Opini

Sigi Mbojo: Simbol Religiusitas Muslim Bima, Dulu dan Sekarang

Oleh: Muhammad Adlin Sila

Bima dikenal oleh masyarakat luar dengan masjid kunonya. Sejarah berbicara bahwa Bima dari dulu dikenal religius manakala menyaksikan jejak-jejak keberadaan beberapa masjid kuno di Bima, yang kental cerita keramatnya. Masjid Kalodu, Masjid Nae, Masjid Sultan dan Masjid Agung adalah beberapa yang dikenang masyarakat Bima sebagai jejak awal kehadiran Islam di Dana Mbojo (tanah Bima). Lalu bagaimana cerita masa kini tentang masjid sebagai simbol religiusitas Muslim Bima?

Pertanyaan ini menarik jika membaca surat Dari Redaksi berjudul “Kondisi Sarana Ibadah” pada Harian Bimakini.com  edisi Kamis 26 April 2012, yang menyorot kondisi Masjid Agung Al-Muwahidin saat ini. Ada semacam sikap pembiaran terhadap kondisi masjid yang belum selesai konstruksinya, begitu urai surat tersebut, akan memberi kesan bahwa Muslim Bima kalah dalam hal semangat membangun masjid dibanding Muslim di daerah lain.

Tulisan ini bukan kritik terhadap pemerintah, tetapi semacam kegundahan belaka. Ketika kapal Pelni Tilongkabila yang membawa saya dari Makassar merapat di pelabuhan Bima akhir tahun 2011 lalu, mata saya terpesona oleh keindahan kubah Masjid Agung itu dari kejauhan. Tetapi, itu tidak berlangsung lama setelah saya melihat dari dekat kondisi bangunan yang belum selesai ketika benhur yang membawa saya ke hotel melewati masjid ini.

Jika membaca kembali sejarah, rekam jejak para Sultan dalam sejarah Kesultanan Bima sangat besar andilnya dalam perkembangan Islam, terutama dalam pembangunan masjid. Dimulai dari Sultan Abdul Kahir (wafat 1640), Sultan pertama Bima, hingga Sultan terakhir Muhammad Salahuddin (1917-1951), para sultan dikenal masyarakatnya sebagai orang yang sangat menjungjung tinggi agama serta memiliki ilmu pengetahuan yang luas dalam ilmu agama.

Bahkan, Sultan Muhammad Salahuddin bergelar Ma Kakidi Agama atau orang yang memiliki pengetahuan yang sangat dalam tentang ilmu agama. Hal itu dibuktikan dengan salahsatu karyanya berjudul Nurul Mubin yang dicetak terkahir tahun 1942. Meski dibangun pada masa Sultan Abdul Kadim (wafat 1773), nama Sultan Muhammad Salahuddin diabadikan menjadi nama Masjid Kesultanan kebanggaan Kota Bima saat ini. Masjid ini berhasil dibangun kembali tahun 1990 setelah hancur oleh bom sekutu pada perang Dunia ke II oleh jasa anaknya Dr. Hj. Siti Maryam atau lebih dikenal dengan Ina Kau Mari atau Ruma Mari.

 

Sigi dan Masjid Sultan: Simbol Ke-Islam-an dan Politik Masa lalu

 

Tidak jauh dari asjid Agung, terdapat kampung Sigi di Kelurahan Paruga, tempat dimana Masjid Kesultanan berada. Sigi berasal dari kata Masigi dalam bahasa Makassar yang berarti masjid. Kampung Sigi adalah tempat dimana anak keturunan Rato Gampong yang bertugas sebagai imam masjid dan berasal dari Kesultanan Gowa, Makassar berdiam hingga sekarang. Kampung Sigi dan Masjid Kesultanan sudah menjadi simbol Kota Bima, selain Asi Mbojo dan lapangan Sera Suba.

Sigi Kalodu adalah nama lain Masjid Kalodu. Masjid ini diyakini oleh beberapa kelompok masyarakat sebagai masjid kuno tertua di Bima setelah Masjid Kuno Kampo Nae (Kampung Nae) di Kecamatan Sape. Sigi Kalodu diyakini sebagai tempat persembunyian dan sekaligus masjid bagi La Kai, Jena Teke (putra mahkota) dan pengikutnya dari kejaran lawan politiknya waktu itu.

Masjid Nae didirikan oleh empat mubaligh dari Gowa, Tallo, Luwu, dan Bone, beberapa tahun sebelum Sigi Kalodu dibangun. Salahsatu mubalig itu  bernama Daeng Mangalle, yang kemungkinan dari Gowa atau Tallo.Tiga muballig lainnya tidak diketahui identitasnya.

Saat ini, terdapat sebuah sumur tua yang dikenal oleh masyarakat Sape bernama Temba Romba Sape (atau sumur loyang Sape). Keberadaan sumur itu berkat doa para mubaligh dari Makassar ketika rakyat Sape dilanda kekeringan tahun 1618 M. Masyarakat Sape masih menganggap sumur ini sebagai sumur ajaib. Di sekitar sumur inilah, para mubaligh ini mendakwahkan agama Islam ke segenap rakyat Sape dan sekitarnya. Tidak jauh dari sumur ini, terdapat kampung yang bernama Kampo Guru Gowa (yang sekarang lebih dikenal dengan Kampo Naru) untuk mengenang jasa para mubaligh dari Gowa, Makassar tersebut.

Sigi Kalodu awalnya hanya dikenal sebagai tempat persembunyian La Kai dan para pengikutnya. Lokasinya terletak di dataran tinggi dan berhutan lebat di dusun Kamina. Nama sebenarnya adalah Sigi Kamina, karena berlokasi di dusun Kamina. Disebut Sigi Kalodu karena penduduk generasi pertama dusun Kamina sekarang ini menempati dusun Kalodu. Penduduk yang juga adalah saksi ke-Islam-an sang Sultan berpindah ke dusun Kalodu karena alasan geografis. Dusun Kamina diapit oleh dua gunung (Utara dan Selatan), sehingga menyulitkan penduduk di dusun tersebut untuk menerima sinar matahari.

Jadi kalau ingin melihat keberadaan Sigi Kalodu yang bersejarah itu, datanglah ke dusun Kamina dan bukan ke Dusun Kalodu di Desa Kalodu. Desa Kalodu yang merupakan wilayah Kecamatan Langgudu berjarak lebih kurang 75 Km di sebelah Selatan Kota Bima.

Meski demikian, para ahli sejarah dan masyarakat Bima tetap saja menyebut tempat ibadah kuno tersebut dengan Sigi Kalodu. Saat ini, terdapat 4 tempat ibadah bagi ummat Islam di Desa Kalodu: Sigi Kamina (atau Sigi Kalodu) yang berlokasi di Dusun Kamina, Masjid Al-Hidayah berlokasi di Dusun Kalodu, Masjid An-Nur, Mushala La Kai yang berlokasi di Dusun Sangari dan Mushala Nurul Ilmi yang terletak di Dusun Kalodu. Masjid Al-Hidayah didirikan tidak lama setelah Masjid Kamina pada abad ke 17-an untuk menjadi tempat ibadah bagi penduduk Kamina yang pindah tadi. Sigi Kamina saat ini menjadi cagar budaya.

Tempat ibadah Sigi Kamina oleh masyarakat Bima disebut secara bergantian dengan Sigi Kalodu (Sigi adalah kata pinjaman dari Masigi yang dalam bahasa Makassar berarti masjid). Dua nama tersebut merujuk pada tempat ibadah yang sama. Sigi Kamina atau Sigi Kalodu didirikan sekitar tahun 1621 M (atau 1624) oleh Jena Teke La Kai (setelah memeluk agama Islam bernama Abdul Kahir), bersama beberapa muballig dari Sulawesi Selatan (Goa, Tallo, Luwu dan Bone) dan para pengikut Jena Teke Abdul Kahir (Jena Teke berarti Putera Mahkota).

Sebelum Sigi Kalodu dibangun, Dusun Kalodu merupakan tempat persembunyian Jena Teke La Kai bersama pengikutnya yang terpaksa meninggalkan Istana karena akan dibunuh oleh pamannya yang bernama Salise. Pamannya ini waktu itu menjabat sebagai Raja Bicara atau Perdana Menteri, sedangkan ayah La Kai yang bernama Ruma Mantau Asi Sawo menjabat sebagai Raja ke-26 Kerajaan Bima. Sepeninggal Raja, Salise mengambil alih kerajaan sementara La Kai sebagai Jene Teke (Putra Mahkota) yang masih kecil tidak berdaya untuk menghalanginya. Melalui bantuan Belanda, Salise yang memang berambisi mengambil alih kekuasaan yang semestinya jatuh ke tangan La Kai berhasil menjadi raja meski tidak disetujui oleh Lembaga Hadat Dana Mbojo (Lembaga Pemerintahan Kerajaan).

Pada tahun 1921 M, Jena Teke La Kai bersama pengikut melarikan diri ke Sape untuk menemui para muballig dari Sulawesi yang datang untuk menyiarkan agama Islam serta ingin menyampaikan pesan raja Gowa dan Tallo kepada Raja dan keluarga Istana Bima. Berdasarkan pesan tersebut, pada tanggal 15 Rabiul Awal 1030 H (7 Februari 1621) Jena Teke La Kai bersama pengikutnya memeluk agama Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan para mubalig itu. Sejak itu nama La Kai menjadi Abdul Kahir, Bumi Jara Mbojo menjadi Awaluddin, La Mbilla bernama Jalaluddin, dan Manuru Bata Dompu, Putera Raja Dompu Ma Wa’a Tonggo Dese, bernama Sirajuddin.

Beberapa bulan setelah memeluk agama Islam, Jena Teke Abdul Kahir bersama pengikutnya didampingi para muballig yang menjadi gurunya itu kembali menuju Dusun Kamina untuk mendirikan masjid yang kemudian dikenal dengan Masjid Kamina. Masjid ini selain sebagai tempat ibadah juga menjadi pusat kegiatan dakwah. Mulai saat itu, Dusun Kamina menjadi pusat penyiaran Islam, selain Kampo Sigi (Kampung Sigi) di Desa Nae Kecamatan Sape.

Ini berbeda dengan Kampo Sigi yang berada di Kelurahan Paruga saat ini yaitu lokasi Masjid Sultan Muhammad Salahuddin yang dibangun tahun 1737 oleh Sultan Abdul Qadim Muhammad Syah dan Raja Bicara Ismail sebagai masjid Kesultanan Bima. Masjid ini hancur lebur kecuali mihrabnya akibat bom sekutu tahun 1945 dan dibangun kembali tahun 1990 oleh Ina Kau Mari atau Dr. Hj. Siti Maryam, putri Sultan Muhammad Salahuddin.

Konon, menurut sejarah, La Mbilla berangkat ke Makassar untuk menemui Sultan Alauddin di Gowa, Makassar agar mengirimkan pasukan perang untuk merebut kembali tahta kerajaan Bima yang sedang dikuasai oleh Raja Salise. Sultan Gowa waktu itu menyanggupi dengan syarat La Kai atau Abdul Kahir dan La Mbilla atau Jalaluddin membantu penyebaran agama Islam di tanah Bima (Dana Mbojo). Syarat itu dipenuhi dan berangkatlah La Mbilla beserta bala tentara Kesultanan Gowa ke Bima dan berhasil mengalahkan Raja Salise berserta pengikutnya. Setelah La Kai kembali naik tahta, La Kai atau Abdul Kahir menjadi Sultan pertama Kesultanan Bima dan Islam kemudian menjadi agama resmi Kesultanan Bima pada 18 Rabiul Awal 1050 atau 5 Juli 1640 M. Tanggal 18 Rabiul Awal menjadi hari pelaksanaan perayaan Hanta U'a Pua (perayaan sejarah masuknya Islam dan Maulid Nabi di Bima) dan tanggal 5 Juli menjadi Hari Jadi Bima yang setiap tahun diperingati. 

Karena bangunan kuno tersebut sudah lama hancur ditelan umur,  maka sulit untuk diketahui dengan pasti bagaimana sesungguhnya bentuk bangunan Masjid Kamina atau Kalodu. Menurut catatan Bo (catatan kuno bertuliskan Arab Melayu Kesultanan Bima) yang ada dan wawancara dengan tokoh-tokoh sejarah setempat, bentuk Masjid Kalodu berbentuk segi empat sama sisi (bujur sangkar) dan tidak memiliki mihrab seperti lazimnya sebuah mesjid pada umumnya. Empat sisi yang sama itu merupakan simbol empat orang putera dan keluarga Raja yang memeluk Agama Islam yaitu La kai (Abdul Kahir), Bumi Jara Mbojo (Awaluddin), La Mbilla (Jalaluddin) dan Manuru Bata Putera Raja Dompu Ma Wa’a Tonggo Dese (Sirajuddin).

Selain itu, empat sisi bangunan merupakan simbol daerah asal para gurunya yaitu muballig yang berasal dari Gowa, Tallo, Luwu dan Bone. Tiang bangunan masjid ada delapan, yang berbentuk nggusu waru (segi delapan) merupakan simbol dari empat orang putera dan keluarga istana dan empat daerah asal para mubalig dari Gowa, Tallo, Luwu dan Bone (ada juga yang menyatakan berbentuk persegi 5 dan bertiang dua puluh. Luas bangunan masjid tersebut tidak diketahui kecuali dengan melihat luas bekas bangunan yang sampai sekarang masih ada.

Beberapa pengamat lokal menyimpulkan kalau seandainya La Kai tidak melarikan diri dan berhasil bersembunyi dari kejaran Raja Salise di Dusun Kamina ini, Kesultanan Bima tidak akan berdiri dan dikenal sampai ke penjuru dunia. Praktis Islam juga otomatis tidak akan menjadi agama kesultanan pada saat itu. Oleh karena itu, Sigi Kamina atau Sigi Kalodu layak dijadikan sebagai tonggak awal masuknya Islam di Bima, selain Sigi Kampo Nae di Sape.

 

Sigi Mbojo: Identitas Politik Islam Masa Kini

Nggusu Waruyang tadinya adalah simbol Sigi Kalodu yang bertiang delapan saat ini dikenal pula sebagai delapan prinsip kepemimpinan Bima. Dari zaman kesultanan, Ngusu Waru menjadi syarat mengangkat seorang Sultan. Meski sudah terpilih, perilaku kepemimpinan Sultan, Ruma Bicara, Tureli dan Jenelli, akan tetap dipantau oleh masyarakat apakah konsisten menjalankan Nggusu Waru atau telah melenceng.

Ngusu Waruatau dikenal juga dengan Pote Waru adalah delapan sifat atau kriteria bagi seseorang yang akan dipilih menjadi pemimpin. Kedelapan sifat itu adalah: 1). Sa’orikaina, maja labo dahu (malu dan takut kepada Allah SWT; 2). Dua orikaina, bae ade (memiliki kepekaan spiritual, intelektual dan emosional yang proporsional; 3). Tolu orikaina, mbani labo disa (berani melakukan perubahan atau reformasi); 4). Upa orikaina, limbo ade ro na’e sabar (berlapang dada dan sabar); 5). Lima orikaina, ndinga nggahi rawi pahu (tidak munafik, satu kata dan perbuatan); 6). Ini orikaina, taho hidi (kokoh, berdedikasi tinggi dan berwibawa); 7). Pidu orikaina, di’i woha dou (terpanggil untuk mengambil tanggungjawab); dan 8). Waru orikaina, ntau ro wara (memiliki kekayaan rohani lebih penting dari materi). Ngusu Waru ini telah menjadi pegangan setiap Sultan yang berkuasa di zaman kesultanan dulu.

Meski zaman berganti, Dou Mbojo di zaman modern ini masih menjadikannya sebagai memori kolektif dalam menilai pemimpinnya apakah masih berpegang terhadap Ngusu Waru atau tidak. Karena Islam selalu identik dengan Dou Mbojo, maka dari catatan sejarah, kepemimpinan di Bima di tingkat kabupaten maupun kota diwarnai oleh kebijakan-kebijakan yang bernuansa syariat Islam, terutama setelah era Reformasi. Maka siapapun pemimpin Bima saat ini dan mendatang akan menjadikan Islam sebagai kerangka dasar dalam menyusun program-program unggulan mereka (Muhammad Adlin Sila, Bimakini.com, 10 dan 11 April 2012). Semoga Masjid Agung akan berdiri agung sesuai namanya pada masa mendatang. Siapapun yang sempat bersujud di dalamnya akan takjub dan bangga sebagai masjid kebanggan Kota Bima. Tentunya akan menambah identitas ke-Islam-an Dou Mbojo selain Masjid Kesultanan, Sigi Kalodu dan Sigi Nae.

Wali Kota Bima, HM. Qurais, pada berbagai perhelatan selalu melontarkan “bahasa mundur” dari jabatannya jika dianggap oleh ulama telah melakukan pelanggaran yang tidak bisa ditoleransi.

Semoga pernyataan ini menegaskan bahwa beliau tetap berpegang teguh terhadap Ngusu Waru yang malu dan takut terhadap Allah SWT (maja labo dahu), bersikap proporsional, berani melakukan perubahan (mbani labo disa), dan menepati apa yang sudah dijanjikan sebelumnya kepada masyarakat Bima. Atau dalam bingkai apik sasanti agung, nggahi rawi pahu.

 

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.

Bimakini.com adalah portal berita Bima Dompu Terkini. Bagian dari Bimeks Group.

Alamat: Jl. Gajah Mada No. 46 BTN Penatoi Kota Bima, NTB Tlp: 0374-646840, 08233-9031009, 0853-33143335, 0852-53523401. E-mail: info[at]bimakini[dot]com

APLIKASI ANDROID

Fanpage

Copyright © 2016 Bimakini.com. Portal Berita Bima Terkini.

To Top