Kota Bima, Bimakini.com.- Ratusan usaha ayam potong di Bima terancam bangkurt, diduga karena ada persaiangan pasar yang tidak sehat. Kenyataan ini sudah berlangsung lama, bahkan lebih dari 100 pengusaha ayam boiler telah tiarap.
Selasa (24/4) pagi, puluhan perwakilan pengusaha ayam potong mendatangi Kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Bima. Mereka meminta adanya perlindungan berupa kebijakan Walikota Bima, mengenai nasib usahanya. Apalagi telah banyak yang gulung tikar, bahkan puluhan usaha ayam saat ini hanya menunggu waktu tutup.
Sekretaris Asosiasi Peternak Ayam Boiler Mandiri Kota Bima, Farid, mengatakan nasib kritis yang dialami pengusaha ayam lantaran adanya dugaan persaingan harga tak sehat. Ada investor di Bima yang diduga menjual ayam dibawah harga pasaran, akibatnya ayam potong milik pengusaha local kalah bersaing.
“Kami tidak mungkin menjual ayam dengan harga yang mereka tetapkan, karena tidak mengembalikan pokoknya,” katanya kepada Bimakini.com.
Diduganya, ada upaya sistimatis yang dilakukan untuk membunuh semua usaha ayam boiler di Kota dan Kabupaten Bima. Ketika hal itu terjadi, maka akan ada monopoli, sehingga dapat memainkan harga. Meski untuk saat ini menjual dengan harga dibawah pasaran.
“Mereka itu perusahaan yang juga memeroduksi pakan dan sekaligus membuka usaha ayam boiler. Sedangkan kami membeli pakan pada mereka,” ujarnya.
Sebenarnya, kata dia, sudah ada upaya pertemuan dilakukan, namun tidak membuahkan hasil. Tawaran pengusaha ayam boiler mandiri, agar harga disamakan, namun tidak diterima. “Alasannya ini pasar global,” ungkapnya.
Jika tidak ada solusi dari pemerintah, kata dia, maka tidak menutup kemungkinan dalam waktu dekat semua usaha ayam di Bima bangkrut. Sementara modal usaha yang digunakan selama ini, pinjaman dari bank. “Kini banyak yang sudah dikejar-kejar dengan bank,” katanya.
Wakil Ketua Asosiasi Peternak Ayam Boiler Kota Bima, Faris, mengatakan pasar ayam potong di Bima saat ini sekitar 5.000 hingga 7.000 per hari. Sempat menawarkan pembagian pasar, namun tidak disetujui.
Upaya sebelumnya, kata Faris, dengan berkoordinasi dengan dinas tehnis, namun tetap buntu. Kini hanya kebijakan Walikota Bima yang diharapkan bisa menyelamatkan usaha mereka. (*)
Ikuti berita terkini dari Bimakini di Google News, klik di sini.
