Connect with us

Ketik yang Anda cari

Peristiwa

Ratusan Guru Ngaji dan Dai/Daiyah Terima Insentif

Bima, Bimakini.com.-Sebanyak 224 guru ngaji dan 76 dai dan daiyah Kecamatan Wawo, Sape, dan Lambu, Kamis (26/4), menerima insentif selama tiga bulan. Penyerahan dana insentif itu dilakukan oleh Bagian Sosial Setda Kabupaten Bima. Insentif itu diserahkan langsung dengan menunjukkan fotokopi Kartu Tanda Penduduk  dan laporan kegiatan selama tiga bulan.

Rinciannya, untuk guru ngaji senilai Rp75 ribu/orang atau totalnya Rp50,5 juta. Untuk dai/daiyah, menerima Rp100 ribu atau totalnya Rp22,8 juta. Dari dana itu, keseluruhannya mencapai Rp73,3 juta. 

Sebelum menerima insentif, mereka diarahkan oleh pejabat Bagian SosialSetda, Ridwanullah, S.Ag. Tertib administrasi itu dilakukan karena Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima sedang menata keuangan sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 32 Tahun 2011. Melalui peraturan itu, dana insentif bukan hanya diarahkan pada penerima bantuan, tetapi juga yang menyerahkan bantuan.

“Kita semua mulai belajar tertib administrasi keuangan, terutama apa saja kegiatan yang telah kita lakukan harus jelas tertulis dalam data dan kegiatan, sehingga dana yang dikeluarkan tepat sasaran,” ujarnya di aula kantor Camat Wawo, Kamis (26/4).

Saat ini, katanya, Pemkab Bima sedang berupaya menambah jumlah guru ngaji dan dai pada setiap desa yang disesuaikan dengan jumlah penduduk. Tujuannya untuk mengajak umat mencintai agama, terutama anak-anak usia sekolah. Jika berlangsung lancer, guru dan dai yang di-SK-an bekerja sesuai tugas dan fungsinya (Tupoksi), maka kegiatan keagamaan padasetiap desa akan berlangsung maksimal.

“Insentif itu belum berarti apa-apa, tetapi dai dan guru ngaji bukan saja melaksanakan amanah pemerintah, tetapi juga amanah Allah dan Rasul-Nya,” katanya.

Kalau guru ngaji dan dai bisa menempati posnya secara maksimal, katanya,  maka semarak kegiatan ke-Islam-an di Bima ini akan maju. Jika lalai menjalankan tugas, dampaknya umat Islam yang  terlihat banyak jumlahnya, tetapi ibarat buih di lautan.

Saat perang Uhud,umat Islam diperintahkan Rasulullah agar tetap berada pada pos masing-masing, terutama pemanah. Jangan tinggalkan pos,meski diterkam serigala, tetapi karena tidak disiplin akhirnya umat Islam kocar-kacir dan gigi Rasulullah patah, sedangkan pejuang banyak yang sahid akibat kelalaian itu.

“Memegang amanah itu sangat berat karena guru ngaji dan dai langsung memegang tiga amanah dari Allah dan Rasul-Nya, dan pemerintah,” katanya. (BE.13)

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

Pemerintahan

Bima, Bimakini.- Guru ngaji, dai’, aparat masjid dan mushalla, Kader Posyandu, Ketua RT, RW, dan lainnya, Jumat (29/10), menerima insentif selama enam bulan dari...

Pendidikan

Bima, Bimakini.- Serikat Guru Indonesia (SGI) Bima menjalin kerja sama dengan penerbit SMI Yogyakarta untuk menerbitkan buku tulisan best practice guru. Pada 7 Februari...

Opini

Oleh: Eka Ilham, M.Si *)   RENDAHNYA alokasi anggaran pendidikan yang disediakan pemerintah negara berkembang, menjadi salah satu alasan klasik rendahnya daya dukung penyelenggaraan...

Opini

Oleh: Eka Ilham.M.Si *)   WACANA mengenai politik pendidikan di Indonesia terbilang cukup asing di kalangan masyarakat awam, bahkan perbincangan mengenai hal ini dianggap...

Opini

Oleh: Eka Ilham., M.Si *)   DI penghujung tahun di awal November ini, pemerintah Kabupaten Bima melaksanakan test  calon kepala sekolah (Cakep). Jumlah pesertanya...