Connect with us

Ketik yang Anda cari

Peristiwa

Wamen ESDM Minta Dibacakan Ayat Kursi

Wamen dan Kadistamben (Foto Abdul Haris/FB)

Bima, Bimakini.com.- Peristiwa meninggalnya Wakil Menteri (Wamen) ESDM RI, Widjajono Partowidagdo, saat hendak menjajal ketinggian Gunung Tambora, cukup mengejutkan publik NTB maupun Nasional. Pasalnya, Widjajono yang hendak menjadikan Tambora sebagai kawasan Geowisata  itu, justru takluk menuju pangkuan Sang Khalik ketika sebelum mencapai puncak. Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kabupaten Bima, Ir Ilham Sabil, Minggu (22/4) pagi satu diantara orang yang menemani Wamen menjajal gunung Tambora itu.

Bagi Ilham, momentum kebersamaannya dengan Wamen ESDM tidak akan terlupakan.  Hal itu karena melihat dari dekat saat-saat terakhir bersama pria sederhana dan bersahaja itu.  Tambora meman eksotik dan menggoda siapa saja, terutama yang hobi alam.

Ilham pun menceritakan pengalaman terakhirnya itu. Sebelum berangkat, Wamen bersahaja dengan rambut gondrong ini sempat disalami  jamaah shalat Jumat yang kagum terhadap kepribadiannya.

Ilham yang khusus diutus Bupati Bima menemani Wamen mendaki Tambora, salam usai takhiyat akhir baru saja selesai. Dilanjutkan dengan doa, Wamen Widjajono duduk di antara shaf warga Dompu di Masjid Raya Dompu. Penampilan Widjajono yang memang begitu adanya, rupanya menjadi perhatian para jamaah. Meskipun tidak terpampang label Menteri di pundak maupun dadanya, Widjajono rupanya dikenali oleh jamaah.

Para warga ini pun, ujarnya, mulai mendekat dan menyalami Pak Wamen. Ada yang muda, tidak terkecuali yang tua. “Mereka mengaku senang kepribadian Pak Wamen yang sangat bersahaja,” ujar lham Sabil di kediamannya.

Namun, siapa sangka sapaan hangat dari warga Dompu ini menjadi salam terakhir dari sebagian kecil warga yang mengaguminya. Selepas dari masjid, rombongan Wamen ESDM mampir pada salahsatu hotel di  Kabupaten Dompu untuk makan siang. Baru menjelang ashar, Wamen beserta rombongan memulai perjalanan menuju kaki Gunung Tambora.

Rombongan Wamen sendiri terdiri dari empat orang, jelas Ilham, selain Wamen, satu orang merupakan staf dan dua kru TV One yang sengaja ikut mendaki. Dari Kabupaten Bima yang ikut adalah dirinya, pejabat Dinas Pertanian, Diskoperindag, satu Pengamat Gunung Merapi Sangiang, satu Pengamat Gunung Merapi Tambora serta enam anggota Pencinta Alam (PA). “Jumlah kami 20 orang,” tutur Ilham. 

Menggunakan Jeep Hard Top, lanjutnya, perjalanan pun dimulai. Wamen dan rombongan baru tiba di Posko 1 sekitar pukul 15.30 Wita. Tidak menunggu waktu lama, rombongan memulai pendakian menuju posko 2. Tingginya sekitar 900 meter dari permukaan laut. Setelah beristirahat, rombongan kembali menempuh jarak 1.500 meter menuju Posko 3. “Kami sampai di Posko 3 sekitar jam 9 malam,” lanjutnya.

Ketika mencapai ketingian 2.250 meter, ceritanya, tanda-tanda akan kepergian Wamen mulai terlihat. Dia mulai terlihat rapuh dan meminta air minum. Wamen memilih beristirahat sejenak. Seorang Pemandu pun memberikan perintah kepada rombongan, jika ada yang ingin melanjutkan disilakan. Sebagian rombongan naik, dan sebagian lagi beristirahat termasuk Wamen. Ilham sendiri melanjutkan.

Rombongan yang melanjutkan baru tiba di puncak sekitar pukul 08.00 Wita. Setelah istirahat, Wamen melanjutkan perjalanan. Namun, ketika hampir mencapai puncak, benar-benar tidak kuat. Ilham yang telah sampai puncak dipanggil turun. Jaraknya sekitar 50 meter.

Saat sampai, kenang Ilham, Wamen terlihat sudah tidak bertenaga. Namun, masih dapat berbicara. Kepada dirinya, Wamen sempat meminta dibacakan ayat Kursi. Permintaan tersebut pun diiyakan dengan dua kali melantunkan ayat Kursi.

Namun, apa yang terjadi, segala hikayat manusia sudah ada takarannya. Usia, jodoh, dan harta sudah ada yang menentukan.  Wamen dipanggil Allah saat itu juga. Namun, kepergian Wamen tidak dikabarkan langsung.

Kepada pendaki lainnya, Ilham justru menyebutkan jika Wamen tengah kritis. Itu dimaksudkannya agar tidak tercipta kepanikan diantara pendaki. Hingga akhirnya Wamen dibawa turun menggunakan tandu buatan dalam kondisi udara dingin yang berkabut.

Berkali-kali helikopter penjemput Wamen berdatangan. Namun, karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk mendarat, jenazah Wamen tidak jadi dibawa. Jenazah Wamen baru bisa dievakuasi oleh helikopter milik PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) di Pos 1.

Selama mendaki, banyak kesan yang ditinggalkan Widjajono. Hal yang paling diingat oleh Ilham yakni kesahajaannya yang tercipta secara alami dan tidak dibuat-buat. Meskipun memiliki jabatan tinggi, Wamen kerap tidak mengindahkan jika dipanggil Bapak. “Saya sendiri nggak direspons kalau dipanggil Bapak,” kenang Ilham.

      Masih menurut Ilham, Wamen datang menjajal ketinggian Tambora karena memiliki misi terhadap gunung yang pernah meletus pada tahun 1815 ini. Selain karena memang sudah menjadi hobi, dalam suatu obrolan, Wamen pernah bertutur jika ingin menjadikan Gunung Tambora sebagai kawasan Geowisata yang bisa dikenal oleh dunia.

Wamen juga ingin membangun sarana dan prasarana jalan yang memadai di sekitar kawasan tersebut. “Untuk dimaklumi, dua tahun lagi merupakan peringatan meletusnya Gunung Tambora,” pugkasnya. (BE.20)

Click to comment
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Hindari komentar bermuatan pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Berita Terkait

NTB

Mataram, Bimakini.- Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah terus memantau dan memerintahkan agar evakuasi warga NTB korban kerusuhan di Papua segera mendapatkan pelayanan dan dievakuasi...

Politik

Bima, Bimakini.com.-   Sejumlah warga di Desa Kalodu Kecamatan Langgudu meminta penuntasan pengaspalan lintas menuju desa setempat kepada pasangan calon (Paslon) Syafrudin- Masykur (Syukur). Permintaan...

Politik

Bima, Bimakini.com.- Pasangan Calon  Wakil Bupati Bima, H Abdul  Hamid dan rombongan, Selasa lalu, mengunjungi  Desa Kowo Kecamatan Sape. Menyisir wilayah Sape Utara itu,...

Hukum & Kriminal

Bima, Bimakini.com.- Aksi mahasiswa di Kecamatan Sape yang memblokir ruas jalan Provinsi NTB, hingga kemarin masih terjadi.   Mereka ngotot agar Pemprov NTB memerhatikan aspirasi...

Peristiwa

Bima, Bimakini.com.- Cagar Budaya Benteng Asakota yang berpindah tangan menjadi milik oknum warga menjadi masalah tersendiri bagi Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bima. Masalahnya, lahan...