Connect with us

Ketik yang Anda cari

Hukum & Kriminal

Istri drg Yun Anggap Suaminya Diculik Densus

Kota Bima, Bimakini.com.- Hingga Rabu (17/4) siang, Dwi Endah S, istri drg, Yun yang ditangkap tim Detasemen Khusus 88 Anti-Teror Mabes Polri Jumat (13/4) sore lalu, belum mengetahui keberadaan suaminya. Pihak Kepolisian dan Densus 88 pun, diakuinya, belum memberitahu secara resmi kepadanya sehubungan dengan kejadian itu.

Namun, ada satu hal yang ditegaskannya. Dwi menilai, kejadian yang menimpa suaminya itu bukan penangkapan, melainkan penculikan. Alasannya pihak Kepolisian dan Densus 88 tidak memberitahukan resmi atau menyerahkan surat penangkapan kepadanya. Dia menganggap, Densus 88 tidak memiliki itikad baik, karena tidak menghargai orang-orang yang berada di rumah sebagai keluarga drg. Yun.

“Kejadian itu bukan penangkapan, tetapi penculikkan karena tidak ada pemberitahuan dan tidak ada surat penangkapan. Saya harap Polisi memberitahu keberadaan suami saya,” ujar Dwi di kediamannya, Kelurahan Pane, Rabu.

Diakuinya, untuk mencaritahu kabar dan keberadaan suaminya, telah menghubungi tim pengacara Muslim di Jakarta, Ahmad Midan dan rekannya. Pasca-penangkapan suaminya itu, Dwi mengaku hanya mendapat informasi dari internet.

Mengenai pemberitaan suaminya ditangkap karena menyembunyikan rekannya dr. Kam, seperti tudingan  pihak Kepolisian sebelumnya, Dwi membantah dan mengelarifikasinya. Dia tidak mengetahui masalah dr. Kam. Hanya mengetahui yang ditangkap bersamanya itu adalah Ridho asal Jakarta, bukan dr. Kam.

Dijelaskannya, Ridho dari Jakarta datang ke Bima sekitar setahun lalu. Suaminya mengenal Ridho secara kebetulan saja pada saat acara pernikahan keluarga. Saat itu, Ridho mau berobat, tetapi tidak memiliki biaya. “Karena Bapak orangnya baik, tidak bisa melihat orang susah apalagi sesama Muslim, dia digratiskan,” terang Dwi.

Masih kata Dwi, pertemuan itu berlanjut hingga Ridho meminta pekerjaan kepada suaminya. Karena suaminya dikenal baik dan memiliki naluri membantu, Ridho pun diberi pekerjaan sebagai pegawai administrasi di tempat praktik. Pekerjaannya hanya mencatat pasien yang berobat di ruangan depan. Apalagi, saat itu suaminya tidak memiliki tenaga yang mencatat pasien berobat di ruangan tunggu. “Ridho dikasih pekerjaan tukang catat pasien yang berobat di ruangan depan. Ridho orangnya berpenampilan baik,” tandasnya.

Diakuinya, sekitar enam bulan bekerja di tempat praktik suaminya, Ridho kembali ke Jakarta. Ridho kemudian kembali lagi ke Bima sekitar dua atau tiga hari sebelum ditangkap Densus 88. Kedatangannya itu bersama istrinya untuk mengurus warisan keluarganya. Ridho menginap di rumah mereka untuk sementara waktu sambil mencari kos. 

Dwi juga mengaku  bersama suaminya tidak ada hubungan keluarga samasekali dengan Ridho. Ridho dan istrinya juga diberi tumpangan menginap di ruangan tunggu keluarga, karena dilandasi ingin membantu orang yang kesusahan. “Kalau dituduh menyembunyikan itu tidak benar, karena pasien Bapak banyak Tentara dan Polisi. Ridho juga ditempatkan di depan ruangan tunggu sehingga dilihat semua pasien yang datang berobat,” katanya.

Pasca-penangkapan suaminya itu, katanya, mertua dan ibunya datang ke Bima. Mereka datang sejak Senin (16/4) lalu untuk menemani dan memberi semangat kepadanya menyusul kejadian yang dialaminya. Apalagi, di Bima mereka tidak memiliki keluarga lain.

“Mertua dan ibu saya kaget kejadian ini, karena mereka tahu Bapak itu baik dan tidak bisa melihat orang susah. Kalau lihat orang susah, bawaannya mau nolong aja,” katanya.  (BE.19)

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait