Connect with us

Ketik yang Anda cari

Olahraga & Kesehatan

Menaklukkan Bima dengan Sepeda (8)

Pose sejenak saat ke Kabanta

Geliat Kota Bima membangun saat ini banyak diapresiasai. Jalur kembar di jalan lintas Bima-Sumbawa meski belum tuntas semuanya, sudah dinikmati warga. Gang-gang diperkampungan pun banyak yang juga diaspal. Namun berbeda jika berkunjung ke Kabanta, jalan memang telah lebar, tapi berbatu dan tak mudah melewatinya. Berikut catatan perjalanan Sofiyan Asy’ari, bersama Ir Khairudin M Ali (Direktur Bimeks Group) dan Ilham (Bima Bike Lover).

HASRAT untuk ke Kabanta dengan bersepeda sudah cukup lama. Bahkan telah masuk dalam agenda rute yang akan ditempuh. Memang kami bukan yang pertama menaklukkan jalur Kabanta – Wenggo Penanae. Justru itu pula yang membuat keinginan kami kian besar.

Ada yang menganggap keinginan menaklukkan Kabanta tergolong nekat. Pasalnya, medan yang dilalui cukup parah, apalagi harus tembus hinge Wenggo – Penanae. Jika sudah ada yang bisa, kenapa kami tidak?

Sabtu (28/4) pagi, hari yang kami tentukan untuk berangkat ke sana. Awalnya hanya berdua bersama Direktur Utama Bimeks Group, namun Ilham dari BBL ingin ikut serta. Perjalanan kami ini sebenarnya juga untuk kepentingan pengambilan gambar untuk tayangan “Lambarasa” di Bima TV dengan pembawa acaranya Ir Khairudin M Ali.

Berangkat dari studio Bima TV di Penaraga, kami mengayuh pedal dengan semangat. Keyakinan akan bisa mencapai perkempungan yang penduduknya sekitar 130 Kepala Keluarga (KK) kian membuncah.

Kami mengambil jalur Penanae menuju Kendo dan Nggaro Nangga. Sebenarnya kami bisa saja menuju Kabanta dengan melewati Wenggo  Penanae, tetapi medanya terlalu berat, tanjakan terus menerus. Kami ingin kembalinya melewati jalur tersebut.

Saat berangkat, ban sepeda Ilham kempes. Akan berat jika tidak mengisi ban dengan angin, apalagi rute akan berat. Setelah mengisi angin ban di Penanae, perjalanan dilanjutkan. Tak ada masalah berarti hingga tiba di Kendo. Jalanan mulus, namun baru menemui jalur dengan batu kerikil ketika menuju perbatasan Kendo-Nungga di dusun Kuta.

Tanjakan kecil yang kami temui pertamanya, menjadi pemicu semangat. Suasana pegunungan di sisi kiri jalan dan sawah di kanan, seperti menjadi injeksi tenaga. Udara yang masih segar, jauh dari polusi kendaraan bermotor, meski ada beberapa motor yang berpapasan dengan kami.

Beberapa warga melihat kea rah sepeda yang kami kayuh. Seolah pertanyaan muncul dibenak, hendak kemana gerangan. Tak biasanya ada yang bersepeda melalui jalur itu.

Masih di Nggaro Nangga, kami menjumpai beberapa warga laki dan perempuan sibuk menjemur jagung. Jenis tanaman ini menjadi primadona petani, karena ditahun ini cukup banyak yang menanam. Sebelumnya, hanya Kabupaten Dompu yang mencanangkan program menanam jagung. Petani di Bima pun tak mau ketinggalan ketika mengetahui informasi, bahwa harga jagung cukup lumayan dengan pemeliharaan yang tidak begitu rumit.

Jalur berbatu menuju Nggaro Nangga-Kuta kami “libas”. Keringat pun mulai mengalir, meraba kulit yang mulai basah. Dari wajah pun bulir keringat menetes. Tapi belum seberapa, itu bukan menandakan kami sudah kelelahan. Di ujung Kuta menuju Kabanta, kami dihadapkan pada tantangan pertama, yakni jalan menanjak. Cukup panjang, meski diaspal.

Saya hanya bisa mengayuh hingga pertengahan. Cukup tajam tanjakannya dan agak lurus, tikungannya dibagian ujung. Kami tak ingin memaksa menggenjot sepeda, kami yakin perjalanan masih jauh hingga ke Kabanta.

Seorang bapak dan anaknya berjalan di belakang dan ikut berhenti, ketika kami turun dari sepeda di tengah tanjakan. Dia hendak ke ladang bersama anaknya, melihat jagung yang hendak di panen. “Ada sekitar tujuh kilometer lebih, baru sampai diperkampungan Kabanta,” ujarnya.

Pria ini juga memberi gambaran tentang rutenya yang tak mudah dan terdapat banyak jalur menanjak. Dia heran, ada yang mau ke Kabanta dengan bersepeda. Tersungging senyum di bibirnya, ketika mendengar tekad kami yang akan sampai ke sana, meski jaraknya masih jauh.

Langkah pria dan anaknya yang baru berumur empat tahun lebih cepat dari kami yang mendorong sepeda. Sosok tubuhnya menghilang di balik semak pegunungan. Tiba di ujung tanjakan, kami mengatur nafas. Kami jadi teringat ketika menaklukkan Lelamase, dengan jalur menanjak.

Ada rasa mual di perut. Hal sama juga dirasakan Ilham. Rupanya, kami bertiga tidak fit 100 persen. Semua mengaku kurang tidur. “Tadi malam saya bergadang,” kata Ilham.

Api telanjur berkobar. Tekad sudah bulat. Pantang rasanya mundur di tangah jalan. Semangat ini justru seolah menjadi energi baru bagi kami. Tekanan kaki di pedal sepeda kembali dikayuh, tanjakan satu demi satu dilewati. Meski kami harus istirahat beberapa kali, karena bukan perlombaan untuk cepat sampai atau lomba tepat waktu.(bersambung)

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

CATATAN KHAS KMA

SAYA belum pernah alami ini: handphone tidak bisa dipakai karena panas. Bukan hanya sekali, Tetapi berkali-kali. Juga, bukan hanya saya, tetapi juga dua kawan...

CATATAN KHAS KMA

CATATAN Khas saya, Khairudin M. Ali ingin menyoroti beberapa video viral yang beredar di media sosial, terkait dengan protokol penanganan Covid-19. Saya agak terusik...

Berita

SEPERTI biasa, pagi ini saya membaca Harian  BimaEkspres (BiMEKS) yang terbit pada Senin, 10 Februari 2020. Sehari setelah perayaan Hari Pers Nasional (HPN). Mengagetkan...

NTB

Mataram, Bimakini.- Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah, menaruh perhatian pada penyelenggaraan kegiatan sepeda internasional, Enduro 2020. Pemprov NTB siap mendukung kegiatan...

Peristiwa

Kota Bima, Bimakini.- Nur Kholis, asal Indramayu, sudah lebih enam bulan mengayu pedal dari Sabang, Aceh, hingga tiba di Bima, 1 Januari 2020. Pria...