Opini

“Bupati dan Sekwilda” itu Menyebalkan!

Oleh Muhammad Fikrillah

Sejak dua tahun lalu, bersama keluarga tinggal di areal perumahan baru, Santi II Barat Kota Bima. Dulu areal persawahan, perlahan dan pasti kawasan itu semakin padat. Rumah baru bermunculan. Kos-kosan pun marak. Kami pun berbaur bersama tetangga dan berinteraksi sebagai layaknya makhluk sosial. Idealitas hidup adalah menyatu dengan orang lain dan membangun kenyamanan.

Namun, ada yang mengganjal dalam dinamika kebertetanggaan itu. Kos-kosan di dekat rumah kerap gaduh. Ironisnya, desas-desus yang berkembang karena soal esek-esek, dinamika pacaran, dan perselingkuhan. Berulang kali dalam modus kemunculan yang sama: saat senja merobek ufuk dan malam menjelang. Tengah malam pun pernah.

Pekan lalu, usai shalat Magrib, seorang ibu muda gaduh. Berteriak dan memukul pipi seorang gadis penghuni kos-kosan. Tetangga pun berhamburan. Ada apa? Rupanya, tema kontroversi masih berkutat pada soal asmara. Cinta terlarang yang diduganya melibatkan suaminya. Ibu muda itu mengaku sejak sore mengintip pergerakan penghuni kos-kosan itu. Rasa penasarannya membuncah, karena sang suami meninggalkan rumah sejak siang. Identifikasinya sudah tepat, motor suaminya ada di garasi kos itu.

Namun, batang hidung pria yang telah meluluhlantakkan pertahanan hatinya saat pacaran dulu, tidak ada. Kemana? Dimana? Apa yang dilakukannya? Entahlah! Jadinya, yang tersisa hanya teriakan kepanikan ibu itu tanpa jawaban tuntas. Itu hanya satu insiden. Jika diurut ke belakang, beberapa kali kos itu menjadi news maker dan sudah dibandrol oleh warga sebagai lokasi dengan “penghuni tidak beres”.

Tidak semuanya memang. Saya sudah dua kali meminta Kepala Sat Pol PP Kota Bima meninjau lokasi ketika dua keributan melanda. Namun, percepatan responsnya payah. Mungkin hanya dianggap angin lalu. Hanya Lurah dan aparatnya yang sigap mendatangi lokasi.

Sisi lain yang juga mengganjal adalah polesan pakaian wanita muda para penghuni kos. Norak! Dari aspek normatif dan etika, pakaian model itu hanya mampu dikenakan oleh mereka dengan ketebalan rasa malu yang relatif tipis. Mungkin setipis kulit bawang kali… Mereka sebagian besar mahasiswa kampus dan akademi. Ada yang menduga mereka “memainkan irama” lain. Wallahualam. Soal ini saya tidak mau menjustifikasi.

Fakta yang terlihat, dengan pakaian dan celana mini mereka cuek saja mengendarai motor mengitari lingkungan dan jalur jalan Gajah Mada. Mereka memakai “baju adik”, kata rekan saya. Tonjolan dada yang sengaja diumbar dan celana pendek ketat menggairahkan. Wuih! Jika diukur, lebih dekat pangkal paha daripada lutut. Sorry, hanya sekadar mengira-ngira, karena tidak punya kewenangan mengukurnya he..he..

Biasanya, mereka mendemonstrasikan “Buka Paha Angkat Tinggi-Tinggi” alias “Bupati” dan “Sekitar Wilayah Dada” alias “Sekwilda” pada sore hari. Dua istilah itu dulu akrab dengan kuping publik. Mereka menebar teror pornoaksi. Hal yang bisa dipastikan, mereka telah menggerus karakter sebagai wanita Bima. Jujur saja, bertetangga dengan mereka menyebalkan!

Anak-anak kami dirugikan, karena diracuni pemandangan busuk yang menebar aroma syahwat. Pilihan terbentang. Membiarkannya atau mata jernih anak-anak akrab dengan balutan seronok.

Sabtu (14/4) sore tadi, panorama yang rawan memantik pikiran liar kaum Adam muncul. Seperti hari-hari sebelumnya. Saat menuju mushala mungil, harus mengalah melewati jalur lain demi mengamankan mata. Ya, itu lebih baik ketimbang mata dan pikiran menabung erotisme. Saya tidak ingin terkontaminasi aroma “haram jadah” saat ingin menuju tempat gelaran “sajadah”.

Fenomena pakaian seksi dan ketat muncul di jalanan Dana Mbojo sejak beberapa tahun terakhir. Dulu dianggap tabu, sekarang semakin marak. Jika dulu wanita menaiki motor, saat dibonceng duduk pada posisi samping. Sekarang, bayangkan saja joki yang memacu kudanya di lintasan Horce Racing Panda Kabupaten Bima.

Sejak dinamika pembangunan, teknologi informasi merangsek aspek kehidupan. Kaum muda Bima telah terkontaminasi virus pem-Barat-an yang mendegradasi karakter dan nilai kearifan lokal. Kita pantas prihatin di titik ini. Anda juga kan?

Reduksi nilai moralitas yang menggebrak kaum muda adalah bentuk lain dari kekalahan (sementara) kita dari serangan budaya serbaboleh. Penampilan para aktris di TV juga menawarkan racun lain. Gunungan payudara akrab dengan pemirsa. Paha mulus menjadi menu hidangan sehari-hari. Pornografi dan pornoaksi telah lama merasuki kehidupan kita.

Pemerintah mesti cermat lagi menyaring tayangan bagi publik. Indonesia mesti memiliki karakter sendiri dalam dunia pertelevisian. Meskipun ada chanel lain yang mengumbar kekerasan, pornografi, dan pornoaksi dalam derajat lebih. Setidaknya, ada regulasi dan kriteria kelayakan tayangan yang muncul ke ranah publik. Setidaknya, “Bupati dan Sekwilda” yang menyebalkan itu tidak meneror publik lagi. Saya, Anda, dan juga mata jernih anak-anak masa depan.

Potret lingkungan sekitar, seperti yang digambarkan di atas, menggelisahkan. Bagaimana dengan lingkungan Anda? Mengapa kita hanya diam membisu? Tidakkah ada gerakan masal nan keras yang memeranginya di level regulasi? Ataukah kita semua sedang dalam perjalanan sadar menuju keruntuhan moralitas? Entahlah!

(Pernah dimuat di http://sosbud.kompasiana.com/2012/04/15/bupati-dan-sekwilda-itu-menyebalkan/)

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share
Komentari Berita
Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Kearifan dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA sangat kami hargai.
To Top