Peristiwa

Amplop Kosong, MTQ Sambinae Memicu Protes

Kota Bima, Bimakini.com.-   Warga Kelurahan Sambinae mengeluhkan kinerja panitia terhadap alokasi anggaran penyelenggaraan MTQ. Hal itu menyusul terungkapnya hadiah berupa amplop kosong bagi tiga peserta lomba Kaligrafi Mushaf. Tidak hanya itu, hadiah yang diperoleh dinilai tidak sebanding dengan jumlah anggaran yang terkumpul yakni sebesar Rp44,9 juta dari pemerintah dan swadaya masyarakat.

Informasi yang dihimpun, Rabu (9/5) malam saat penutupan MTQ terjadi keributan karena sejumlah warga, terutama orangtua anak yang menerima amplop kosong, mendatangi panitia. Mereka menyampaikan protes terhadap kinerja panitia. Bahkan, dikabarkan ada yang ingin memberikan tambahan uang kepada panitia sebagai bentuk kekecewaan.

         Ketua Karang Taruna Garuda Kelurahan Sambinae, Ismail, membenarkan kejadian tersebut. Dia kecewa dan menyesalkan kinerja panitia MTQ, terutama dalam mengalokasikan anggaran untuk hadiah para peserta lomba. Pemberian amplop kosong pada tiga peserta anak-anak mata lomba Kaligrafi Mushaf sangat tidak menghargai semangat mereka untuk belajar.

         “Kami sebagai mitra pemerintah kelurahan dalam pembangunan dan sebagai masyarakat sangat kecewa dengan kejadian ini, apalagi pemberian amplop kosong sangat memengaruhi psikologi anak,” ungkapnya di Kelurahan Sambinae, Kamis (10/5).

         Diakuinya, malam itu memang dilaporkan oleh panitia bahwa penggunaan dana dari total anggaran yang terkumpul, yakni Rp25 juta untuk semua keperluan perlengkapan, Rp10 juta untuk hadiah, Rp5 juta disimpan untuk pembinaan kafilah yang nanti akan mengikuti tingkat kecamatan dan sisanya untuk lain-lain.

         Hal yang menjadi pertanyaan besar warga, jelasnya, alokasi anggaran untuk perlengkapan Rp25 juta yang dinilai sangat besar dan mubazir.  Hadiah yang diberikan kepada peserta tidak sebanding dengan hadiah. Seperti, bagi juara satu tingkat anak hanya diberikan Rp30 ribu saja.

         “Sangat tidak masuk akal untuk panggung saja 12 juta, baru MTQ di Sambinae semua panitia juga dibelikan baju batik, sementara peserta hanya amplop kosong,” sesalnya.

         Menyikapi hal itu, katanya, warga akan meminta lembaga independen di Kelurahan agar mengaudit semua alokasi pengunaan anggaran tersebut. Begitu pun Karang Taruna akan menelurusinya. Jika nanti ditemukan penyimpangan, maka pihak yang berkaitan diminta bertanggungjawab.

         Orangtua anak penerima amplop kosong, Sofyan Hadi, mengaku awalnya tidak mengetahui sebelum diberitahu istrinya. Anaknya, Baiti Samsina, yang mengikuti lomba Kaligrafi Mushaf meraih juara tiga bersama dua temannya. Ketiganya mendapat amplop kosong.

         “Saat saya menanyakan hal itu kepada panitia, mereka hanya menjawab karena lalai dan mata lomba yang diikuti anak saya sudah dicoret,” ujarnya.

         Dia tidak habis pikir kalau memang alasan itu dicoret, sebab sejak sekian tahun diadakan MTQ di Sambinae justru mata lomba Kaligrafi Mushaf yang menjadi andalan karena selalu lolos hingga ke tingkat Kecamatan.

         Hal lain juga diungkapkan Ketua RT 01, Adnan. Katanya, sumbangan untuk tambahan anggaran MTQ selain dari Pemerintah Kota Bima,  sudah  ada penetapannya. Uuntuk pejabat eselon III dan IV, menyetorkan Rp150 ribu, PNS suami dan istri Rp250 ribu, pensiunan PNS Rp50 ribu dan masyarakat umum Rp10 ribu. Total yang terkumpul senilai Rp44,9 juta. (BE.20)

Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top