanggar ketentuan pemerintah. “Menurut saya aneh perusahaan gunakan BBM subsidi, padahal kelasnya industri,” katanya.

Diungkapkannya, sejumlah pengecer dan pangkalan BBM di Bonto kerap menimbun bahan bakar dan hanya melayani pembelian kategori banyak, karena lebih menjanjikan keuntungan. “Setelah BBM dicor, misalnya minyak tanah, sering tiba-tiba langsung habis, padahal yang didrop
cukup banyak, ternyata memang ditimbun sejumlah pengecer di sini, kami harapkan Dinas terkait menelusuri ini,” harapnya.

Pada bagian lain, Sumber Bimakini.com di lingkungan so Nggela Kelurahan Jatiwangi, mengungkapkan, sebelum kasus penggunaan BBM bersubsidi untuk industri mencuat  di koran, PT Moca kerap membeli bahan bakar jenis solar pada pangkalan di lingkungan setempat. “Hampir setiap hari sering ambil di pangkalan di sini, kadang satu atau dua drum,” katanya Sabtu lalu.
Sub-Manager PT Moca, Agus Priyo, membantah pernah membeli atau menggunakan BBM bersubsidi. “Tidak pernah, sejak awal operasi hingga sekarang kami selalu menggunakan BBM industri. Kalau tahun 2008 belum mulai operasi,” katanya.

Diakui Agus, kegiatan preparasi seperti land and clearing pembangunan PLTU Bima dimulai Tahun 2009, namun sejak saat itu perusahaan konsorsium utama pembangkit setempat sudah menggunakan BBM kategori industri, termasuk untuk kebutuhan alat berat, excavator, dozer, wheel loader, stone crusher, dan mesin penggerak grizzly. Jumlah estimasi penggunaan BBM per hari tidak mencapai 500 ratus liter. “Bahan bakar yang kami gunakan tidak seberapa, karena bergantung operasi, kalau saat tidak beroperasi berarti tidak ada bahan bakar yang digunakan,” katanya.

Agus mengaku sudah menghentikan penggunaan batu dan pasir yang diambil di lingkungan Bonto untuk kebutuhan PLTU. “Semuanya sudah kami stop, bisa dicek sendiri,” katanya. (BE.17)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
To Top