Connect with us

Ketik yang Anda cari

Dari Redaksi

UN dalam Sentuhan Agama

Ujian Nasional tingkat SMA/MA/SMK sedang dihelat secara nasional. Beragam upaya telah dilakukan oleh siswa, guru, dan Pemerintah Daerah agar mencapai hasil maksimal. Ya, kita akan menunggu hasilnya sambil memantapkan mental dan kesiapan peserta. Namun, ada yang menarik dari pola menghadapi UN yang dilakukan oleh 86 siswa kelas III Madrasah AliyahAl-HusainyKota Bima.Mereka justru berpuasa, mengosongkan perutnya selama UN berlangsung. Tujuannya agar pikiran mereka berkonsentrasi saat mengisi soal UN.

Selain sebagai bentuk ibadah, juga munajat agar diberikan kemudahan menjawab soal UN. Tekad lulus semua adalah harga mati yang mereka proklamasikan sejak awal. Semoga demikian dan juga bagi sekolah lainnya. Puasa itu tidak hanya dilakoni oleh peserta UN, tetapi juga guru dan Kepala Madrasyah. Puasa masal sebagai ekspresi tawakal setelah memaksimalkan potensi dan upaya.     

Jika menyimak berbagai cerita mengenai kondisi para siswa zaman kini sebelum dan sesaat melaksanakan UN, berbeda dengan  beberapa tahun lalu. Saat itu, beban psikologis tidak berlebihan untuk menghadapi UN, meski waktu itu standar kelulusan mulai diterapkan. Bahkan, tidak pernah dikondisikan seperti halnya perang hidup-mati. Lalu apa yang terjadi sekarang? Fenomena zikir dan doa bersama atau istighosah bisa menjadi refleksi yang sebenarnya merupakan tanda bahwa UN kini telah menghadirkan ketakutan bagi para siswa.

Doa bersama memang tidak ada yang salahnya. Berdoa adalah salah satu keharusan saat menghadapi situasi krusial. Tetapi, sebaiknya kita tak boleh menutup mata kalau dibalik punggung para siswa tersebut, ketika berdoa sebenarnya menyimpan banyak ketakutan dan kekuatiran bahwa masa depan mereka bisa jadi kandas hanya karena UN. Air mata mereka saat berdoa bisa jadi berisi kecemasan, bukan kelegaan.

Maraknya gelaran doa, zikir, dan puasa adalah fenomena meraih untuk ditelaah. Setidaknya, suatu kesadaran  kolektif bahwa Allah-lah tempat pengaduan akhir atas segala daya dan upaya selama ini. Selain itu, kepasrahan manusia sebagai makhluk dhaif.

Iklan. Geser untuk terus membaca.

Ada aspek lain yang memerlukan perenungan mendalam. Pemerintah seharusnya menyadari apakah sudah memenuhi kewajibannya menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas dan terjangkau? Apakah pemerintah telah menjamin bahwa siswa di pelosok Kota dan Kabupaten Bima, ujung Aceh, dan pelosok Papua sudah mendapatkan hal yang semestinya mereka dapatkan agar bisa menikmati pendidikan, seperti halnya kawan-kawan mereka di kota-kota lain? Lalu mengapa saat pemerintah belum bisa memenuhi kewajiban-kewajiban itu mereka justru “menuntut” hal-hal yang seolah-olah semua anak di pelosok negeri sudah siap? (*)

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait